Kenangan Perjalanan Ke Uzbekistan

hani

Kenangan Perjalanan Ke Uzbekistan

Setiap kali menuliskan kisah saya di Uzbekistan, selalu meninggalkan kesan mendalam, walaupun perjalanan ini sudah dilakukan dua tahun yang lalu.
Selalu ada hal-hal yang menarik untuk diceritakan kembali, mengenang perjalanan ke Uzbekistan sangat berkesan, ketika menelisik lagi album foto-foto digital di suatu tempat atau kota yang kami lewati.

Negara ini dulu merupakan bagian dari Uni Soviet yang dulu dikenal sebagai Union of Soviet Socialist Republics (USSR).

Di masa kepemimpinan Mikhail Gorbachev yang mencanangkan Glasnost (keterbukaan politik), Perestroika (restrukturisasi ekonomi), dan Democratizatsia (demokratisasi), justru menyebabkan runtuhnya Uni Soviet yang merupakan negara komunis.

Satu per satu republik-republik yang merupakan anggota Uni Soviet mulai menegaskan kedaulatan nasional masing-masing dan melepaskan diri dari Uni Soviet.
Termasuk Uzbekistan yang merdeka dari Uni Soviet tanggal 31 Agustus 1991.
Uni Soviet pun bubar, menyisakan negara Rusia yang kita kenal sekarang.

peta ussr
Peta ex USSR dan belasan negara yang memerdekakan diri. No 11-Rusia, no 6-Kazakhstan, dan no 15-Uzbekistan

Mengenal Bukhara

Awalnya saya tidak tahu ada negara bernama Uzbekistan. Mungkin karena kita lebih mengenal Uni Soviet-nya.

Mencari tahu negara ini gara-gara saya kepo dengan nama perawi hadis yang sering kita baca kitabnya, yaitu Imam Bukhari. Biasanya beliau sering ditulis berdua, H.R.Bukhari-Muslim, yaitu singkatan dari Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim. Muslim atau Imam Muslim pun salah satu ulama besar yang juga menyusun kitab hadis.

Dalam sejarah syiar Islam dan tradisi di Timur Tengah, sudah biasa menuliskan seseorang berdasarkan asal-usul daerahnya. Misalnya Raja Arab Saudi, memang asal usulnya dari Wangsa Al Saud.

Begitu juga Imam Bukhari, yang asal-usul kelahirannya dari sebuah kota bernama Bukhara.
Menelisik lebih jauh, barulah saya menemukan bahwa Bukhara ada di Uzbekistan.

Uzbekistan dalam Cita-cita

Sebagai umat Muslim, keinginan terbesar kita adalah menjalankan ibadah haji, yaitu salah satu rukun Islam yang wajib dilaksanakan dengan syarat khusus. Kota tujuan ketika berhaji atau umrah, tentu saja Makkah dan Madinah.

Beberapa tahun yang lalu terpikir dalam benak saya, kenapa hanya dua kota itu saja yang menjadi tujuan untuk dikunjungi.

Koq, Bukhara tidak termasuk dalam list? Padahal Imam Bukhari merupakan sosok penting. Tuntunan sebagai umat Islam adalah Al Quran dan Hadis, bukan?
Bayangkan kalau tidak ada para perawi yang menyusun kitab hadis tersebut, kita tidak akan tahu segala perkataan, perbuatan, ketetapan, maupun sifat Rasulullah, yang menjadi contoh sehari-hari.

Setelah berhaji tahun 2005, tahun 2007 menjadi awal cita-cita saya untuk suatu saat akan mengunjungi kota Bukhara, tempat kelahiran Imam Bukhari.

Menuju Uzbekistan rasanya masih blank. Negaranya seperti apa, letaknya di mana, transportasinya apa untuk sampai ke sana…

Bahkan saya pernah menyimpan guntingan surat pembaca sebuah koran lokal yang menjelaskan cara menuju Uzbekistan. Waktu itu tertulis, pesawat menuju negara tersebut dari Malaysia, dan tentu saja harus punya visa.
Pe-er lagi kan, bagaimana mengajukan visa ke negara tersebut.
Apakah termasuk Eropa yang untuk ke sana harus mengajukan visa Schengen?

Lah repot…
Akhirnya, cita-cita tersebut terpendam. Selain itu, saya pun sibuk dengan urusan rumah tangga, kerja di luar rumah, dan tentu saja belum ada biaya.

Menuju Uzbekistan

Awal tahun 2024, dari sebuah grup ngeblog teman satu almamater di-share sebuah flyer dari akun IG @agustinusjourney, sebuah rencana perjalanan ke Uzbekistan.

Sejak akhir tahun 2023, saya memang mulai kepo, mencari informasi, berapa biaya dan bagaimana bisa sampai ke Uzbekistan, utamanya ke kota Bukhara. Apalagi, katanya sekarang ke Uzbekistan kita tidak perlu visa.
Saat itu saya sudah memasuki masa purnabakti, dan punya cita-cita kalau sudah tidak mengajar adalah jalan-jalan.

Agustinus Wibowo, sang pemilik akun, adalah seorang penulis buku travel journey dan fotografer yang menuliskan perjalanan dan pengalaman beliau saat menetap di suatu wilayah tertentu. Buku-buku beliau sangat detail dalam menuliskan keadaan suatu tempat dan perjalanan yang sering kali ekstrem.
Negara yang dikunjungi adalah negara-negara di Asia Tengah, yang belum banyak dikenal oleh khalayak.

itinerary ke uzbekistan
tentative itinerary

Di flyer tersebut dijelaskan open trip dengan highlights ke:

  • Makam Imam Al-Bukhari
  • Registan
  • Bukhara
  • Samarkand
  • Amir Temur Complex
  • Metro Tashkent
  • Shah-i-Zinda
  • and many more

Paket wisata ini termasuk:

  • Tiket pesawat by Uzbekistan Airways
  • Hotel & full board meals
  • Local transport & bullet train
  • Tour guide & tour leader
  • Documentation
  • Entrance tickets

Saya pun mengajak suami untuk mendaftar ikut open trip ini.

Persiapan Perjalanan Ke Uzbekistan

Sebelum saya mendaftar untuk ikut trip ini, sempat juga tanya-tanya ke travel sejenis dan menanyakan jumlah maksimal peserta. Melalui berbagai pertimbangan, saya dan suami lebih memilih ikut trip yang jumlah pesertanya di bawah 20 orang.
Pengalaman ikut open trip yang jumlahnya puluhan, lebih melelahkan, dan terburu-buru.
Selain itu, kami tidak saling akrab dengan teman seperjalanan kalau jumlah orangnya terlalu banyak.

Singkat cerita, kami mendaftar ke travel yang akan membawa kami ke Uzbekistan.
Secara umum, bila ikut grup jalan-jalan, akan dibentuk grup WhatsApp untuk persiapan sebelum perjalanan dan koordinasi selama di sana.
Banyak informasi yang bertahap kami terima, mulai dari adat dan kebiasaan orang Uzbek, currency, cuaca setempat, makanan, dan yang unik ceret di toilet.

Waktu itu sudah ada warning, bahwa selama kami di sana, akhir Februari hingga awal Maret, cuaca tak menentu. Oleh sebab itu kami disarankan membawa mantel tebal karena suhu bisa di bawah 0 derajat Celsius.

paspor dan boarding pass
paspor dan boarding pass

Rencananya pesawat di bawah maskapai Uzbekistan Airways akan berangkat pukul 12.00 tengah hari. Untuk itu kami harus sudah ada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta pukul 08.00 pagi.
Perjalanan merupakan direct flight, artinya tidak transit ke kota lain, dari Cengkareng langsung ke Tashkent, ibu kota Uzbekistan. Durasi perjalanan 8.5 jam dan perbedaan waktu antara Jakarta dan Uzbekistan adalah 2 jam.
Jadi ketika kami tiba di Tashkent, menjelang pukul 20, tetapi di Indonesia masih pukul 18.30

Di bandara, kami bertemu dengan teman seperjalanan, Mas Agus, penulis buku yang akan mendampingi kami. Lalu ada Mas Hasan dan Mbak Lia, guide resmi dari travel. Total seluruh peserta ada 17 orang, termasuk pendamping perjalanan.

teman perjalanan
teman perjalanan

Kami pun menuju counter maskapai, untuk mendapatkan boarding pass, dan siap-siap menuju ke gate keberangkatan.
Masih ada waktu sebelum saatnya boarding, saya dan suami mencari restoran untuk sarapan terlebih dahulu. Walaupun di pesawat akan mendapatkan konsumsi, tahu sendiri makanan di pesawat belum tentu cocok, bukan.

Perjalanan Menuju Uzbekistan

pesawat sudah siap dan petunjuk jam keberangkatan

Pukul 11.20 saatnya boarding, kami pun masuk ke pesawat putih bergaris biru-hijau sesuai warna bendera Uzbekistan. Saya kebetulan mendapatkan seat di tepi jendela di bagian sayap Boeing 787.
Setelah bisa duduk dengan nyaman, saya pun melihat-lihat suasana bandara dari dalam perut pesawat.

uzbekistan airways
uzbekistan airways

Cukup terpana sih waktu itu. Mata saya tertuju ke sayap pesawat yang catnya terkelupas di sana-sini. Aduh, gini amat…Codet-codet, seperti tempelan koyok…
Was-was juga euy…

saya pesawat
sayap pesawat compang-camping

Memang sih, Uzbekistan belum lama merdeka dari Rusia, baru membuka diri terhadap turisme. Sepertinya pesawat ini bekas Uni Soviet ya…
Saya pun berdoa kencang, supaya perjalanan selamat sampai pulang ke Indonesia minggu depan.
Oh ya, waktu itu Uzbekistan Airways hanya terbang satu kali dalam seminggu di hari Rabu.
Kami berangkat hari Rabu, jadi akan pulang Rabu minggu depannya.

Belakangan ada informasi, bahwa penerbangan menjadi dua kali seminggu, hari Rabu dan Sabtu.

Sebenarnya ada maskapai lain juga yang menuju Tashkent, tapi transit dan pindah pesawat di kota/negara lain, tergantung pilihan kita.

Ada yang transit di Kuala Lumpur, Bangkok, atau lainnya.

Tentunya ada plus-minusnya. Kalau banyak transit, harga bisa lebih murah, tetapi kita harus pindah-pindah pesawat. Buat saya dan suami agak repot dan menguras energi, turun-naik pesawat dan membawa ransel/travel bag.
Kalau direct flight, biasanya harga lebih mahal, tetapi kita tidak perlu pindah pesawat.

di dalam pesawat dan menyelesaikan buku “Garis Batas”

Selama perjalanan, saya menyempatkan menyelesaikan membaca buku “Garis Batas” karya Agustinus Wibowo, yang isinya menceritakan negara-negara berakhiran “Stan“. Buku ini merupakan kisah perjalanan Mas Agus ke Tajikistan, Kirgizstan, Kazakhstan, Uzbekistan, dan Turkmenistan.

Kira-kira pukul 13.30 waktu jam saya, kami mendapatkan makan siang. Saya memilih menu ikan sebagai hidangan utama. Dalam satu nampan, ada pelengkap menu ini, terdiri dari roti dan butter, dua slices daging salami, semangkuk salad, dan cake untuk dessert.

makan siang

Menjelang pesawat tiba di tempat tujuan, kami mendapatkan lagi kudapan berupa roti dan teh hangat. Jujur, teh hijaunya enak banget.
Kemudian hari, sepanjang kami di Uzbekistan ini, ternyata ada bermacam-macam jenis teh, dan enak semua.

Bila kita melakukan perjalanan dengan pesawat, sering ditayangkan film untuk hiburan. Di Uzbekistan Airways ini tidak ada pilihan film. Ada juga film dokumenter tentang iklan keselamatan penerbangan ala Uzbekistan Airways, dan film tentang budaya dan kesenian setempat.

petunjuk perbedaan waktu
petunjuk perbedaan waktu

tontonan selama perjalanan

Ada juga games, tetapi pilihannya tidak banyak.

matahari terbenam dari dalam pesawat dan rute perjalanan

Kami mendarat di Bandara Internasional Islam Karimov Tashkent pukul 19.22 waktu Tashkent dan suhu waktu itu minus 3 derajat Celsius.
Kami datang akhir Februari yang harusnya menjelang musim semi, tetapi ramalan cuaca memang tak menentu.
Sehingga sebelum ke luar bandara, kami buru-buru mengeluarkan mantel tebal yang khusus kami bawa dari Indonesia.

Penutup

cek paspor dan pembelian sim-card setempat

Malam itu, selepas urusan imigrasi dan pengambilan bagasi, kami pun menuju loket money changer untuk menukarkan uang dengan mata uang setempat. Ada pula yang membeli paket kartu telekomunikasi lokal.
Mata uang Uzbekistan bernama SOM, yang nilainya tak jauh dari IDR. Kira-kira 1 SOM = 1.5 IDR.

Sesudahnya kami masuk ke bus, untuk membawa kami ke restoran untuk makan malam, lalu ke hotel.
Besoknya kami akan ke Registan Square, yang telah saya tuliskan di sini.

Also Read

Bagikan:

hani

Halo, saya Tri Wahyu Handayani (Hani), tinggal di Bandung. Pemerhati arsitektur dan pelestarian bangunan, main piano, menjahit, dan jalan-jalan. Kontak ke bee.hani@gmail.com

Tags

Tinggalkan komentar

DMCA.com Protection Status