Unpopular Opinion Kuliah di Jurusan Arsitektur – part 2

hani

Unpopular Opinion Kuliah di Jurusan Arsitektur - part 2

Lanjut tentang pengalaman kuliah di jurusan arsitektur puluhan tahun yang lalu, dibandingkan dengan mahasiswa zaman sekarang. Kebetulan saya mengajar di sebuah perguruan tinggi swasta di jurusan arsitektur, jadi mengikuti perkembangan dunia arsitektur.

Setelah sub bab kurikulum, teknik presentasi, survei lapangan, dan proses desain, zaman dulu dan sekarang yang ada pergeseran, kisahnya ada part 1 di sini. Berikut adalah beberapa pembahasan untuk melengkapi.

Tokoh di Dunia Arsitektur

Membahas arsitektur bisa sangat luas dan bersinggungan dengan pengaruh yang terjadi pada suatu masa. Bisa pengaruh politik, kebijakan pemerintah, tren, dan lain-lain.

Ketika saya dulu kuliah, kalau dari sisi sejarah arsitektur, eranya Arsitektur Modern. Sebuah gaya atau style dalam dunia arsitektur yang menekankan pada kesederhanaan bentuk yang muncul di awal abad 20.
Gaya ini muncul karena adanya tokoh-tokoh atau arsitek terutama berkarya di Amerika Serikat. Arsitek ini sebetulnya berasal dari benua Eropa yang migran karena terjadi Perang Dunia II di Eropa.

Kami pun belajar tentang tokoh-tokoh ini, mempelajari konsep dan karyanya. Tema dan konsep Arsitektur Modern pun menjadi rujukan juga dalam mendesain.
Di Indonesia sendiri muncul tokoh-tokoh, seperti Sujudi yang mendesain Gedung MPR/DPR, lalu F.Silaban yang mendesain Masjid Istiqlal. Sujudi dulunya pernah sekolah dan magang di Eropa, yang tentu saja ada pengaruh dari tokoh atau master builder.

Mungkin mirip kedudukannya dengan Empu atau Suhu dalam kisah sejarah di Indonesia.
Master builder punya kewenangan cukup kuat dalam menentukan gaya, mengolah bentuk, dan tata letak suatu kawasan.

Kemudian terjadi pergeseran gaya, dari Arsitektur Modern, ke Arsitektur Pasca Modern, lanjut ke Arsitektur Neo Modern di awal abad 21.

Loncat di tahun 2025 sekarang ini, tidak ada aliran gaya yang kuat seperti dulu. Kekuatan master builder pun memudar, karena posisi arsitek sekarang lebih ke fasilitator.

Di Indonesia ada AMI (Arsitek Muda Indonesia) yang dibentuk sekitar tahun 1990-an, yaitu kelompok arsitek muda (waktu itu) yang berusaha memunculkan lagi karakter sebagai arsitek. Para tokoh di AMI ini pun ya sekarang tidak muda lagi.

Tetapi menariknya, tokoh-tokoh di AMI ini mempunyai karakter lebih peduli lingkungan, dan bahkan seorang di antaranya yaitu Yori Antar, sangat peduli dengan arsitektur tradisional.

rumah adat Wae Rebo, re-desain dan dibangun kembali

Beberapa karyanya adalah membangun kembali rumah-rumah adat yang hampir punah, tentunya dengan pendekatan teknologi dan bahan baru.

Lalu ada Andra Matin, arsitek Bandara Banyuwangi, yang memenangkan Aga Khan Award. Terwujudnya karya yang adaptasi dari bentuk udeng khas Banyuwangi dan peduli lingkungan seperti ini tak lepas dari kebijakan Walikota Banyuwangi saat itu.

7 Keunikan Bandara Internasional Banyuwangi Khas Indonesia
Bandara Banyuwangi

Multi Disiplin

Semakin maju teknologi dan penemuan bahan baru, arsitek tidak mungkin bekerja sendiri. Untuk mewujudkan suatu karya harus bekerja dalam tim yang melibatkan disiplin ilmu lain. Misalnya ahli struktur, elektrikal, pemipaan/plumbing, mesin-mesin AC-lift-escalator, dan teknologi bahan.

Dulu ketika saya sekolah diajarkan segitiga hubungan kerja, yaitu owner/pemberi tugas, arsitek/konsultan, dan pelaksana/kontraktor.

diagram hubungan kerja

Arsitek sekarang dalam tim tentunya membentuk konsultan yang di dalamnya ada banyak ahli sesuai kebutuhan. Owner atau pemberi tugas pun sekarang lebih luas, tidak selalu perorangan tetapi bisa juga sebuah perusahaan, pemerintah, atau konsorsium yang melibatkan bank.

Segala sesuatu yang melibatkan bank, mau tidak mau terikat bunga bank dan waktu pelaksanaan yang harus secepat mungkin. Arsitek menjadi terbatas geraknya, karena semakin banyak ornamen atau elemen desain, akan semakin membutuhkan waktu untuk terbangun. Kecuali memang owner tidak masalah dengan biaya.

Begitu juga pelaksana atau kontraktor, berupa perusahaan yang terikat dengan peraturan pemerintah. Di Indonesia ada peraturan tentang nilai proyek jumlah tertentu yang harus melalui lelang/ tender. Jadi ada yang boleh melalui penunjukan langsung, ada yang harus melalui lelang.

Zaman sekarang ada kecenderungan posisi owner atau pemberi tugas bisa sangat kuat sehingga memunculkan style yang merupakan cerminan keinginan pemilik dana.
Kekuatan pemilik dana juga mempengaruhi masalah perizinan didirikannya suatu objek arsitektur. Sehingga yang kita lihat sekarang adalah centang perenang pelanggaran pembangunan yang dampaknya pada pelestarian lingkungan.

Profesi Arsitek

Mirip dengan dokter yang untuk berpraktek harus mempunyai izin praktek. Untuk menjadi dokter pun, setelah sarjana kedokteran harus magang dulu di rumah sakit, mengikuti ujian hingga lulus sebagai dokter.

Dalam dunia arsitektur di Indonesia, apalagi setelah terbitnya Undang-undang (UU) Nomor 6 Tahun 2017 tentang Arsitek, maka lulusan sarjana arsitektur untuk berkarya harus mempunyai sertifikat keahlian arsitektur (SKA). Sertifikat keahlian ini diperoleh dari IAI atau LPJK (Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi).

Sekarang banyak sertifikat-sertifikat yang melengkapi profesi arsitek selain SKA, misalnya SKK (Sertifikat Kompetensi Kerja), sertifikat bangunan hijau (Green Building Council Indonesia), sertifikat BIM (Building Information Modeling), dan sertifikat spesifikasi khusus lainnya.

Lembaga-lembaga di luar negeri pun menerbitkan sertifikat sejenis, agar arsitek Indonesia juga bisa berkarya di luar negeri.

Sebuah Kekecewaan

Menoleh ke belakang dan membandingkan dengan kondisi pembangunan sekarang yang tentu saja terdapat peran arsitek di dalamnya, saya tidak merasa happy.
Saya sering ngomel-ngomel ke suami, melihat karya-karya arsitektur yang telah terbangun yang menurut saya merusak lingkungan.
Saya jadi merasa, apapun desain arsitektur ujungnya mengubah kondisi lingkungan yang sebelumnya baik-baik saja.

Walaupun ada ketentuan dari tata kota, batasan lahan atau prosentase yang boleh dibangun. Semula memang didesain sesuai ketentuan, tetapi dalam pelaksanaannya, campur tangan pemilik dana sering membuat desain berubah di tengah jalan.

Di satu sisi, bukannya lalu saya benci dengan dunia arsitektur. Saya menyukai bangunan heritage, yang menampilkan gaya suatu zaman tertentu yang dipertahankan hingga sekarang.

Saya menyukai acara TV Jepang yang bernama WakuWaku yang salah satu programnya bernama “Before After”. Sayangnya channel WakuWaku sudah tidak berlanjut karena mengalami kerugian.

Acara “Before After” favorit ini menyajikan peran arsitek membantu owner mendesain bentuk lama menjadi fungsi baru tanpa meruntuhkan. Jepang sebagai kawasan yang rawan gempa, bangunan kayu merupakan struktur yang telah diuji tahan gempa. Itu sebabnya dalam mendesain fungsi baru, teknologi justru dimanfaatkan untuk mempertahankan bangunan lama.

Berbeda dengan di Indonesia, arsitek lebih suka mendesain bangunan baru, dan menganggap lahan sebelumnya adalah lahan kosong.
Mungkin analog dengan penjahit sih, lebih suka menggunting kain mulai dari nol, dari pada permak baju atau upcycling.

Penutup

Menjawab pertanyaan teman saya, bagaimana profesi arsitek di masa datang. Menurut saya masih ada, tetapi posisinya parsial di dalam suatu proyek utuh. Jarang arsitek memegang kendali dari ujung sampai akhir seperti dulu.

Peran master builder yang menampilkan tokoh-tokoh arsitek yang posisinya di puncak, tergantikan dengan kerjasama tim dan kolaborasi berbagai bidang keilmuan.

Peran ini mungkin tidak diterima oleh arsitek old school, sehingga mereka protes keras, kenapa kok I Nyoman Nuarte sebagai seniman patung bisa tampil sebagai tokoh di balik desain IKN, ibu kota Nusantara, dengan konsep “Nagara Rimba Nusa”.

Padahal yang memenangkan sayembara adalah konsultan bernama Studio Nyoman Nuarta, ownernya I Nyoman Nuarte, yang tentu saja di dalamnya ada arsitek, ahli struktur, lansekap, interior, dan multi disiplin lainnya.

Kritik dari para arsitek tentang IKN adalah, mana ciri arsitektur Indonesia-nya? Ya memang sih, Indonesia yang saking banyaknya kekhasan arsitektur tradisional tiap-tiap daerah, jadi memang tidak ada ciri arsitektur Indonesia, berbeda dengan Jepang.

Also Read

Bagikan:

hani

Halo, saya Tri Wahyu Handayani (Hani), tinggal di Bandung. Pemerhati arsitektur dan pelestarian bangunan, main piano, menjahit, dan jalan-jalan. Kontak ke bee.hani@gmail.com

Tags

Satu pemikiran pada “Unpopular Opinion Kuliah di Jurusan Arsitektur – part 2”

Tinggalkan komentar

DMCA.com Protection Status