Sebuah pesan pendek dari teman saya sesama penulis dari Indscript Creative menyampaikan, apakah saya bersedia jadi editor untuk buku yang ditulis para guru. Buku tersebut berupa book chapter yang temanya adalah “Deep Learning dalam Pendidikan“.
Book chapter (bab buku) dalam dunia penerbitan, khususnya di lingkungan akademik dan profesional, memiliki makna yang lebih spesifik daripada sekadar bagian dari sebuah buku. Sering juga disebut sebagai buku bunga rampai yang memiliki sub topik tertentu dan setiap bab ditulis oleh penulis atau tim yang berbeda.
Jumlah penulis buku bunga rampai biasanya 5-20 orang. Mungkin kalau di dunia penulisan literatur, identik dengan buku antologi. Hanya saja merupakan buku antologi adalah kumpulan karya kreatif atau sastra, sedangkan buku bunga rampai lebih formal dan ilmiah, serta sering dipakai sebagai referensi ilmiah atau luaran penelitian/seminar.
Tentang Buku “Deep Learning Dalam Pendidikan”
Judul Buku: Deep Learning dalam Pendidikan
Nama Penulis: Ikariya Sugesti, dkk
Penerbit: FBM Solusindo
ISBN: 978-634-7098-17-7
Ukuran 176×250 mm
Full Black White 367 Halaman
Bookpaper 72
Laminasi Doff/Glossy
Soft cover
Harga Penulis Rp134.000/Eks
Harga PO Rp144.000/Eks
Harga Normal Rp154.000/Eks
Cetakan Pertama: Juli 2025
Daftar Isi
BAGIAN 1: LANDASAN TEORI & KONSEP DASAR
KONSEP DAN PILAR DEEP LEARNING DALAM PENDIDIKAN
- Implementasi 3 Pilar Deep Learning Dalam Pembelajaran
- Deep Learning Untuk Pendidikan Berkelanjutan
- Deep Learning Membangun Generasi Kreatif
TANTANGAN DAN ETIKA DALAM DEEP LEARNING
- Tantangan Implementasi Deep Learning Dalam Pendidikan
- Tantangan Dan Etika Penggunaan Teknologi Dalam Pendidikan Anak Usia Dini
- Optimalisasi Infrastruktur Internet Of Things Dengan Deep Learning
TEKNOLOGI, EDTECH DAN ERA DIGITAL
- Edtech & Deep Learning: Mindful, Meaningful, Dan Joyful Learning Di Era AI Dan Digitalisasi
- Mengembangkan Pemahaman Guru Tentang Deep Learning Melalui Proyek Kolaborasi Mindful Meaningful Joyful
BAGIAN 2: PRAKTIK & IMPLEMENTASI DEEP LEARNING DI BERBAGAI JENJANG
DEEP LEARNING DI PENDIDIKAN ANAK USIA DINI (PAUD)
- Joyful Learning Dalam Pembelajaran PAUD
- Menumbuhkan Pola Pikir Kritis Anak Usia Dini Dengan Deep Learning Dan Media Alami
- Menumbuhkan Kemampuan Matematika Dan Berpikir Komputasional Di PAUD Melalui Deep Learning
DEEP LEARNING DI PENDIDIKAN DASAR (SD)
- Implementasi Deep Learning Berbasis Problem-Based Learning Dalam Pembelajaran IPAS Di SD
- Pembelajaran Coding Dan AI Dalam Deep Learning Di Sekolah Dasar
DEEP LEARNING DALAM MATA PELAJARAN KHUSUS
- Deep Learning Dalam Pembelajaran Matematika
- Deep Learning Pada Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)
- Optimalisasi Pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam Melalui Teknologi Deep Learning
- Transformasi Strategi Pembelajaran Bahasa Arab: Meningkatan Motivasi Belajar Mahasiswa Melalui Pendekatan Deep Leraning
- Transformasi Membaca Kritis Dengan Deep Learning
PENDEKATAN LINTAS BIDANG & KARAKTER
- Optimalisasi Pendidikan Karakter Dengan Deep Learning
- Implementasi 7 Kebiasaan Anak-Anak Indonesia Hebat Dalam Pendidikan Deep Learning
- Membuka Cakrawala Sains Dengan Deep Learning Yang Menyenangkan
DEEP LEARNING DI BIDANG KREATIF & DESAIN
- Pendidika Islam Di Era Digital: Pemanfaatn Deep Learning Untuk Pembelajaran Berbasis Nilai
- “Deep Fashion” Deep Learning Dalam Desain Fashion
Seluruhnya ada 23 penulis yang berkontribusi dalam penulisan book chapter.



Buku “Deep Learning dalam Pendidikan”
Memahami Apa Itu Metode Deep Learning Dalam Pendidikan
Ketika didapuk oleh Ibu Sri Kuswayati atau lebih populer dengan nama Ummi Aleeya untuk menjadi editor, tentunya saya harus belajar dan memahami tema yang akan diangkat. Ummi sendiri sama-sama teman penulis dan blogger, yang juga seorang dosen di sebuah PTS di Bandung. Hanya saja Ummi melebarkan sayap sebagai founder “Joeragan Artikel”, sebuah komunitas pelatihan penulisan artikel, kemudian berkembang lebih jauh mendirikan penerbit Indie yang khusus menerbitkan buku-buku untuk guru.
Sama halnya dosen, guru pun mempunyai kewajiban menulis buku yang berkaitan dengan bidang ajarnya.
Istilah Deep Learning sering rancu dengan merujuk pada algoritma komputer atau AI (Artificial Intelligence), yaitu cara kerja yang meniru cara kerja otak manusia (jaringan saraf tiruan).
Sedangkan dalam konteks pendidikan, Deep Learning adalah metode yang digaungkan oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., yaitu pendekatan pedagogi (cara mengajar) agar siswa mencapai pemahaman yang mendalam, bukan sekadar hafalan.
Metode ini dirancang untuk menjawab keluhan bahwa kurikulum kita seringkali “terlalu luas tapi dangkal.” Sebagai gantinya, Deep Learning berfokus pada materi yang lebih sedikit tetapi dibahas secara tuntas dan bermakna.
Pilar Utama pada Metode Deep Learning antara lain:
- Mindful: Apakah proses pembelajaran mengajak siswa berpikir kritis dan sadar akan apa yang mereka pelajari?
- Meaningful: Apakah ada contoh kasus nyata (kontekstual) yang membuat materi terasa penting bagi kehidupan siswa?
- Joyful: Apakah penyajian pembelajarannya menarik? (Ada aktivitas seru, kuis menantang, atau eksperimen sederhana).
Dari 3 pilar utama Deep Learning inilah saya menyimak satu persatu naskah yang mulai diupload oleh peserta ke Google Drive yang dibuat oleh tim Joeragan Artikel.
Seluruhnya ada 24 peserta, tetapi satu peserta terpaksa saya tolak tulisannya karena tidak memenuhi kriteria penulisan yang baku dan terstruktur selayaknya tulisan seorang guru.
Pembaban pada buku “Deep Learning Dalam Pendidikan” dibagi menjadi dua bab utama, yaitu pendekatan Landasan Teori dan Praktik & Implementasi pada berbagai jenjang.
Pada Bab I, dengan sub tema Landasan Teori, naskah peserta pun dikelompokkan lagi sesuai penajaman tulisan mereka. Seringkali ketika menulis, mengalir begitu saja, dan akhirnya mengerucut sesuai dengan bidang kajian.
Menariknya pada Bab II dengan sub tema Praktik & Implementasi, guru-guru menyertakan foto, diagram, dan hasil pengamatan murid-murid mereka di kelas. Sebagai bukti seperti apa mengajar berlandaskan tiga pilar Mindful-Meaningful-Joyful tersebut.
Suka Duka Menjadi Editor Buku Bunga Rampai
Pengalaman bagi saya, bahwa menjadi editor buku pelajaran tidak mudah, karena memiliki tanggung jawab yang besar.
Ada 23 kontributor yang materinya mirip, semua tentang metode Deep Learning dalam pendidikan. Boleh dibilang ada beberapa yang tumpang tindih, terutama dalam membahas teori tiga pilar utama Deep Learning (Mindful-Meaningful-Joyful).
Walaupun demikian karena ada sub-sub judul, maka membantu kotributor untuk memperkuat karakter masing-masing tulisan. Jadi tidak ada naskah yang betul-betul sama.
Apalagi beberapa di antaranya sudah mempunyai latar belakang pendidikan pasca sarjana bahkan doktoral, jadi tidak asing lagi menulis karya ilmiah. Home base sekolah para guru pun dari berbagai daerah di Indonesia, dari Jakarta, Bandung, Cirebon, Tasikmalaya, Jombang, Mandailing Natal, Tarakan, Makassar, Sumbawa Besar, Bali, hingga Kupang, dan kota-kota lain.
Tantangan editor dalam mengawal buku bunga rampai maupun antologi adalah ketaatan kontributor pada jadwal dan respon cepat untuk revisi. Selain itu banyaknya istilah asing (Inggris), perlu kehatian-hatian mencek ke KBBI dan EYD terbaru, kata yang masih ditulis asli atau sudah ada serapannya. Belum lagi harus koordinasi dengan layouter, memperbaiki typo, penulisan nama-gelar, dan pengajuan ISBN.
Progres penerbitan buku sempat berhenti agak lama, karena macet ketika menagih bionarasi dari seorang kontributor yang enggaaaa dikirim-kirim. Ada juga pada saat terakhir, seorang kontributor tiba-tiba tidak pe-de dan ingin mengganti seluruh draf tulisannya.
Satu saja penulis yang lambat mengumpulkan naskah maupun revisi akan menghambat seluruh proses penerbitan buku.
Penutup
Mungkin di antara pembaca sudah tahu, bahwa kurikulum pendidikan dasar & menengah di Indonesia terkenal dengan gonta-ganti sesuai dengan kebijakan Menteri-nya. Zaman dulu anak-anak saya sekolah dikenal dengan CBSA, lalu ada Kurikulum 2013, kemudian Kurikulum Merdeka, dan sekarang ganti lagi.
PR besar memang bagi para guru tersebut dengan beban yang semakin bejibun, ditambah lagi ada kewajiban menulis buku.
Mengawal para guru membuahkan buku bunga rampai (book chapter) seperti ini menjadi media pembelajaran juga bagi saya. Saya jadi ikut belajar apa itu metode Deep Learning dalam pendidikan.
Walaupun ada jengkel-jengkelnya juga bila menjumpai naskah yang plagiat dari website.
![[ReviewBuku] Deep Learning dalam Pendidikan](https://haniwidiatmoko.com/wp-content/uploads/2026/01/deep-learning1.jpg)


Jadi inget saya juga pernah ikut kerjaan Mbak Hani bikin ensiklopedia
kemarin ke perpus pusdai Bandung, saya ngelihat dan rasanya bangga banget hehehe
tentang buku deep learning, kalo gak salah blogger yang kebetulan berprofesi guru banyak ngebahas ini dalam tulisannya.
Emang bagus ya, peserta didik gak cuma menghafal terus lupa seperti kurikulum kita dulu 😀
Eh iyaya. Ambu ikutan yg Ensiklopedia Pramuka bukan?
Seru juga tuh…
Iya sih. Mau itu antologi atau buku bunga rampai, pokoknya yang ditulis beramai-ramai memang penting banget gercep. Gercep ngumpulin draft, gercep ngerjain revisian, dan gercep lain-lainnya.
Kan agak gimana gitu ya, kalau sebuah karya atau buku harus terhambat penerbitannya hanya karena 1 atau 2 orang yang kurang tanggap.
Deep Learning ini memang lumayan banyak yang bahas di website. Terlebih kalau websitenya memang dipegang sama guru.
Jujur sebagai ortu anak2 yang masih sekolah aku tu mumet sama arah pendidikan Indonesia ini hehe. Jadi keknya gak cuma guru aja yang mumet, ortu dan apalagi anak juga haha.
Baru tahu si pak menteri ternyata bikin buku juga yaa tentang Deep Learning ini.
Secara teori sih ok ya mbak, jadi pas belajar bisa happy/ joy, mindful bisa mikirin kritis tentang apa yang dipelajari, apalagi kalau gurunya/ ortunya ngajarinnya seru.
Tapi yaaa gitu, karena peninggalan lama masih textbook, jadinya emang perlu training2 gitu nggak sih rasanya? Supaya teori2 yang ada di buku2 semacam ini bisa bener2 terealisasikan dengan baik. Soalnya makin ke sini makin sedih juga dengan kualitas pendidikan kita sekarang ini hiks.
Kereeeen, Mba Hani jadi editor buku tentang deep learning dalam pendidikan …Meski dengan segala duka dan dukanya. Seru bacanya!
Saya sendiri sebagai orang tua murid makin ke sini sudah pasrah saja dengan kebijakan dan kurikulum yang berganti-ganti…ya sudahlah, yang utama nyiapin yang terbaik saja untuk anak dari rumah,
Welcome aboard Mbak Hani. Jadi editor memang gak hanya harus kuat linguistiknya tapi juga panjang sabarnya. Kemudian ada faktor kedisiplinan juga. Ini yang sepertinya belum begitu dipahami oleh beberapa orang. Makanya di WAG PAPI saya sering cerewet mengingatkan. Karena kalau terhambat di satu orang, time frame kerja akan terpengaruh.
Saya lagi belajar juga nih soal deep learning Mbak. Karena akan ada buku pendidikan yang akan saya handle dengan premis yang sama. Tantangan betul untuk buku pendidikan ya.
Saya selalu mengatakan kurikulum apapun di Indonesia sebetulnya bagus, bukan sempurna. Permasalahan utamanya adalah di gonta-ganti kurikulum yang terlalu sering. Ibaratnya baru mulai maju beberapa langkah, udah mundur lagi untuk beradaptasi dengan yang baru.
Kurikulum yang ini pun bagus. Ya semoga aja terus konsisten. Perbaiki yang masih kurang, bukan mengubah total mengganti kurikulum baru. InsyaAllah pendiidkan Indonesia semakin baik bila pelaksanaannya konsisten.
Terima kasih Mbak Hani. Jadi refleksi juga buat aku pribadi, kalo kita perlu meluruskan makna deep learning dalam konteks pendidikan. Jadi, kita nggak kebablasan ke Ai semata. Sebagai editor juga, aku juga mencatat ini, bagaimana kerja intelektual kita ke depannya. Guru, dosen, dan pengajar lainnya juga sama. Keren, Mbak Hani ulasannya.