Bekerja cukup lama sebagai pengajar, praktis saya berinteraksi dengan berbagai generasi. Ketika awal mulai mengajar, saya masih tergolong mahmud dengan anak satu. Tentunya rentang usia antara saya dengan mahasiswa tidaklah terlalu jauh, paling-paling antara 5-10 tahun. Berinteraksi dengan mereka tidak terlalu canggung, malahan lebih awkward berinteraksi dengan sejawat dosen senior yang waktu itu seusia Mamah saya. Perlu adaptasi dunia kerja terus menerus bila berinteraksi lintas generasi, sejak awal mulai bekerja hingga sekarang dengan generasi jauh di bawah saya.
Namanya zaman, silih berganti saya bertemu dengan berbagai karakter manusia, berbagai generasi, sementara usia saya pun hitungannya makin banyak. Di sisi lain, senior-senior saya di kampus satu per satu purnabakti.
Keistimewaan Sebuah Generasi
Sejak kapan sih ada klasifikasi generasi ini? Kok rasanya waktu saya awal bekerja engga ada tuh, klasifikasi generasi dari A sampai Z.
Tau-tau sekarang ramai ada klasifikasi generasi dengan segala keunikan, keistimewaan, maupun sisi negatifnya.
Ternyata klasifikasi generasi mulai populer pada tahun 1960-an, ketika sosiolog menyadari perbedaan pandangan ekstrem antara kaum muda dan tua. Pengelompokan ini, yang membagi manusia berdasarkan rentang tahun lahir, peristiwa sejarah, dan perkembangan teknologi, lalu dipopulerkan lebih lanjut oleh penulis William Strauss dan Neil Howe pada tahun 1991.
Berikut adalah urutan klasifikasi generasi yang umum digunakan:
- Pre-Boomer: Lahir sebelum 1946.
- Baby Boomer: Lahir 1946–1964 (pasca Perang Dunia II).
- Generasi X: Lahir 1965–1980 (masa transisi analog-digital).
- Milenial (Generasi Y): Lahir 1981–1996 (awal internet/teknologi informasi).
- Generasi Z: Lahir 1997–2012 (digital native).
- Generasi Alpha: Lahir 2013–sekarang (generasi teknologi AI/IoT).
Setiap generasi ini memiliki karakteristik unik yang dibentuk oleh lingkungan, sosial, dan teknologi pada masa mereka tumbuh.
Kiprah Gen Z di Dunia Kerja
Banyak nama yang disematkan pada generasi Z ini, antara lain iGen (iGeneration), generasi internet, Gen Tech, Plurals, dan Digital Natives.
Disebut generasi internet karena sejak lahir generasi ini sudah mengenal internet. Berbeda dengan saya, yang disering disebut suami sebagai generasi mesin tik.
Anak-anak sekarang mungkin belum pernah melihat benda yang bernama mesin tik ini.
Keuntungan generasi yang telah mengenal internet sejak lahir, membuat mereka tak bisa lepas dari internet tersebut. Segalanya serba cepat dan instan. Hal sehari-hari yang dulu harus diupayakan terlebih dahulu untuk mendapatkan, sekarang asal ada uangnya bisa langsung hadir di depan mata.
Contohnya, dulu kalau mau makan, generasi dulu diajari menyiapkan makanan dan memasak. Zaman sekarang generasi Z ini, bisa dengan cepat pesan melalui aplikasi kemudian dalam waktu cepat sudah tiba depan pintu rumah.
Hal-hal praktis sudah mendarah daging, semuanya serba sat-set bat-bet.
Di tahun 2026 ini, diam-diam Gen Z ini paling tua sudah berusia 29 tahun, paling muda berusia 14 tahun. Si paling tua, pastinya sudah lulus kuliah, sudah bekerja, dan sedang menapaki karier. Malah ada yang sudah menikah, mempunyai anak, dan mulai sibuk memraktekan gaya parenting yang paling pas.
Nah, seperti apa nih karakter gen Z ini kok sampai generasi lain harus pasang kuda-kuda menghadapai mereka?
Kritis Terhadap Berbagai Informasi
Sering kita baca di media sosial, bahwa penyebar hoax di media sosial ternyata para boomers yang termasuk lansia. Mereka itu gagap teknologi dan belum biasa dengan informasi digital. Jadi segala-segala di share, tanpa mencari tahu dulu kebenarannya.
Sangat berbeda dengan generasi Z, yang sejak lahir sudah ada internet. Mereka lebih kritis dengan berbagai sumber informasi sehingga tidak mudah share. Jelajah media sosialnya sangat luas, karena hampir sebagian besar waktunya tidak lepas dari gadget.
Kebiasaan Multitasking
Gen Z hampir tidak pernah lepas dari ponsel pintar yang terkoneksi ke berbagai media sosial secara bersamaan. Perilaku multitasking seperti ini membuat gen Z terbiasa melakukan beberapa hal secara bersamaan. Apalagi dengan adanya work from home, sambil bekerja juga berjualan online, bersamaan pula dengan hadir di webinar.
Berbeda dengan Millenials yang juga telah mengenal internet, komunikasi lebih sering memakai WP, Internet dll. Gen Z bisa terkoneksi dengan 5 layar sekaligus, dibandingkan dengan gen Millenial yang terkoneksi hanya 2 layar.
Jangan ditanya ke boomers, mereka tuh lebih suka bertemu orang langsung, daripada harus berhadapan dengan bot.
Jiwa Entrepreuneur
Banyak contoh, gen Z merupakan generasi yang berani mengambil langkah sebagai entrepreneur.
Bagi gen Z menjadi pegawai bukan pilihan menjanjikan, sehingga rata-rata mencoba berwirausaha sejak dini.
Kalaupun mereka ada yang kemudian menjadi pegawai, tidak lepas untuk juga mengembangkan side hustle melalui dunia online.
Hidup di Dua Dunia
Gen Z mempunyai rasa percaya diri yang tinggi. Hal ini mungkin disebabkan mereka tak lepas dari informasi dari internet melalui telepon pintar, dan cenderung terlalu banyak informasi.
Dalam beberapa hal pengambilan keputusan dalam pekerjaan mungkin saja tidak sejalan dengan rekan sekerja dari generasi yang berbeda. Itu sebabnya dalam beberapa hal sering dianggap keras kepala dan ngeyelan.
Adanya media sosial seolah menjadi ujung tombak mereka untuk eksis, sehingga sangat tergantung dengan hal-hal yang berbau digital. Itu sebabnya mereka seolah hidup di dua dunia, fisik dan digital.
Generasi berikutnya mungkin akan berbeda lagi tantangannya. Seperti yang dialami oleh teman bloger saya tehokti yang melepas putranya menempa ilmu di sebuah pesantren di Sumatera Barat. Melalui akun Instagram indungbageur kita pun bisa memahami pola asuh agar tetap mengutamakan adab.
Memerhatikan Lingkungan dan Kesehatan
Gen Z ini hidup kala dunia mulai turun kualitas lingkungannya. Kemajuan teknologi yang diciptakan oleh para boomers, ternyata mempunyai dampak buruk terhadap lingkungan. Misalnya penemuan plastik yang berefek pada limbah plastik hingga mikroplastik yang mencemari laut.
Penemuan mobil berbahan bakar bensin, menimbulkan polusi timbal pada udara yang mengganggu kesehatan. Belum lagi rusaknya hutan karena eksploitasi besar-besaran.
Akhirnya generasi Z yang seolah ketiban pulung, menjadi pegiat lingkungan dan sangat memerhatikan kesehatan serta pola makan sehat.
Menghadapi Gen Z di Dunia Pengajaran
Seperti yang saya tuliskan di awal artikel tentang pengalaman berinteraksi dengan mahasiswa dari berbagai generasi. Di akhir masa bakti saya menghadapi gen Z ini memang ada keunikan tersendiri, yaitu:
Berani Berdiskusi
Kalau dipikir anak-anak yang lahir tahun 2000 tuh, sekarang kan usianya 26 tahun ya. Jadi ketika kuliah mereka adalah dewasa muda. Bedanya gen Z ini memang lebih kritis, berani bertanya, dan siap untuk berdiskusi.
Masalahnya, justru terletak pada dosen-dosennya dari berbagai generasi, mulai dari Gen Milenial, Gen X, hingga Boomer (kalau masih mengajar). Tidak semua siap dengan sikap kritis Gen Z.
Flashback zaman saya kuliah, kami ini kan manut saja apa kata dosen. Zaman dulu ada dosen killer yang kata-katanya paling benar. Dosen seperti itu, sudah tidak zamannya lagi di abad 21 ini.
Serba Cepat
Sayangnya, kepiawaian Gen Z dengan dunia internet, apalagi dengan adanya AI, banyak di antara mereka yang mengambil jalan pintas. Plagiasi dimana-mana, copy paste meraja lela. Bahkan di dunia kerja pun banyak yang main serobot karya digital hingga mengunduh serta mengakui karya orang lain menjadi karya sendiri.
Untuk menghadapi hal-hal seperti ini memang perlu kiat dan usaha ekstra dari dosennya untuk memberikan pengarahan dengan tegas, bahwa seburuk apapun, harus percaya dengan karya sendiri.
Kesehatan Mental
Entah apa yang terjadi, beberapa kali saya membaca berita di media sosial, anak-anak usia 20-an yang mengakhiri hidupnya dengan tragis. Di sebuah kampus tempat anak saya mengajar pun pernah terjadi peristiwa tragis ini. Sampai muncul himbauan untuk tidak share berita maupun foto apa pun, dilanjutkan dengan himbauan untuk mendoakan hal baik bagi yang wafat.
Saya menuliskan juga artikel tentang Generasi Stroberi merujuk pada perilaku sebuah generasi yang mentalnya lembek. Ibarat stroberi, warnanya saja merah cerah tetapi mudah hancur.
Penutup
Di lingkungan saya dulu perlu adaptasi dunia kerja terus menerus menghadapi mahasiswa dari berbagai generasi. Dari yang jarak usianya dekat sehingga ibarat teman seusia, hingga makin jauh gap-nya, karena usia saya bertambah.
Mungkin ada benarnya, Gen Z ini perlu ekstra tenaga untuk berinteraksi dengan mereka.


Di dunia saya yang lain, yaitu dunia penulisan dan sebagai bloger, berinteraksi dengan Gen Z justru saya mendapat teman berdiskusi yang seru. Saya jadi termotivasi untuk belajar hal-hal baru, asalkan kita tidak masalah selalu dipanggil “Kakak”.
Sumber image: Photo by Ron Lach : https://www.pexels.com/photo/a-boy-and-a-girl-sitting-back-to-back-using-their-smartphones-9785024/


