Tema OWOP (one week one post) kali ini tentang perjalanan 10 tahun blogging, membuat saya mengenang suka-duka menyelami dunia tulis menulis di platform digital. Tidak mudah sebenarnya, karena saya memulainya di usia lebih dari setengah abad, dibandingkan dengan teman-teman lain yang jauh lebih muda. Awalnya bahkan belajar ngeblog dari anak perempuan saya di platform gratisan blogspot.com pada tahun 2007.
Saya yang ketika SMP hingga kuliah mempunyai diary kecil yang ditulis tangan, seolah mendapatkan tempat lain untuk curhat.
Ketika tahun 2013 saya mulai menulis buku dan diterbitkan tahun 2014, lalu muncul ide bahwa sebagai penulis harus berpromosi melalui media sosial dan digital. Inilah awal saya membuat blog TLD dengan nama pena Hani Widiatmoko.
Proses dari Ngeblog Curhat ke Cuan
Awalnya blog saya perlakukan seperti menulis diary, isinya hanya sekitar keluarga, anak-anak, dan cerita apa saja, hanya beberapa ratus kata. Benar-benar berupa tulisan curhatan tanpa gambar, bahkan agak disembunyikan link-nya, supaya orang tidak membaca isi hati saya.
Sebuah buku karya Carolina Ratri, “Blogging: Have Fun and Get the Money”, seolah menyadarkan saya tentang seluk-beluk ngeblog. Seolah jadi terlahir kembali sebagai blogger yang bukan hanya sekadar menulis tanpa arah di platform digital.
Bab pertama di buku tersebut, “Why Blogging“, membuka mata saya: kenapa kita ngeblog. Curhat atau share pengetahuan?
Walaupun melalui bukunya Carolina Ratri ini pun sudah dijelaskan tentang perlunya niche pada blog personal. Tetapi dasarnya emak-emak, segalanya mau diceritakan, saya pun gamang, antara fokus niche tertentu atau menulis bebas yang istilahnya blog gado-gado.
Proses dari ngeblog curhat ke cuan mungkin bisa diuraikan sebagai berikut:
Artikel CP dan CW
Waktu itu sekitar tahun 2016, saya mendapat email yang menawarkan untuk membuat artikel tentang sebuah bank swasta yang terkenal security-nya ramah dan akan mendapatkan fee sebesar Rp300.000,-. Tema artikelnya tentang produk perbankan yang kebetulan saya punya pengalaman tentang hal tersebut dan punya fotonya.
Dari sinilah saya mengenal bahwa blog ternyata bisa mendatangkan keuntungan finansial (cuan, sebuah istilah gaul yang diserap dari bahasa Hokkien, zhuan/choan)
Belakangan saya baru tahu ada dua pengertian tentang artikel yang dipublish di blog, yaitu artikel CP (content placement)- yang artikelnya sudah disediakan oleh pemilik brand. Blogger tinggal publish saja dan menambahkan gambar yang sesuai.
Sedangkan yang kedua adalah artikel CW (content writer), artikelnya harus ditulis sendiri oleh blogger sesuai dengan kata kunci yang ditetapkan oleh brand dan external link-nya mengarah ke website brand.
Bertabur Giveaway
Perjalanan ngeblog 10 tahun yang lalu tersebut mengingatkan saya serunya blogger-blogger mengadakan giveaway. Tentu saja saya tertarik untuk ikut, bahkan pernah juga mengadakan giveaway sendiri yang temanya tentang Instagram.

Tujuan mengadakan giveaway di akhir tahun 2016 tersebut adalah supaya publik lebih mengenal blog haniwidiatmoko dan mempromosikan buku-buku yang telah saya tulis.
Seingat saya ada sekitar 30 blogger yang ikut giveaway tentang “Kisah Foto Instagram” dan hadiahnya kalau diingat lumayan banyak.
Membaca ulang artikel 10 tahun yang lalu, beberapa di antara peserta yang ikut giveaway masih pada ngeblog, sih. Adakah di antara teman-teman yang baca, pernah ikut giveaway saya ini?
Bisa gitu euy, 10 tahun yang lalu, saya se-effort itu supaya blog saya dilirik publik. Padahal sekarang ini banyak cara untuk mendatangkan engagement blog.

Adapun giveaway pertama yang saya ikuti diadakan oleh El Kharima pada tahun 2017. Sayangnya, setelah saya telusuri, link-nya sudah tidak ada. Mungkin beliau sudah tidak ngeblog lagi.
Hadiah yang saya peroleh lumayan banyak, mulai dari skincare, suplemen, lipstik dan bedak jenama terkenal, bahkan sebuah mug bertuliskan nama saya, yang masih digunakan hingga hari ini.

Ikut Lomba Blog
Ngeblog dari curhat, lalu merambah mendapatkan fee dari artikel CP dan CW, lanjut ikutan giveaway yang diadakan oleh beberapa blogger, menambah semangat untuk tetap menulis dan ikut challenge lainnya. Salah satunya adalah ikut lomba blog.
Beberapa kali saya ikut lomba yang diadakan oleh komunitas, brand OTA, brand laptop, brand provider hosting dan telekomunikasi, blogger personal, perusahaan asuransi, lembaga pendidikan, pusat perbelanjaan, dan jenama lainnya.
Hadiahnya pun beragam, mulai dari mukena, uang, voucher belanja, kesempatan menulis buku bunga rampai dan diterbitkan oleh Dinas Kebudayaan, ponsel, hingga air purifier.


Akhir-akhir ini, setelah perjalanan 10 tahun, saya lihat sudah jarang lembaga atau brand mengadakan lomba blog. Selain itu, saya pun mulai kurang tenaga untuk bersaing dengan bloger muda yang ide tulisan lebih kekinian serta kemampuan memoles blog lebih mumpuni.
Mendaftar ke Marketplace Backlink
Sebuah komunitas yang diprakarsai oleh seorang blogger dari Tangerang, membawa saya memiliki beberapa blog lain. Punya beberapa blog itu mau diapain?
Pengetahuan saya pun bertambah, tentang kesempatan blog bisa menghasilkan uang melalui marketplace backlink. Di sini, bloger tinggal mendaftarkan blog-blognya sebagai publisher, rajin update blog dengan artikel berbobot. Nanti tinggal tunggu saja email atau notifikasi dari advertiser, untuk mempublikasikan artikel CP atau CW.
Ternyata dunia digital tidak selamanya langgeng. Pergeseran trend marketing dari nasarasi tulisan menjadi visual, membuat beberapa marketplace gulung tikar.
Ramai curhatan para blogger yang dananya masih nyangkut di marketplace yang gulung tikar tersebut.
Blogwalking dan Arisan Backlink
Melalui sebuah komunitas bloger, saya jadi mengenal yang namanya blogwalking. Sebuah kegiatan menyambangi blog teman, membaca, dan memberi komentar di blog tersebut.
Kemudian kegiatan lainnya adalah arisan backlink, yaitu kita menulis artikel sesuai kata kunci dari pemenang arisan, kemudian dibuat external link yang mengarah ke pemenang arisan.
Walaupun konon, masih menjadi perdebatan bahwa kegiatan tersebut meningkatkan pageview, tolok ukur bloger bahwa blog tersebut ramai dikunjungi, tetapi kegiatan tersebut cukup positif. Minimal saya jadi harus menulis dan update blog, bukan?
Trend Ngeblog Tahun 2026
Banyak kisah yang dibagikan oleh para bloger yang mulai ngeblog jauh sebelum saya, bahwa dulu ngeblog lebih menjanjikan daripada sekarang.
Terutama dari sisi nominal fee publish artikel yang dirasa makin menurun dan ketatnya persaingan.
Marketplace backlink yang digadang-gadang tumpuan harapan bloger pun, satu per satu tutup lapak.
Sebuah provider hosting yang sempat saya ikuti lomba blognya dan menjadi salah satu pemenang, idem, berujung bangkrut.

Bahkan beberapa teman bloger yang sewa domain melalui perusahaan tersebut, jadi tidak bisa memperpanjang domainnya. Ya tentu saja, teman bloger pun tidak lanjut ngeblog lagi.
Celakanya domain personal tersebut malah diambil alih slot judi. Apes banget, domain yang sesuai nama kita, jadi domain judi.
Dunia digital memang berubah banyak, orang sekarang lebih suka menonton video pendek daripada membaca tulisan. Kalaupun masih ada brand yang melibatkan bloger untuk mereview produknya, harus pula dibarengi dengan membuat video/slide di Instagram Reels atau Tiktok.
Bloger pun dituntut tidak hanya bisa menulis konten yang berkualitas, rapi, dan terstruktur, tetapi juga memperhatikan kaidah SEO serta Search Intent, serta harus piawai membuat video yang menarik.
Penutup
Perjalanan 10 tahun blogging, mau terus lanjut dengan ketatnya persaingan dan harus upskill terus menerus, atau menyerah tutup domain?
Di tengah harga sewa domain dan hosting yang merayap naik, membuat banyak bloger beralih ke platform yang tidak memerlukan hosting. Atau sekalian saja ke domain gratisan, untuk sekadar menampung hobi menulis dan kembali ke tulisan curhat.
Saya pun sempat gamang, apalagi usia pun engga bohong, ada rasa jenuh dan kehabisan ide mau menulis apa lagi. Ada terbersit lelah menggapai tolok ukur blog yang dianggap berkualitas dari angka-angka rangking, DA/PA, DR, Alexa Rank, Spam Score, dan lain-lain.
Bagi bloger yang dulu berusaha meraih peringkat halaman muda di Google, sekarang harus berhadapan dengan “Ringkasan Google AI”, yang merangkum semua informasi digital.
Motto “content is the King” seolah hanya angan-angan karena saingan dengan Akal Imitasi/Artificial Intelligence. Kalau begini, apakah pilihannya, balik ke blog curhat aja?…
Beruntungnya saya masih bergabung dengan beberapa komunitas blogger, salah satunya Blogger Bandung, yang beberapa kali mengadakan pertemuan untuk sekadar sharing, Review Bandung, atau membuat buku antologi.
Bergabung dengan komunitas seperti ini menjadi penyemangat untuk tetap ngeblog dan menulis artikel yang bermanfaat.





Perjalanan 10 tahun blogging yang luar biasa..Mba Hani menginspirasi sekali, tulisannya meluas beda blog beda gaya, itu yang saya suka. Salut masih eksis hingga kini di tengah teman-teman blogger seangkatan yang mungkin mulai lelah. Semangat terus ngblognya, Mba!
Masya Allaah.. senangnya baca tulisan ini. Jadi flashback ke diri sendiri, dan mereka ulang betapa banyaaaknya manfaat blogging dalam hidupku, menghasilkan dengan jumlah yang lumayan (di atas UMR jakarta pastinya hhehhehe ) bahkan hingga detik ini! Bahkan bisa beberapa kali liburan sama keluarga, dan mewakili komunitas ke luar negeri, dan bisa kolab sama tour and travel umroh juga dari sini.
Yes, memang sekarang eranya pindah ke video pendek, reels, toktik, dll. Tapi sebagai blogger yang -mau gak mau- ngikutin perkembangan jaman juga (ceileee) walau gak se”ganas” Gen Z, tapi aku juga belajar bikin video, bikin story telling (belajar dari anakku Dio yang editor video)
Aku juga mengajarkan ke anak-anak based on pengalaman sebagai blogger, waaah…. blogging memang mengubah duniaku!
banyak senengnya ya jadi blogger
Malah saya dulu sempat pernah dapat honor menulis Rp 3 juta
dan dapat hadiah sepeda motor
Belum lagi smartphone (pernah beberapa kali) sepeda dan masih banyak lagi
sayang sekarang sepi, tapi gak papa karena blogging bermanfaat untuk diri sendiri, salah satunya mencegah pikun dini
Waah.. Keren mba hani mulai dari 2007. Perjalanan mba hani 10 tahun ngeblog sama dengan saya, bedanya saya ga pernah kasib give away.. Hahaha.. Tapi kurleb sama. Dimulai dari SMP yang senang nulis diary.
Memang jika ingin terus bertahan blog kita menghasilkan cuan. Kita musti benar2 kreatif dan mau berlajar mengikuti perkembangan jaman. Semoga blog kita terus awet ya, mba.. Dan terus menghasilkan cuan
Padahal bisa dikatakan nge-blog memang jadi ladang penghasilan yang oke ya, karena style buat tulisan blog berbeda dengan media yang lain. Moga masih bisa bertahan yuk
Gak terasa udah 1 dekade aja ya mbak. Rasanya banyak bagian yang relate dengan pengalaman blogging aju juga, mulai dari ngeblog sekadar curhat, lalu pelan-pelan mengenal dunia CP, CW, lomba blog, sampai akhirnya tahu kalau blog juga bisa menghasilkan cuan.
Aku juga kangen masa ketika dunia blogging masih ramai dan penuh semangat. Serta tentunya penuh komentar jujur, bukan komentar olahan hasil Ai. Hehehe. Sedih aja kadang kalo nemu komenan teman sesama blogger pake Ai. Hehehe. Okelah, mungkin blogger zaman now nulis sebagian dibantu Ai. Tapi pas blogwalking, apakah pantas harus komentar Ai juga? Aku sedih euy.
Jadi Bloger tuh benernya seru dan asyik, ya. Apalagi buat yang suka nulis. Selain curhat online, bisa cuan lagi
Iya ya mbak keinget zaman dulu tu suka ada GA antar blogger. Hadiahnya gak melulu berupa uang, tetapi printilan apa aja udah suka banget.
Aku pun alhamdulillah menikmati banyak hal dari aktivitas blogging, mulai uang hingga dapat pekerjaan, dapat teman2 baru juga ya.
Dulu lomba2 blog juga banyak bener, kemudian pekerjaan2 juga fee-nya lumayan ya.
Sayang banget nih makin ke sini blogging kegeser. Bahkan di dunia kreator konten banyak yang gak paham ngeblog itu apa hehe. Tapi ya sudahlah, tetep ngeblog emang karena suka nulis sih. Buat kenang2an juga 😀
Masha Allah inspiratif sekali cerita 10 tahun ngeblognya. Berproses dan bertumbuh lewat ngeblog banget ini sih. Yang awalnya nulis karena happy, berbuah hasil bahkan jadi upgrade skill.
Bener sih, content is king banget. Udah gitu join ke komunitas mantap betul, jadi nambah relasi dan makin banyak kesempatan baik yang akan diterima.