Sejak beberapa tahun terakhir saya sering ikut beberapa grup walking tour atau city tour, yaitu grup yang berkegiatan berjalan kaki menyusuri kota. Waktu itu sebagai pengajar di jurusan Teknik Arsitektur, melalui jalan-jalan seperti ini, menambah wawasan saya tentang kota atau bangunan bersejarah.
Maka ketika ada info Pelesir ke Lembang, saya langsung mendaftar ingin ikut. Sebenarnya grup ini berangkat dari Jakarta naik bus wisata, dan telah ditentukan titik kumpul di Alun-alun Lembang.
Berhubung saya dari Bandung, maka lebih praktis berangkat ke Lembang naik kendaraan umum. Sedangkan pulangnya saya bisa ikut rombongan menuju Bandung, sebelum mereka masuk tol kembali ke Jakarta.
Letak Kota Lembang
Lembang adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, yang terkenal sebagai destinasi wisata dataran tinggi populer (1.300-2.000+ mdpl) dengan suhu sejuk sekitar 17-24 derajat Celsius.
Terletak di utara Bandung, Lembang menawarkan objek wisata alam, kuliner, serta agrikultur seperti teh dan stroberi, dengan titik tertinggi di Gunung Tangkuban Perahu.
Dulu ketika anak-anak masih kecil, beberapa kali ke Lembang untuk sekadar makan siang di sebuah restoran favorit, atau wisata di sekitar kota Lembang.
Lembang mudah dijangkau dari Bandung, namun sering mengalami kemacetan parah saat akhir pekan atau hari libur. Terutama sejak banyak destinasi wisata dikembangkan di sana, misalnya Farmhouse Susu Lembang, Floating Market, The Great Asia Africa, Maribaya Hot Springs, Lembang Zoo, Lembang Wonderland, dan bermunculan berbagai restoran dan cafe.
Nama Lembang berasal dari kata Sunda “ngalembang” yang berarti genangan air, merujuk pada kondisi geografis wilayah tersebut. Lembang sering menjadi pilihan favorit untuk liburan keluarga karena suasananya yang segar dan banyaknya pilihan tempat rekreasi kekinian.
Kota Lembang luasnya 2.090,37 km2 dan menurut data kependudukan tahun 2022 hanya 199.756 jiwa. Tetapi letaknya yang berbatasan dengan kota Bandung serta berada di kawasan Kabupaten Bandung Barat ini sering rancu dengan berbagai objek wisata di sekitarnya.
Bahkan orang-orang luar kota Bandung menganggap wisata Lembang merupakan wisata Bandung. Atau sebaliknya, berbagai objek di Kabupaten Bandung Barat, masyarakat sering mengira terletak di kota Lembang.
Itu sebabnya lalu-lintas menjadi padat karena orang yang berwisata membuat kota Lembang menggunakan bus-bus, travel, maupun mobil pribadi yang berkunjung ke kota ini.
Menuju Lembang
Setelah saya mendaftar ke Eat-Chat-Walk, operator yang menyelengkarakan Pelesir ke Lembang, maka kami pun dikumpulkan dalam grup WhatsApp. Menyimak grup ada 30 peserta dan 3 admin, sedangkan saya merupakan satu-satunya peserta dari Bandung.
Saya memutuskan naik angkot saja dari Bandung. Menyupir sendiri selain melelahkan, kembali lagi ke Bandungnya pasti macet, apalagi waktu itu hari Sabtu.
Menurut admin grup, rombongan Jakarta akan tiba di titik kumpul di Masjid Agung Lembang, pukul 08:00-08:30. Memperhitungkan jarak dari kota Bandung 42 km dan sekitar satu jam perjalanan naik mobil, kalau naik angkot, ancer-ancer mungkin memerlukan waktu dua kali lipat.


Rute angkot dari Buahbatu ke Lembang:
- Jalan kaki dari rumah ke jalan Buahbatu
- Angkot Buahbatu-Kebon Kelapa, turun Universitas Lalangbuana
- Angkot Kebon Kelapa-Ledeng, turun terminal Ledeng
- Terminal Ledeng-Lembang, turun Masjid Agung Lembang/Alun-alun
Saya berangkat sekitar pukul 06:00 dari rumah. Lalu-lintas tidak terlalu padat, sampai di jalan Setiabudi, supir angkot menanyakan apakah saya mau masuk ke Terminal Ledeng atau di tepi jalan saja.
Berhubung mau lanjut ke Lembang, dan kebetulan ada angkot yang sedang ngetem, maka saya bisa langsung saja naik angkot.
Perjalanan pun lancar, saya turun di depan Masjid Agung Lembang, sekitar pukul 07 pagi. Cukup waktu untuk keliling bangunan, foto-foto dan mengamati lingkungan sekitar.
Itinerary Pelesir Ke Lembang
Pagi itu matahari bersinar cukup cerah, walaupun angin bertiup terasa dingin. Sebagai blogger yang masih mengasah menjadi content writer, hadir di suatu tempat baru, pastikan mendokumentasikan dan mencari informasi tentang lokasi tersebut.
Berikut adalah itinerary Pelesir ke Lembang antara lain sebagai berikut:
- Kumpul masjid raya lembang
- Sarapan bubur/ mie kocok
- Pendopo
- SMPN 1 Lembang
- Eks peternakan bangsa Boer
- PDAM dan pecinan
- Karmel (galeri)
- Sunny home
- Wisata kuliner Karmel
- Baru ajak (Piknik Kopi) – Makan Siang
- Bolu Susu Lembang (oleh-oleh)
Masjid Raya Lembang



Masjid Raya Lembang terletak di barat Alun-alun Lembang, yang waktu itu ramai warga Lembang berolahraga pagi. Saya pun melihat-lihat ke dalam masjid, yang sepertinya akan ada acara akad nikah di sini. Masjidnya sendiri cukup megah dengan kubah berwarna keemasan.
Sambil menunggu rombongan walking tour dari Jakarta, saya pun berjumpa dengan Teh Malia, pemandu kami nanti. Teh Malia, asli Lembang, peneliti dan penulis buku tentang Lembang. Artikel-artikelnya tentang Lembang, bisa dibaca di website bandungbergerak.id. Kami berbincang hangat, melepas kangen, setelah beberapa tahun tidak bertemu, mengenang beberapa walking tour tahun-tahun sebelumnya di grup yang berbeda.
Kira-kira pukul 09:00 rombongan baru tiba, diseling dahulu sarapan terlebih dahulu dengan pilihan bubur ayam atau mie kocok di seberang Alun-alun.
Setelah beres sarapan, kami pun bergegas menuju Alun-alun untuk mendapatkan paparan lengkap tentang Lembang dari Malia, yang bernama lengkap Malia Nur Alifa.
Jauh sebelum terbentuk Republik Indonesia dan sebelum pemerintah Hindia Belanda, Lembang secara historis merupakan bagian dari wilayah kekuasaan Kerajaan Sunda, khususnya pada masa Kerajaan Pajajaran (abad ke-15 hingga ke-16). Wilayah Lembang terletak di utara Bandung dan merupakan kawasan tua yang sudah ada sejak zaman kerajaan.
Masjid Agung Lembang yang sekarang berdiri megah bukan merupakan masjid asli zaman dulu, tetapi sudah mengalami pembangunan kembali dan renovasi. Tidak ada jejak dokumentasi sebelumnya dan menurut penjelasan Malia, masjid hancur karena dibom Jepang.
Kemungkinan masjid ini pertama kali dibangun pada tahun 1940-an dengan bahan sederhana, berupa kayu dan atap sirap, layaknya masjid tradisional di masa itu. Bukti keberadaan masjid ini bahkan terekam dalam peta yang dibuat oleh biro Van Hoofd Hep dari Pemerintah Hindia Belanda pada tahun yang sama.
Alun-alun Lembang


alun-alun lembang dan grup walking tour menyimak penjelasan pemandu
Hampir semua kota di Indonesia ada Alun-alunnya, sebagai ruang terbuka dan untuk bersosialisasi warganya. Beberapa kota menerapkan Catur Gatra Tunggal, yaitu konsep tata ruang dan filosofi tradisional Jawa yang menyatukan empat elemen pusat kota—Keraton (politik), Masjid (religi), Alun-alun (sosial), dan Pasar (ekonomi)—menjadi satu kesatuan yang utuh.
Alun-alun Lembang tidak besar, terletak tepat di utara jalan utama di kota ini. Sisi barat terdapat masjid, kemudian di utara ada beberapa bangunan. Sisi selatan dibuat semacam tempat duduk berundak, sehingga kita bisa memandang kesibukan warga di alun-alun.
Lantai alun-alun berlapis rumput buatan hijau dan sisi selatannya dilengkapi dengan bangku-bangku taman.
Gedong Arca

Setelah dari alun-alun, Malia mengajak kami menyusuri jalan Raya Lembang menuju Indomaret, kemudian belok ke kiri, menapaki jalan kecil.
Tampak sebuah bangunan tua di kiri jalan. Inilah Gedong Arca.
Rumah tersebut beberapa tahun lalu sempat menjadi sebuah restaurant, namun kini terbengkalai setelah tidak difungsikan akibat pandemi Covid 19.
Tiang bangunan di rumah tersebut masih berdiri kokoh, namun beberapa plafon di setiap ruangan sudah menghitam dan rapuh karena atap yang bocor.
Kami bisa masuk ke dalam, dan melihat-lihat ruang demi ruang. Di ruang depan tampak dua pilar kembar kiri-kanan. Konon kemungkinan sebagai penanda penganut aliran Freemason pada zaman Hindia Belanda.
Dinamakan Gedong Arca, konon, pernah ditempati oleh keluarga Tionghoa, yang dibagian terasnya terpasang arca yang diduga patung dewa Syiwa.

SMPN 1 Lembang

Setelah sekadar berfoto di depan Gedong Arca, kami kembali menyusuri jalan yang sama dan tiba di samping SMPN 1 Lembang. Kami pun masuk ke dalam, melihat kondisi bangunan yang dulunya disebut Gedong Luhur, karena posisi gedung utamanya berada di ketinggian.
Menurut penuturan Malia, dulunya alumni SMPN 1 Lembang, sehingga hafal betul dengan kondisi sekolah dan kisah sejarah di baliknya.
Tidak ada data kapan gedung ini dibangun, tetapi informasinya dimiliki oleh keluarga Belanda dan dipakai sebagai rumah pribadi.
Ketika Jepang datang, keluarga pemilik rumah sudah kembali ke Belanda untuk menyelamatkan diri, sehingga kemudian dipakai para perwira angkatan laut Jepang.
Di teras tangga gedung utama, kami menyimak pemaparan Malia, yang saya baru tahu, bahwa dalam senyap Jepang sebetulnya sudah datang di awal tahun 1900-an. Walaupun aslinya laksamana laut di negara aslinya, orang Jepang ini menyamar menjadi pedagang telur untuk memata-matai.


SMPN 1 Lembang sekarang
Ketika pasca kemerdekaan pun sempat dipakai sebagai tangsi militer, dan tahun 1965 barulah dipakai sebagai gedung SMPN 1 Lembang hingga sekarang.
Eks Peternakan Bangsa Boer

Lanjut…
Ke luar dari jalan samping SMPN 1 Lembang, kami pun lanjut menyusuri trotoir yang juga menjadi tempat jualan pedagang kaki lima.
Beberapa peserta menyempatkan mencoba aneka street food Lembang, aneka gorengan, es campur, pisang goreng keju, dan lain-lain.
Kami pun belok kanan, tiba di suatu kebun agak luas, yang ditanami kembang kol.
Ini merupakan sisa peternakan dan perkebunan yang dikelola oleh Bangsa Boer.
Bangsa Boer adalah penduduk kulit putih di Afrika Selatan keturunan pemukim awal Belanda, Jerman, dan Prancis (Huguenot) yang tiba sejak tahun 1652.
Kata “Boer” berasal dari bahasa Belanda yang berarti “petani”, mencerminkan latar belakang mereka sebagai penggarap tanah. Mereka dikenal memiliki kebudayaan, bahasa, dan nasionalisme kuat yang berbeda dengan nenek moyang Eropa mereka.
Waktu itu tahun awal tahun 1900-an, Belanda membawa belasan orang Boer untuk bercocok tanam di Lembang. Sayur sop yang kita kenal sekarang, isinya berupa wortel, kol, kembang kol, kentang, dll itu merupakan jenis sayuran yang dikembangkan oleh mereka. Jenis sayur tersebut memang hanya tumbuh di dataran tinggi yang cocok ditanam di Lembang.
Pendopo dan Rumah Wedana

Kami pun melanjutkan langkah kaki kembali ke alun-alun tetapi menyusuri sisi timur hingga ke utara. Terdepat deretan bangunan lama, yang salah satunya adalah Pendopo.
Kawasan pendopo dan rumah dinas Wedana tersebut sekarang dipergunakan sebagai gedung Diklat Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia kabupaten Bandung Barat.
Dua gedung indah tersebut masih sangat terjaga hingga kini, walau bagian lantai telah di ganti seluruhnya. Komplek pendopo dan rumah dinas Wedana tersebut dibangun pada 1882 ketika Lembang secara hukum menjadi distrik teh.
Sebelum masuk kawasan pendopo ini, di depan bangunan terlihat papan pengumuman bertuliskan “TEMPAT PENGUNGSIAN – Ex Pendopo Lembang”.
Malia menjelaskan bahwa kota Lembang merupakan daerah bencana. Ada dua aktivitas bencana yang harus diwaspadai yaitu Sesar Lembang dan letusan Gunung Tangkuban Parahu. Sesekali ada latihan tanggap bencana, sehingga warga sudah tahu bila ada bunyi sirene peringatan.
PDAM dan Pecinan

Setelah mengamati dan mempelajari sejarah ex Pendopo Lembang, kami lanjut jalan kaki kembali menyusuri jalan Raya Lembang.
Penampakan bangunan lama yang ada terlihat bahwa kawasan ini dulunya merupakan kawasan Pecinan. Bisa dilihat dari bentuk atap pelana dan detail bubungan atapnya.


ciri rumah pecinan dan rumah lama
Malia pun mengajak kami memasuki halaman gedung PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum) Lembang.
Bangunan PDAM Lembang ini dulunya merupakan bangunan bekas peninggalan Belanda yang masih terlihat asli bangunan pada zaman dulu.

Di belakang gedung PDAM ini terdapat kantor pemadam kebakaran pos wilayah Lembang. Ada petugas yang stand-by, maka kami pun ngobrol-ngobrol sebentar dan pastinya berfoto bersama deh…
Kami pun pamit ke petugas untuk melanjutkan walking tour menyusuri jalan Raya Lembang.

Gereja Karmel

Tujuan kami kali ini adalah Gereja Karmel, lengkapnya bernama Gereja Katolik Paroki St. Maria Fatima, yang sering didatangi untuk ziarah.
Keberadaan kapel (gereja kecil) bermula dari keinginan Paus Pius XII yang memerintahkan pembangunan kapel di wilayah misi, termasuk Indonesia. Menariknya, ada seorang pribumi, Jufroum Lidwine, seorang guru dari Mendut, Jawa Tengah, yang merupakan suster pribumi pertama.
Adapun Karmel sendiri merupakan salah satu ordo di agama Katolik, yaitu Ordo Karmelit, yang fokus pada hidup kontemplatif dan pelayanan.
Satu kompleks dengan kapel, terdapat Gua Maria-Pertapaan Karmel, Lembah Karmel, Toko Souvenir, Museum, Aula, dan Galeri.
Rumah Baru Ajak/ Piknik Kopi



piknik kopi dh rumah ursone
Hari menjelang siang, matahari yang semula bersinar terang sesekali tersembunyi di balik awam mendung, mendadak hujan turun dengan derasnya.
Kami pun berteduh di serambi galeri, sehingga ada beberapa tujuan yang terpaksa tidak bisa kami sambangi, yaitu Kuliner Karmel dan Sunny Home.
Akhirnya penanggungjawab jalan-jalan kami Pak Jauhari, memesankan taxi online untuk langsung makan siang ke Piknik Kopi, untuk makan siang.
Berlokasi di Jalan Baruajak, Lembang, bangunan bergaya heritage ini mempertahankan arsitektur aslinya, menawarkan suasana klasik dengan area taman asri, kini difungsikan sebagai kafe kuliner tradisional Sunda.
Kami pun diarahkan ke sebuah gazebo di samping rumah utama, untuk makan siang. Makan siang nasi, dengan pilihan menu ayam goreng atau ikan nila goreng, bakwan jagung, dan sambel lalap. Tersedia pula lodeh, dan sebagai penutup hidangan, es campur.

Setelah makan siang, Malia pun menjelaskan sejarah bangunan yang pada dinding menara terukir Deetje, nama istri pemilik rumah zaman Hindia Belanda.
Piknik Kopi Lembang menempati bangunan bersejarah peninggalan keluarga Ursone, pengusaha susu perah asal Italia yang sukses di zaman pemerintahan Hindia Belanda.


Penutup
Walking tour di Lembang ini kalau diukur, rutenya tidak terlalu jauh, hanya saja kami banyak berhenti, mendengarkan paparan, termasuk jajan street food, sehingga tak terasa hampir tiga jam kami berjalan.

Penjelasan sangat lengkap dipaparkan Malia pada bangunan Piknik Kopi, mulai dari sejarah peternakan sapi, perusahaan susu, organisasi Freemason, dan kisah misteri lainnya terkait dengan bangunan, yang sekarang dimiliki oleh kelompok pengusaha Sido Muncul.
Kira-kira pukul 16:30 kami bersiap-siap kembali ke Bandung, say good bye ke Malia, dan bus berangkat menuju tujuan akhir, yaitu toko oleh-oleh yang berada di tepi jalan menuju kota Bandung.
Seperti dugaan semula, karena hari ini hari Sabtu, jalan menuju kota Bandung agak macet. Saya pun ikut rombongan sampai di jalan Cipaganti, untuk selanjutnya pulang ke rumah memakai grab. Sedangkan teman-teman belok kanan menuju jalan Pasteur untuk lanjut ke Jakarta.
Hari ini saya menambah pengetahuan tentang kota Lembang, melalui gaya storytelling pemandunya. Banyak hal-hal detail yang bisa ketahui, bahkan berkat menyusuri jalan sambi jalan kaki.
Tak sabar saya ingin menuliskan pengalaman berjalan kaki ini di blog dengan gaya penulisan SEO Content Writer, gaya penulisan informatif, menarik, dan berkualitas, dengan mengintegrasikan teknik Search Engine Optimization (SEO).




Asyik banget ya, Kak. Ikut walking atau city tour begini. Pelesir ke Lembang misalnya. Aku bisa baca semua pengalamannya dan mendapatkan insight baru. Meskipun rasanya kurang puas kalau cuma baca. Rasanya, pingin banget ikutan. Hehehe
Perjalanan yang seru ya. 3 jam tetapi banyak area yang dituju jadi banyak nambah wawasan baik sejarah maupun arsitekturnya. Untungnya Lembang sejuk, berjalan jauh sambil menikmati pemandangan tak terasa melelahkan, apalagi ditemani banyak teman. Seru wisatanya walaupun dilakukan dengan jalan kaki