Pertengahan tahun lalu, anak kedua kami, putri, akan pameran di Bentara Budaya Yogyakarta, tanggal 26 Juli – 3 Agustus 2025 dalam rangka Gulali Festival. Selain sebagai dosen di sebuah perguruan tinggi swasta di Bandung, juga berprofesi sebagai ilustrator buku anak. Alhamdulillah, karya dia yang submit ke Pameran Ilustrasi Buku Cerita Anak Jepang & Indonesia bernama “Tanem Tanemaki” lolos kurasi.
Merencanakan Liburan Keluarga ke Yogyakarta
Diskusipun dilakukan di grup keluarga, karena dia merencanakan hadir pada pembukaan pameran, sekalian liburan keluarga bersama suami dan putranya.
Saya dan suami pun tertarik lah ikut serta. Kapan lagi liburan bareng ke Yogyakarta, kali ini bukan cuma liburan saja, tetapi karena mau pameran.
Naik apa nih ke Yogya? Paling nyaman naik kereta api, sekalian pengalaman untuk Bara, si anak spesial di keluarga kami.
Itinerary disusun, pesan tiket kereta api, mencari akomodasi, menelisik Google Review aneka kuliner, tempat belanja, rekomendasi wisata, dan banyak lagi.
Rencananya kami berangkat Kamis pagi naik KA Lodaya, pulangnya Senin siang naik KA Malabar.
Di sisi lain, putra sulung yang menyimak chat, rupanya mau juga piknik ke Yogya, sekalian lihat pameran karya adiknya.
Dia pun mengatur jadwal dengan istrinya. Sebagai freelancer dan pengajar, tentunya harus menyesuaikan jadwal, mengatur cuti, dan menyediakan minimal hari pengganti.
Berhubung mereka berdua ada jadwal yang tidak bisa digeser, putra sulung dan istri rencananya menyusul naik bus malam, tiba di Yogyakarta, Jumat subuh. Pulangnya naik bus lagi, hari Minggu siang, karena Senin harus kerja. Mereka berdua ternyata lebih nyaman naik sleeper bus.
Ya beginilah kalau punya anak-anak sudah berkeluarga. Untuk liburan bareng, mengatur jadwal tidak semudah ketika mereka masih anak-anak.
Dulu kan tinggal cari jadwal kapan mereka libur sekolah, bapak dan ibunya mengajukan cuti, der…berangkat liburan.
Tiga Keluarga Tiga Tujuan Wisata
Selama 4 hari 3 malam di Yogyakarta ke mana saja? Ngobrol sana-sini di grup keluarga, ternyata anak-anak punya rencana destinasi wisata masing-masing. Saya sendiri ingin jalan-jalan ke Kotagede, dan sudah daftar walking tour Jogjagoodguide. Sebuah operator walking tour di Yogyakarta.
Tiga keluarga, tiga tujuan wisata deh. Walaupun ada juga saat-saat, kami pergi, kumpul, dan makan bareng.
Mau tahu kami ke mana saja? Begini catatan perjalanan keluarga kami.
Day 1

Kami berangkat naik KA Lodaya Bandung-Solo, berangkat pukul 06.30, tiba di Yogyakarta pukul 12.30.
Setibanya di Yogya, pesan taxi online XL yang cukup lima orang beserta koper, untuk mengantar ke hotel.
Semula rencana saya dan anak perempuan tuh mencari homestay supaya bisa satu rumah sekeluarga dilengkapi dapur.
Setelah dipikir panjang, hotel sajalah. Sudah pasti kamar mandi nyaman, ada air panas, sedia handuk dan amenities. Kamar hotel pastinya ber-AC. Tinggal pilih hotel yang dekat ke pusat kota saja. Alhamdulillah, beberapa langkah dari hotel ada Alfa Midi. Menolong banget, untuk beli pernak-pernik dan terutamanya beli buah.
Makan? Kulineran saja atau pesan go-food.
Kami berdua, sebagai sesama ibu…hum…mosok udah jauh-jauh ke Yogyakarta, masih mikir urusan dapur dan masak. Libur ya libur…
Kami tetap bawa ricecooker kecil, supaya praktis dan berhemat juga.
Malam itu kami cuma kulineran dan tidur cepat, karena sebelumnya habis perjalanan jauh Bandung-Yogyakarta.
Sementara itu dapat berita, anak laki dan istrinya otw ke Yogyakarta.
Ternyata mereka booking sendiri hotel yang berbeda, tapi berseberangan dengan hotel tempat kami menginap.
Mereka booking early check-in, supaya subuh tiba di Yogya, bisa langsung masuk hotel, istirahat dulu, sebelum jalan-jalan sesuai rencana.
Day 2
Rencana saya untuk walking tour dengan Jogjagoodguide ke Kotagede, sesuai jadwal, ada pada hari Sabtu pagi. Jadi hari Jumat ini kami tidak punya acara.
Anak laki dan istri ingin ke Pantai Parangtritis, Hutan Pinus Mangunan, dan Heha Skyview. Mereka sudah booking mobil rental.
Ya sudah, kami ikut deh…
Fix, kami berempat hari ini akan wisata alam. Nanti tengah jalan, cari tempat untuk Jumatan dan makan siang. Kapan-kapan saya tuliskan artikel travel terpisah ya destinasi wisata alam seputar Yogyakarta ini.



Hutan Pinus Mangunan

Anak perempuan, suami, dan anaknya, ke mana?
Mereka rupanya punya rencana untuk melihat pameran di Taman Budaya Yogyakarta. Siang, suaminya mau Jumatan di Masjid Jenderal Soedirman bareng putranya. Anak saya menunggu, ngopi di cafe terdekat. Lalu kulineran menu ala Italia.
Yogyakarta memang kulinernya unik-unik, mulai dari hidangan tradisional, Western, hingga fussion.
Sore rencananya mereka ke ARTJOG 2025, sambung kuliner malam.


ARTJOG 2025
Day 3
Sesuai rencana, Sabtu pagi, saya dan suami naik grab ke Kotagede, dan menunggu teman-teman yang ikut walking tour. Titik kumpul adalah di depan Masjid Mataram Kotagede.
Jalan kaki keliling kawasan bersejarah di Kotagede, dari penuturan pemandu, jadi tahu bahwa Kotagede adalah ibu kota pertama Kerajaan Mataram Islam yang didirikan pada abad ke-16 (sekitar 1586) oleh Panembahan Senopati.
Selanjutnya terjadi perpecahan. Keraton Yogyakarta (Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat) didirikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I pada tahun 1755 (mulai dibangun pada 1756) pasca Perjanjian Giyanti, yang membagi Kerajaan Mataram Islam menjadi Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta.


bareng teman-teman sesama walking tour jogjagoodguide
Siangnya kami janji makan siang dengan anak perempuan sekeluarga di Warung Makan Sego Empal Bu Warno.
Sebelumnya mereka wisata budaya, berkunjung ke Keraton Yogyakarta.

Anak laki dan istrinya ke mana?
Rupanya mereka masih lanjut wisata alam ke Gua Pindul untuk berpetualang cave tubing, yaitu menyusuri sungai bawah tanah menggunakan ban. Di gua tersebut, wisatawan dapat menikmati stalaktit dan stalagmit.

Sore harinya, kami semua berkumpul di Bentara Budaya, menghadiri opening ceremony pameran “Tanem Tanemaki“.
Kebetulan ada keponakan perempuan dari suami yang tinggal di Yogyakarta dan mereka bisa hadir sekeluarga, bersama suami dan kedua putranya.


artist peserta pameran Tanem Tanemaki
Opening ceremony menjelaskan apa itu pengertian Tanem, yang berasal dari bahasa Jawa, artinya menanam. (e-nya dibaca, seperti e pada kata “jelas”). Maka Tanemaki, bahasa Jepang, artinya benih. (e-nya dibaca, seperti e pada kata “beda”)
Inti dari pameran ini adalah memiliki makna yang serupa, yakni keinginan untuk menanam benih yang baik untuk masa depan yang lebih cerah. Terutama benih berimajinasi untuk anak-anak supaya mereka juga punya imajinasi yang luar biasa.
Pameran Tanem Tanemaki ini merupakan perayaan atas imajinasi yang dituangkan melalui karya ilustrasi oleh orang dewasa, namun ditujukan untuk menyebarkan ruang imajinasi bagi anak-anak.
Uniknya, ada performance dari seorang seniman yang memainkan keyboard sambil monolog sebuah dongeng anak Jepang, dengan kepala memakai topeng kertas sesuai karakter yang diperankan. Suasana menjadi meriah karena ekspresi anak-anak yang menonton.


Setelah opening ceremony, kami pun masuk ke ruang pameran dan melihat berbagai karya kolaborasi seniman Indonesia dan Jepang.
Foto-foto suasana pameran, lanjut makan malam bareng di seberang Bentar Budaya.



Watashi Ha Nyanko! (Aku adalah si Meong), karya Diani Apsari


Anak laki-laki dan istrinya ternyata sekalian meeting dengan timnya. Mereka berdua punya side hustle sebagai virtual assistance, memanfaatkan ke Yogya untuk kopdaran.
Day 4
Hari Minggu, merupakan hari terakhir anak laki-laki dan istrinya di Yogyakarta, karena siang harus kembali ke Bandung.
Akhirnya kami memilih jalan menyusuri Malioboro, beli gelato, makan gudeg Bu Wiji, lalu wisata belanja mampir ke Hamzah Batik.

Kira-kira pukul 11, anak laki-laki pamit, mau check-out, lalu ke Terminal Bus.
Sedangkan kami masih lanjut jalan-jalan.
Anak perempuan pengen cari kebaya vintage di Pasar Beringharjo. Tempatnya di gedung belakang, melalui lapangan parkir, naik ke lantai 3, menyusuri penjual alat-alat dapur. Sampailah ke los Chandra Kebaya Nenek.
Happy banget dia, sekalian jastip, temannya ada yang pesan juga.

Selepas mencari kebaya, kami masih lanjut mengunjungi Museum Benteng Vredeburg. Museum ini tampak apik dan bersih setelah renovasi. Di dalamnya ada beberapa gedung Diorama, dari Diorama 1 hingga Diorama 4.
Siang itu panasnya bukan main, sehingga selepas mengunjungi museum, beli cokelat dingin dari Cokelat Monggo. Brand cokelat terkenal di Yogyakarta yang membuka toko kecil dan cafe di depan museum.


Pulang ke hotel, istirahat sebentar, malamnya kami kuliner Bakmi Jawa Pak Pele dekat Alun-alun Utara.
Sesampainya di hotel, siap-siap packing deh, karena besok mau pulang ke Bandung.
Penutup
Kami mendapat berita bahwa anak laki-laki dan istrinya baru masuk Bandung lewat tengah malam, katanya macet di perjalanan.
Sementara itu, Senin pagi, anak perempuan masih sempat jalan pagi dan membeli bakpia dari pembuatnya langsung tak jauh dari hotel.
Pukul 10 kami siap-siap check out, pesan grab XL untuk mengantar kami menuju Stasiun Tugu dan menanti kereta api Malabar pukul 11.30.
Tiba dengan selamat di Bandung selepas Magrib.

Nah, itulah catatan perjalanan kami sekeluarga ke Yogyakarta. Seru, singkat, acara padat, perut kenyang, mendapat pengalaman luar biasa, dan silaturahmi dengan keluarga keponakan.
Kadang mencar, kadang ngumpul, kerja juga, liburan juga, semua happy dan tetap guyub.
Semoga tahun 2026 ini kami bisa mengulang lagi piknik sekeluarga ke Yogyakarta dengan destinasi berbeda, mungkin sama polanya, wisata alam-budaya-sejarah-belanja-kuliner.
Semoga anak-mantu ikut pameran lagi deh, jadi kami kan punya alasan ke Yogya…


