Dari komunitas penulis independen mengangkat kisah keseharian pasar tradisional
Anak perempuan saya pada suatu hari nyeletuk, “Ibu sirkel pertemanannya sekarang banyak”. Saya rupanya tak menyadari, sejak purnabakti dan tidak terlalu sibuk lagi, malah gabung ke beberapa komunitas. Grup-grup WA bukannya berkurang, tetapi silih berganti, keluar dari grup kampus, tetapi menambah grup penulisan.
Sejak satu dekade belakangan, saya memang mulai menggeluti dunia tulis-menulis. Sehingga ketika officially retired, ada beban yang terangkat. Selanjutnya, saya suka rela menggeluti hal-hal yang disukai saja.
Salah satu grup penulisan yang saya mulai ikuti setahun terakhir adalah grup PAPI, singkatan dari Pondok Antologi Penulis Indonesia.
Foundernya, Mbak Annie Nugraha, yang juga seorang blogger, mengundang saya untuk bergabung di grup WhatsApp PAPI.
Bergabung Komunitas PAPI
Pondok Antologi Penulis Indonesia (PAPI) adalah sebuah komunitas blogger dan penulis Indonesia yang memiliki minat yang sama, yaitu menulis buku antologi: sebuah buku yang ditulis oleh beberapa orang kontributor dengan tema atau premis cerita yang telah disepakati sebelumnya.
Komunitas Pondok Antologi Penulis Indonesia (PAPI) secara resmi didirikan pada 10 Januari 2022 oleh Annie Nugraha, seorang blogger dan penulis buku yang telah berkecimpung di dunia literasi sejak tahun 2017 (sumber: https://annienugraha.com/pondok-antologi-indonesia/)
Sesuai namanya, tentu saja, kami yang bergabung diminta menulis artikel antologi dengan tema yang mengikuti syarat dan ketentuan.
Ketika pertama kali terlibat untuk menulis kisah antologi, saya ikut tema ke-9, yaitu tema Pasar Nusantara. Saya menulis dua artikel tentang pasar, yaitu Pasar Gede Hardjonagoro di Surakarta dan Pasar Burung Sukahaji di Bandung.
Sharing Buku Jelajah Pasar Nusantara
Hari Minggu, 16 Agustus 2026, pukul 10.30-12.30 WIB yang lalu, Mbak Annie mengajak saya untuk diskusi dan bedah buku antologi Jelajah Pasar Nusantara.
Acara yang dimoderatori oleh Kang Dudi Iskandar ini bertempat di Perpustakaan Bunga di Tembok, Jalan Pasirluyu Timur.
Saya pernah ke perpustakaan ini untuk menghadiri sesi sharing bukunya Atep Kurnia berjudul Boemeltrein. Siapa yang mengira dari menghadiri sebuah sesi sharing penulis lain, sekarang saya yang akan sharing.
Pagi itu saya tiba sekitar pukul 10 lebih, Mbak Annie dan Kang Dudi sudah hadir.
Di meja depan sudah tertata rapi beberapa buku Jelajah Pasar Nusantara dan koleksi kartu pos hasil jepretan foto pribadi Mbak Annie, ketika menjelajah ke berbagai tempat di Nusantara.




Tentang Annie Nugraha Mediatama
Sesi sharing diawali oleh tuturan Mbak Annie tentang latar belakang lahirnya sebuah komunitas penulisan. Kenapa antologi?
Sederhana saja. Buku antologi bertujuan sebagai wadah bagi siapa saja yang ingin menerbitkan buku, tetapi belum punya kapasitas untuk menulis buku solo.
Setelahnya, penjelasannya tentang kiprahnya hingga mewujudkan penerbit indie bernama Annie Nugraha Mediatama. Bukan hanya soal personal branding, tetapi juga berkat kecintaannya pada dunia literasi, sehingga tidak mau setengah-setengah.
Mbak Annie, sebagai kontributor di buku antologi dengan tema pasar tradisional, juga berbagi pengalaman menulis tentang pasar di Tidore dan dua artikel lain.
Pengalaman Menulis Buku Antologi di PAPI
Saya sering berkontribusi untuk menulis naskah antologi dengan berbagai tema dari komunitas yang berbeda. Biasanya persyaratannya tak sulit, hanya menulis kira-kira 1000 kata atau 4 halaman A4.
Tapi untuk buku antologi di PAPI ada persyaratan yang agak berbeda, kami diminta untuk menulis dengan gaya storytelling. Hindari gaya menulis seperti di Wikipedia.
Saya sendiri masih belajar menulis dengan gaya storytelling. Dulu di kampus, gaya menulis jurnal dan makalah ilmiah, tentu sangat berbeda dibanding free writing. Bahkan menulis di blog pun, saya seringnya poin-poin saja, belum lagi kalau memperhatikan kaidah SEO atau Search Intent.
Walaupun waktu penulisan cukup lama, 3 bulan, maksimal 2500 kata, buat saya cukup sulit untuk merangkai paragraf dengan diksi yang tak sekaku jurnal.
Moto PAPI juga sangat unik: Meramu Kata Berbagi Cerita.
Untuk mendapatkan kisah yang menarik dan storytelling-nya tidak kaku tentang Jelajah Pasar Nusantara, saya beberapa kali mendatangi pasar yang akan ditulis. Menyempatkan diri duduk agak lama, mewawancarai pemilik los pasar tertentu.
Memang untuk membuat cerita yang menarik, kita tuh tidak bisa hanya lewat saja. Harus meluangkan waktu, mengamati, mencermati aktivitas di pasar.
Di Pasar Gede Hardjonagoro, Surakarta, saya mengangkat kisah penjual dawet, Bu Wiji. Jadi, sambil membeli dawet, wawancara tipis-tipis beliau. Mengupas satu demi satu bahan-bahan jualannya, lapaknya, dan keseharian beliau.
Sedangkan di Pasar Burung Sukahaji, saya mengikuti suami yang akhir-akhir ini hobi memelihara burung. Jadi waktu itu, saya menyimak obrolan antara pembeli dan penjual. Memperhatikan setiap burung hingga sangkar burungnya, suasana lapak, dan poster-poster di lapak tersebut.
Pada sesi tanya-jawab, Teh Anil, teman komunitas 1 Minggu 1 Cerita, khusus menyempatkan hadir dari rumahnya agak di luar Kota Bandung. Teh Anil, yang sedang mempertimbangkan untuk menjelajahi dan menulis tentang pasar juga, mengakui bahwa kita, kalau mau tahu sesuatu lebih dalam, tak bisa hanya mampir sebentar.

Walaupun peserta tak banyak, sesi sharing ini menurut saya sangat efektif. Audiens mendapatkan banyak informasi tentang sebuah komunitas penulis independen, penerbit indie, dan pengalaman penulisan dari dua penulis yang berbeda.
Benar seperti yang tertulis di IG-nya Perpustakaan Bunga di Tembok, sebuah komunitas, terutama komunitas penulisan, adalah untuk memberi ruang bagi penulis dengan latar belakang berbeda, kemudian mendokumentasikan.
Tema Pasar adalah untuk menangkap potret paling jujur dari sebuah kota atau tempat tinggal kita. Seperti kata pepatah, kalau mau tahu karakter suatu tempat, datanglah ke pasar tradisionalnya.
Setelah sesi tanya jawab, maka diskusi dan bedah buku pun diakhiri dengan quiz ke para peserta.

Penutup
Siang itu saya mengakhiri sesi sharing dengan perasaan happy berjumpa dengan kawan, yang selama ini hanya tahu dari grup Whatsapp. Hubungan menjadi semakin akrab dan semakin yakin bahwa saya tidak salah memilih sirkel pertemanan. Sirkel teman penulis ini bisa meluas, menjadi sirkel blogger, penulis perjalanan, antologi, editor, dan walking tour. Sebuah komunitas jalan-jalan dari berbagai kota, yang nantinya menjadi materi spesial untuk saya tulis di blog.
Masih ada acara lagi sesudahnya, yaitu Pop Up Spesial dengan tagar #PerihalNama oleh Clinsen.
Clinsen melalui media mesin tik akan menyusun sebuah puisi populer dari nama lengkap kita. Terbitnya puisi dari hasil ngobrol-ngobrol ringan secara personal.

Oh ya, sesi sharing tentunya tak lepas dari ambience Perpustakaan Bunga di Tembok yang cozy dan cocok banget buat berlama-lama bercengkerama sambil menikmati pilihan menu di cafe.
Saya pun sambung berjumpa dengan anak dan seorang kenalan baik.

Terima kasih Mbak Annie Nugraha yang memberi ruang bagi siapa pun yang ingin menghasilkan karya literasi.
Yuk…yang mau bergabung sebagai penulis PAPI, bisa cek IG-nya https://www.instagram.com/pondok_antologi/



MasyaAllah seneng banget baca cerita lewat tulisan ini. Sesi sharing bermakna, seru, dan mempertemukan dengan banyak orang pencinta literasi terutama. Tempatnya pun cozy.
Aku salut, Ibu sangat produktif banget. Bahkan setelah purna bakti, mengisi hari-hari dengan menulis dan berkecimpung di dunia literasi. Sehat dan semakin enjoy menulis.
Sesi bedah buku antologi Jelajah Pasar Nusantara, pastinya sangat menarik. Kebetulan, aku salah satu penulis yang tergabung. Membahas terkait pasar Santa Jakarta. Semoga semakin sukses untuk PAPI, makasih banyak juga pada Bu Annie yang sudah mendirikan komunitas keren (mempertemukan banyak penulis hebat menginspirasi pula).
Alhamdulillah bisa ada di buku antologi unik dan keren ini bersama para penulis yang ga kalah keren😍😍😍
Mbak Hani, baca tulisan ini rasanya kayak ikut diajak jalan-jalan ke pasar, bukan cuma melihat aktivitas jual belinya, tapi juga para penulis menangkap cerita dan kehidupan yang ada di baliknya. ❤️
Menarik banget ketika pasar dijadikan bagian dari perjalanan dan kemudian dituangkan menjadi buku Jelajah Pasar Nusantara. Karena memang ya, pasar itu bukan sekadar tempat transaksi. Ada kuliner, budaya, kebiasaan, orang-orang, sampai cerita kecil yang kadang justru paling berkesan.
Pasti pada penasaran juga dengan isi bukunya, kaaan wahai pembaca?
Sementara di ruang antrian menunggu Ibunegara dipanggil dokter. Saya melihat WAG PAPI dan membaca ulasan Ibu Hani Widiatmoko. Menarik baca ceritanya, saya saat event di Bandung saya tak bisa hadir. Jika nanti ada di Jakarta, semoga bisa hadir untuk berguru dengan penulis-penulis keren di PAPI. Salut dengan semangat Bu Hani yang setelah pensiun, justru semakin menyala dengan ragam aktivitas, termasuk Menulis. Selamat berdampak yaa…..salam hangat