Bangkit di Usia 40 Tahun, Life Begins at 40

hani

Bangkit di Usia 40 Tahun, Life Begins at 40

Usia 40 tahun. Ada apa di usia 40 tahun? Siapa sih awalnya yang membuat statement, bahwa usia 40 tahun harus siap-siap? Saya sendiri ketika memasuki usia tersebut tidak terasa apa-apa sih. Engga seperti masuk time tunnel, lalu jeng…jeng, berubah seketika.
Sebenarnya setiap perubahan pada diri kita terjadi secara perlahan dan tidak terasa. Walaupun bercermin tiap hari, garis-garis halus di pipi dan sudut mata munculnya bertahap tanpa kita sadari.
Apakah bisa bangkit di usia 40 tahun, ketika mata mulai harus pakai kacamata plus, yang menandakan kacamatanya orang tua?

Inilah yang saya alami di usia 40 tahun ke atas…

Fase Kehidupan

Saya pernah menuliskan di artikel terdahulu tentang gangguan kesehatan pada perempuan di usia 40-an, bahwa hidup terbagi menurut 3 fase kehidupan.

  • Fase pertama yaitu usia 0-20 tahun, merupakan fase pertumbuhan dan kekuatan fisik.
  • Fase kedua, 21-40 tahun, faktor kecerdasan akal yang merupakan faktor dominan.
  • Fase ketiga, 41 dan seterusnya, faktor spiritual menjadi tolok ukur yang lebih diperhatikan dalam kehidupan kita.

Di fase ketiga ini, umumnya individu dewasa di atas usia 40 tahunan, termasuk ibu bekerja, kariernya sudah mapan dan sudah mencapai kecukupan finansial.

Bagi pasangan yang mempunyai anak, mungkin usianya sudah remaja, sehingga tidak perlu perhatian khusus seperti usia balita.

Di sisi lain baik perempuan maupun laki-laki usia di atas 40 tahun tersebut juga mengalami kemunduran fisik. Ya namanya juga umur kan engga bohong. Siapapun akan menjadi tua.

Sisi Positif Perempuan Usia 40++

Daripada risau memikirkan dan dilanda kekhawatiran dan cemas berlebihan karena usia semakin menanjak, bagaimana kalau kita melihatnya sebagai peluang.

Belajar Hal Baru

Novelis George Eliot berkata, “Tidak pernah ada kata terlambat untuk menjadi dirimu yang sebenarnya.”
Beberapa teman yang saya ketahui dari media sosialnya memutuskan sekolah lagi, melanjutkan pascasarjana di usia 40++.

Saya sendiri mencapai usia 40 tahun pada tahun 1998. Kalau mau diurut lini masa yang telah saya lalui hingga saat ini maka:

  • 1997, belajar main piano setelah puluhan tahun sempat vakum, dan sempat menjadi guru piano untuk anak-anak hingga tahun 2015.
  • 2007, mulai belajar ngeblog, walaupun masih berupa tulisan-tulisan curhat, dan masih ngeblog hingga hari ini.
  • 2013, belajar menulis buku solo melalui komunitas IIDN dan Indscript, dan berhasil menerbitkan beberapa buku.
  • 2019, ikut sertifikasi penulis non-fiksi yang diadakan oleh BNSP.
  • 2025, mendapat tawaran job pertama sebagai editor lepas dari Joeragan Artikel, sebuah agensi penulisan naskah untuk guru.
  • 2026, mendapat tawaran menulis buku mengonversi tesis menjadi buku populer, melalui Indscript.

Di luar itu, saya ikut juga beberapa kelas online yang mulai marak. Apalagi ketika pandemi 2019 sampai 2022, banyak sekali kemudahan untuk belajar online.
Contohnya, saya sempat belajar editing video, Capcut, yang akhirnya tidak saya lanjutkan, karena tidak tahan mata saya dipaksa terus menerus menatap layar HP/Tab.

Sempat ikut kelas SEO di kelasnya Ilman Akbar, melalui komunitas 1 Minggu 1 Cerita. Walaupun tahun lalu, komunitas ini membubarkan diri.

Sesekali update IG atau Tiktok yang bisa mirroring, itu pun misalnya ada tawaran review dari komunitas blogger.

Sesekali juga ikut grup-grup menulis buku antologi dengan berbagai tema. Setiap tema tentunya saya harus melakukan riset terlebih dahulu. Di sinilah saya terus belajar, karena setiap tema akan ada tantangan baru.

Di waktu bersamaan, saya tetap menulis dan update blog dan ikut berbagai komunitas blogwalking, salah satunya adalah Blogging Happy Family.

Ada grup ngeblog sealmamater, namanya Mamah Gajah Ngeblog. Setiap awal bulan ada challenge untuk menulis dengan tema tertentu. Seru-seruan ini sih, walaupun tidak ada kewajiban blogwalking, tetapi di akhir bulan akan ada voting dengan kriteria tertentu.

Memilih Lingkaran Pertemanan yang Lebih Pas

Saya ikut grup OWOP (one week one post) yang temanya minggu ini adalah:

Temanya menurut saya agak berat bagi yang belum berusia 40 tahun, karena kesannya memasuki 40 tahun tuh penuh tantangan. Apalagi ada kata “antisipasi

Sementara itu di KBBI, Antisipasi, adalah tindakan atau kemampuan memprediksi, mengharapkan, dan mempersiapkan diri menghadapi hal-hal yang akan terjadi sebelum benar-benar terjadi. Ini mencakup perhitungan, ramalan, bayangan mental, atau tindakan pencegahan agar siap menghadapi berbagai kemungkinan situasi.

Anak saya baru-baru ini komentar, Ibu sekarang temannya banyak.

Mungkin dia heran, randomly, saya tiba-tiba punya circle ngeblog, circle ngegym, circle jalan-jalan, circle penulis buku, circle teman kuliah, circle teman SMA…
Lingkaran pertemanan tersebut ada yang melalui Instagram, ada pula yang memang terbentuk dari grup WhatsApp, sebagian besar berupa pertemanan online.

Menurut ringkasan AI di Google:

WhatsApp baru didirikan pada 24 Februari 2009 oleh Jan Koum dan Brian Acton di California, Amerika Serikat. Aplikasi yang awalnya dirilis untuk iPhone pada awal 2009, akhirnya dikembangkan untuk Android dan platform lainnya, kemudian diakuisisi oleh Facebook (sekarang Meta) pada tahun 2014.

Tak heran kalau menurut anak saya, teman saya sekarang banyak. Ya, karena saya ikut komunitas, baru-baru saja. Jauh setelah usia 40++.

Sementara dulu itu, sebelum usia 40 tahun, saya bekutat dengan urusan rumah tangga. Menjadi pengajar, antar jemput les anak, mengurus rumah tangga, sesekali menekuni hobby. Waktu itu hampir tak punya teman, apalagi saya bukan model yang suka main ke tetangga atau ikut arisan ini-itu.

Tahun 1998, ketika usia 40 tahun itu, anak bungsu saya usia 10 tahun.
Betul seperti kata banyak orang, di usia tersebut anak-anak sudah mulai dilepas, sudah pra remaja atau remaja.

Kalau tema yang dilontarkan Mbak Ani Berta, penggagas grup OWOP, apakah cicle pertemanan semakin bertambah, berkurang, atau stagnan? Apa plus dan minusnya jika sedang mengurangi circle pertemanan?

Saya lebih setuju bila pada akhirnya akan memilih circle pertemanan yang pas, cocok dan nyambung ngobrolnya. Tidak saling menggurui atau mendominasi percakapan.

jalan-jalan ke Garut bersama teman kuliah

Memang ada yang dikurangi, karena obrolannya engga nyambung. Contohnya saya leave dari grup SMP, karena tidak terlalu dekat dengan semua personilnya. Udah kejauhan…

Setelah melampaui berbagai terpaan hidup, pengalaman sana-sini, tidak aneh bila dulu sangat dekat dengan teman SMP. Ternyata setelah puluhan tahun jumpa lagi, merasa asing.

Begitu pula dengan teman seangkatan zaman kuliah, saya biasa saja. Hanya chat dengan beberapa teman perempuan yang kira-kira nyambung. Sekian tahun berlalu, masing-masing dari kami pun mempunyai minat yang berbeda. Terpaan berbagai masalah hidup pun bisa berpengaruh pada bahan obrolan.

Kalau reunian jadi agak hati-hati, mau tanya: keluarga, pernikahan, pekerjaan, dan hal-hal pribadi lainnya. Malah menghindar dari teman-teman yang suka flexing.
Mau ngobrolin politik dan kenapa Presiden sekarang gini amat, rasanya kok berat. Skip lah…

Penutup

Perempuan memang mahluk ciptaan Allah swt yang unik. Sejak remaja, dewasa, hingga paruh baya, perempuan itu ibaratnya kantong hormon. Kala awal remaja, perempuan mendapatkan haid pertamanya, maka di sinilah fungsi hormon mulai bekerja. Begitu pula ketika hamil, melahirkan, menyusui, pra-menopause, hingga menopause.
Up and down emosi pada perempuan ini juga akibat fungsi hormon tersebut, ditambah lagi bermunculan masalah kesehatan pada perempuan 40-an. Mungkin yang bisa diantisipasi adalah masalah kesehatan ini, dengan melakukan persiapan untuk hidup lebih sehat dan tetap berdaya di paruh baya.

Bangkit di usia 40-an, bagi perempuan dengan emosi yang up and down, yang diperlukan adalah tetap berkegiatan dan mampu mengelola emosi.

Bila saya akhirnya memilih circle pertemanan yang pas, maka saya cocok banget bergabung di grup ngeblog, termasuk teman saya Blogger Banjarmasin, grup penulisan, atau grup jalan-jalan.

Mungkin karena teman-teman segrup bercerita melalui tulisan, tanpa jumpa darat, saya sudah merasa dekat dengan teman-teman segrup melalui blogwalking.

Di grup penulisan buku, koordinasi dilakukan melalui grup WhatsApp, naskah dicek melalui Google Drive. Semua berjalan lancar tanpa harus heboh. Sesekali ada miskomunikasi wajar-wajar saja, tapi so far adem lagi.

Begitu pula di grup jalan-jalan, walaupun hanya walking tour dan seputaran Bandung. Kenalan dengan teman baru ternyata menyenangkan.

Apalagi ada saja teman seusia yang gabut di rumah saja dan mencari circle pertemanan baru. Banyak juga yang sengaja bertemu orang baru agar tak cepat pikun atau terkena demensia.

pada suatu acara bedah buku karya Atep Kurnia di Cicalengka, bersama grup jalan-jalan baru
jalan-jalan bareng grup ceritabandung.id mengunjungi Hotel Savoy Homann

Nah, gimana nih teman-teman yang telah melalui usia 40 tahun, bahkan jelita (jelang lima puluh tahun), atau lolita (lolos lima puluh tahun).

Tetaplah positif, berkegiatan, dan mendekatkan diri pada sang Pencipta. AGE IS JUST A NUMBER kok…

Also Read

Bagikan:

hani

Halo, saya Tri Wahyu Handayani (Hani), tinggal di Bandung. Pemerhati arsitektur dan pelestarian bangunan, main piano, menjahit, dan jalan-jalan. Kontak ke bee.hani@gmail.com

Tags

8 pemikiran pada “Bangkit di Usia 40 Tahun, Life Begins at 40”

  1. Life begins at 40. Saya memulai “kehidupan baru” sebagai orang bebas, lepas dari pekerjaan kantor dan menjadi “budak korporat” tepat di usia segitu. Rasanya lega banget. First thing first, saya langsung liburan solo ke beberapa tempat yang saya impikan, atas ijin suami, selama sekitar satu bulan penuh. Pergi sendiri karena pas ngantor, meski sering traveling karena urusan dinas, mencuri waktu buat liburan sendiri tuh jadi sesuatu yang langka.

    Yang pasti, seperti yang Mbak Hani tulis di atas, secara fisik memang ada penurunan ya Mbak. Khususnya di mata dan kecepatan fisik kita dalam merespons sesuatu. Kacamata plus kudu punya dan mulai semakin sering pakai minyak angin hahahaha. Ya ampun. Sesuatu banget dah.

    Balas
  2. Aaah.. bahagia kenal dirimu Hani! sejak di dunia maya sampai kopdar bersama Alaika di cafe apa tuh yang keren banget itu di Bandung, langsung merasa akrab dan hangatnya seperti sudah kenal lamaaaa beud!

    Terkagum kagum baca portofolio Hani, tetap semangat ngeblog yaaaa

    Balas
  3. Inspiratif banget, sangat banyak yang bisa dipetik dari tulisan ini. Sebagai yang masih usia 30 an, aku merasa memang betul ya bertambah usia sebuah keniscayaan dan setiap fase punya tantangan tersendiri.

    Seneng deh, positif vibes banget. Tetap bertumbuh dan terus belajar. Bahkan circle pertemanan pun kian bertambah, walaupun jadi lebih selektif karena mencari yang nyaman dan sefrekuensi serta sehobi.

    Sehat selalu, semoga dimudahkan berkegiatan, aamiin.

    Balas
  4. Mbak Hani, aku juga ikutan kelas SEO -nya kak ilman Akbar dari komunitas 1 minggu 1 cerita. sayang banget ya komunitasnya harus bubar. padahal komunitas itu juga memaksaku untuk produktif. seenggaknya 1 minggu 1 kali harus update blog

    Balas
  5. Sama, saya juga gak ngerasa ada yang spesial di usia 40 tahun

    karena itu lumayan bingung bikin tulisan dengan tema ini

    mungkin karena saya terlambat menikah, jadi umur 40 lagi sibuk-sibuknya ngurus anak-anak, sehingga waktu berlalu begitu cepat, tau-tau udah 50 tahun dan sekarang 60 tahun 😀 😀

    Balas
  6. Selalau kagum dan salut sama Mba Hani dengan segala inspirasi dan seabrek kegiatannya…
    Sehat dan terus bermanfaat ya Mba…Semoga saya bisa mencontohnya.
    Btw, saya dulu pas usia 40 tahun memutuskan punya blog dan serius ngeblog. DAn itu adalah pilihan yang saya syukuri hingga kini. Karena dari blog saya dapat banyaaaak sekali kebaikan
    Tahun ini saya 50 tahun saya ingin ada sesuatu yang baru yang akan saya kerjakan…Hm, apapun itu semoga segala urusan kita dimudahkan. Amiiiin

    Balas
  7. Umur memang cuma sederet angka kok. Yang penting bagaimana kita bisa mengisi umur kita sekualitas mungkin, sebermanfaat mungkin. Enjoy the life.

    Balas
  8. Pertama, desain blognya keren! Seperti platform berita profesional, hahaha. Tulisan yang inspiratif. Sepertinya saya harus belajar untuk bersabar dan menikmati hidup 😃

    Terima kasih telah berbagi pengalaman ini, teh.

    Balas

Tinggalkan komentar

DMCA.com Protection Status