Bagi penulis artikel digital, blogger, maupun content writer, perlu untuk memahami kemudian menerapkan konsep E-E-A-T ketika akan menulis artikel. Hal ini disebabkan aktor-aktor di balik kerja mesin pencari Google pun mengatur mesin ini semakin cerdas. Google akan lebih mudah mendeteksi artikel yang memuat konsep menurut E-E-A-T ini.
Di artikel sebelumnya, saya membahas bahwa artikel harus menerapkan User Intent dan Search Intent. Artinya kita menulis artikel yang memang dicari oleh pembaca, jadi engga asal nulis saja. Biasanya pengguna atau user kan mencari artikel mengandung keyword tertentu.
Lalu apa itu E-E-A-T?
Apa itu Konsep E-E-A-T
E-E-A-T adalah singkatan dari Experience-Expertise-Authoritativeness-Trustworthiness.
Experience
Terjemahan bebas dari artikel dengan konsep experience (pengalaman) adalah kita membuat artikel yang berisi kisah pengalaman pribadi penulis tentang suatu tema atau topik tertentu.
Misalnya kita menceritakan suatu objek wisata, maka akan lebih menarik bila kita memang pergi ke tempat wisata tersebut, mengalaminya secara personal, sehingga pembaca mendapatkan informasi yang akurat. Biasanya gaya penulisannya menjadi lebih menarik dan menginspirasi.
Gaya bahasa personal memang mempunyai daya tarik tersendiri, sehingga terasa dekat dengan pembaca. Isi ceritanya otentik dan berdasarkan pengalaman pribadi penulis.
Jenis-jenis artikel dengan konsep experience, contohnya: travel journal, food review, kuliner, product review, hingga artikel memoar.
Salah seorang kawan bloger mbak Annie Nugraha, tagline blognya “Me and My Travel Journey” memang artikelnya menceritakan pengalaman beliau selama traveling. Itu sebabnya story tellingnya enak untuk diikuti dan sangat detail.

Expertise
Artikel dengan konsep expertise, atau artikel pakar, adalah sebuah tulisan yang berisi informasi dan pengetahuan mendalam tentang suatu topik tertentu. Artikel ini biasanya ditulis oleh seorang pakar atau ahli di bidang tersebut, dan bertujuan untuk memberikan edukasi dan wawasan kepada pembaca.
Artikel yang ditulis oleh orang yang paham, tentunya isinya bisa dipercaya dan sebaiknya dalam bahasa yang sederhana walaupun muatannya kompleks.
Jenis-jenis artikel dengan konsep expertise, contohnya: artikel opini, edukasi keuangan dan investasi, review, panduan, atau artikel ilmiah.
Saya dulu suka blognya diskartes.com, yang niche blognya banyak membahas soal seluk-beluk investasi. Gaya bahasanya ringan dan mudah dimengerti buat saya yang mindset-nya masih seputar nabung LM atau deposito.

Authoritativeness
Artikel dengan konsep authoritativeness, atau artikel otoritatif atau kewenangan, adalah sebuah tulisan yang berisi informasi yang akurat, terpercaya, dan kredibel tentang suatu topik tertentu.
Artikel ini biasanya ditulis oleh seorang yang bisa dipercaya pada suatu tema atau topik tertentu dan bertujuan untuk memberikan edukasi dan panduan kepada pembaca.
Akurat, terpercaya, kredibel, lengkap, tetapi objektif, adalah kunci dari artikel otoritatif ini.
Bagaimana dengan bloger yang mengelola personal blog? Mungkin di antara kita ada yang merasa kurang kepakarannya atau tidak memiliki gelar akademis yang mumpuni.
Seorang pakar SEO, mas Ilman Akbar, yang saya ikuti short course-nya menyarankan, supaya bloger tidak membuat blog gado-gado, tetapi fokus pada hal-hal yang dikuasai.
Kalau bloger lebih menguasai masak-memasak dan mengurus keluarga, ya tulislah artikel yang fokus pada keseharian blogernya. Supaya artikelnya betul-betul merupakan pengalaman sendiri.
Sehingga websitenya mempunyai otoritatif yang layak dipercaya.
Trustworthiness
Artikel dengan konsep trustworthiness, atau artikel terpercaya, adalah sebuah tulisan yang berisi informasi yang akurat, objektif, dan tidak bias. Artikel ini ditulis dengan sumber yang kredibel dan dapat diverifikasi, dan bertujuan untuk memberikan informasi yang bermanfaat bagi pembaca.
Artikel terpercaya pastinya ditulis oleh orang yang bisa dipercaya, bukan?
Bagaimana bloger bisa meraih trust tersebut? Tentunya perlu pengalaman, jejaring pertemanan, dan pribadi yang bisa dipercaya.
Misalnya bloger bergabung komunitas bloger, sering blogwalking, atau mendaftarkan blognya ke marketplace backlink.
Bagi bloger yang blog-nya di-monetize, mendapatkan job melalui marketplace backlink atau di-email langsung, menunjukkan artikel di blognya dapat dipercaya. Tidak copas dan bukan merupakan artikel AI.
Penutup
Pesan Mas Ilman Akbar, bahwa blog gado-gado kurang bisa bersaing sekarang ini, bikin saya harus meng-kategori ulang blog haniwidiatmoko ini. Mas Ilman mencontohkan blog istiani kemudian pindah haluan menjadi blog momopururu.com, yang mengkhususkan pada traveling bersama keluarga. Jadi kategori besarnya seputar traveling, hotel, dan penunjangnya.
Bukan berarti sebagai bloger lalu tidak boleh menulis hal lain, loh. Contohnya blog momopururu.com ini kalau terpaksa ada artikel random, kelompokkan pada kategori “others” atau “lifestyle”.
Kalau dipikir ulang, memang kita jadi lebih fokus kalau artikel blognya engga gado-gado lagi tetapi rendang. Haha…mungkin maksudnya, rendang kan bahannya satu, tapi bumbunya yang kaya rempah.
Nah, sudah jelas ya tentang E-E-A-T tersebut. Ternyata tidak seruwet yang dibayangkan.
Artikel yang ditulis sendiri oleh bloger berdasarkan pengalaman sendiri, dengan struktur yang rapi mulai dari paragraf awal hingga akhir, akan mudah dicari di Google.
Jangan lupa, Google hanya merupakan mesin pencari, yang baca artikel tetap manusia. Keliru ya kalau kalian menulis artikel untuk Google.
Semoga bermanfaat.
Sumber:
https://www.1minggu1cerita.id/konsep-e-e-a-t-pada-website/




Menentukan ciri khusus blog itu yang masih sulit saya lakukan, terutama untuk blog utamaku. Isinya bukan lagi rendang, satu ciri dengan banyak bumbu, tapi gado-gado banget dengan segala bahan dasar ada plus bumbu kacangnya, heuuu…
menulis artikel yang terkonsep memang lebih bagus ya mbak
misalnya dari pengalaman jalan-jalan kita ditulis dalam bentuk cerita, jadi ketika ada orang lain yang membutuhkan informasi mengenai destinasi tersebut, akan dapat pandangan gitu nantinya
blogger terpercaya, ini penting, karena banyak blogger yang kerjasama dengan brand, jadi menciptakan image sebagai blogger yang “baik-baik” tentunya perlu
Buat memantapkan trik authoritativeness ini, masih jadi PR buat saya. Soalnya ya gitu niche-nya masih campuran. Padahal bagus juga kalo semisal di khususkan satu niche atau ya jangan sampe segambreng hehe
setuju banget dengan niche untuk blog
Karena saya ngerasain sendiri ketika dulu belum pernah nulis tulisan review drakor
saya sering mantengin satu blog (lupa namanya)
Ketika dia memasukkan review buku ke dalam blognya saya merasa kecewa
Sayangnya saya belum bisa, punya satu blog tentang kuliner itupun saya tambah dengan traveling
Satu lagi info berharga dari Mbak Hani tentang EEAT. Memang sih sekarang kita sampai pada era kelebihan info. Gugel berupaya membuat ekosistem yang lebih valid dan terpercaya, salah satunya dengan mengembangkan EEAT, yang jadi panduan dalam pengembangan blog.
Saya merasakan sendiri, Mbak. Kalau sebuah tulisan saya tulis berdasarkan pengalaman atau apa yang saya rasakan langsung, maka menulisnya cepat lancar jaya, Mbak. Karena tinggal menuangkan ke tulisan.
Dan soal blog gado-gado, Kayak saya harus berbenah nih, karena blog saya masih gado-gado hehehe
E-E-A-T
jadi nambah pengetahuan nih mbak, tentang dunia tulis menulis di blog.
Kedua blog saya juga masih gado-gado hehehe….
MashaAllah. Duh saya jadi tersapu-sapu nih Mbak Hani. Makasih sudah menghadirkan blog saya sebagai bagian dari tulisan ini. In fact, saya masih terus belajar “mengendalikan” keinginan dan kebutuhan akan blog yang konsisten pada satu niche. Sementara saya sedang dan masih bergulat dalam keputusan untuk “memindahkan” isi blog saya ke beberapa link terpisah. Tapi membayangkan beratnya “ternak blog” saya langsung gemetar hahahaha. Tapi mudah-mudahan once saya sudah siap secara fisik dan mental, blog yang sekarang akan fokus pada traveling (tentang tempat, culinary, dan review yang berhubungan dengan traveling).
Saya jujur baru tahu tentang EEAT ini. Pengen punya waktu khusus untuk memahami dan mendalami ke-4 unsur yang Mbak Hani tuliskan/uraikan. Semoga bisa menjadi pengetahuan tambahan yang menjadikan saya lebih baik dari masa ke masa.
Serandom-randomnya orang dalam pemilihan tulisan. Setidaknya pasti ada yang dominan dong ya, seperti saya dulu juga random. Eh, makin ke sini. Sukanya review buku, bukan review film. Enggak apa sih, yang penting nulis aja dulu ya kan sebagai sarana berlatih. Lama kelamaan bakalan nemu tuh di mana orientasinya.
Mas Ilman ngasih contoh blog punya istrinya sendiri hihihi
Selalu suka kalau Mbak Hani yang jelasin sesuatu yang sarat ilmu, aku nangkep jadinya, dari yang sebelumnya enggak ngerti maksudnya. Dosen memang beda ya…*jempol
Maunya sih blog bukan gado-gado tapi ya gitu deh, kayaknya pengin semua ditulis, pengin semua job diambil, jadi deh etalasenya palugada…huaaa
Pelan-pelan, aku mulai menerapkan konsep E E A T. Bukan sesuatu yang mudah, saat kita mulai mengawali blog dengan menulis suka-suka. Tapi, bukan berarti tidak bisa kita usahakan sih.
Sebagai blogger pemula, menurut saya menulis campur-campur gak masalah. Karena buat sebagian blogger masih suka bingung menentukan niche tertentu. Daripada gak menulis juga karena bingung, mending mulai dulu. Asalkan konsisten dan menjaga orisinal tulisannya, nanti juga lama-lama akan dapat nichenya lebih condong ke mana
Aku jadi semakin semangat menulis, hihhii..
Alasan aku menulis blog dengan satu niche adalah karena aku hanya tau dan bisanya itu. Huhuhu.. kind of sad reason, tapi ga nyangka malah itu yang bagus yaah.. Konsep E-E-A-T yang disukai google.
Haturnuhun pencerahannya ka Hani.