Kalau diingat-ingat ketika anak-anak belum berkeluarga dan masih tinggal bersama kami, mereka tidak pernah rewel soal menu makanan. Begitu pula dengan menu buka puasa favorit.
Kami, terutama saya, memang menanamkan menghargai apa yang terhidang di atas meja, dan sebisa mungkin tidak pilih-pilih atau membuang makanan.
Iya, saya memang strik soal ini. Ya kalik, orang tua sudah bekerja bahu membahu mencari rezeki, anak-anak tinggal makan, tidak pantas rasanya pilih-pilih menu makanan.
Saya pun sudah berusaha memenuhi gizi seimbang, walaupun memang cenderung masak yang praktis-praktis saja. Belakangan setelah mereka berkeluarga malah baru tahu, ada beberapa jenis makanan yang mereka kurang suka, tetapi memilih diam dan solusinya tidak mengambil yang tidak disukai.
Menu Berbuka Puasa Dengan Kolak
Kalau dipikir, saya tuh lebih memenuhi menu berbuka puasa favorit suami loh. Saya dan anak-anak ya ikut saja dan menyantap apa yang terhidang.
Kolak Labu Kuning, kami menyebutnya Kolak Waluh, menjadi menu berbuka puasa favorit keluarga kami.
Saya pun kurang jelas, kenapa suami demen banget Kolak Waluh. Saya pun baru tahu ada Kolak Labu Kuning ini ya karena menikah dengan suami kok.
Seumur hidup, di rumah saya yang keluarga suku Jawa Tengah, kalau buka puasa, Ibu biasanya menghidangkan Kolak Pisang. Saya lupa sih, apakah pernah dihidangkan jenis kolak-kolak lainnya.
Belakangan ketika menikah, saya yang keidean bervariasi menghidangkan aneka kolak. Kadang kolak pisang, yang saya amati, keluarga kurang begitu suka. Mungkin saya salah pilih pisangnya. Sesekali kolak ubi dan buat variasi saya tambahkan kolak-kaling. Kadang bikin juga kolak singkong, atau pernah juga malah ditambahkan tape singkong.
Zaman anak-anak kecil saya punya ART, sesekali dia membantu membuatkan kolak biji salak. Kami menyebutnya candil, bentuknya bulat-bulat dan kenyal. Lumayan kerjaan tangan sih membuatnya…
Apa itu Kolak
Menurut Wikipedia, Kolak (atau kolek) adalah hidangan penutup khas Indonesia yang berbahan dasar gula aren atau gula kelapa, kuah santan, daun pandan, dan variasi isian sesuai selera (pisang, ubi, singkong, waluh, dan lain-lain). Kolak memiliki rasa yang gurih, manis, dan tekstur yang lembut. Kolak biasanya disajikan hangat, tetapi bisa juga disajikan dingin dengan ditambah es batu sehingga menjadi es kolak. Meski saat ini sudah dapat ditemui di mana saja, tetapi kolak sejatinya berasal dari Jawa.
Di Indonesia, kolak merupakan hidangan yang disukai masyarakat sebagai salah satu menu berbuka puasa di bulan Ramadan. Pada bulan tersebut, penjual makanan musiman yang menjual kolak, sering disebut tajil, dapat dengan mudah ditemukan di pinggir jalan raya perkotaan. Selain buah pisang, kolak biji salak juga kerap ditemui saat bulan Ramadhan. Kolak biji salak (candil), sama sekali bukan berasal dari buah salak, tetapi terbuat dari ubi jalar yang dibentuk bulat-bulat, lalu dicampur dengan tepung tapioka.
Di Bandung ada beberapa toko makanan yang terkenal menjual kolak campur, yang dijual tak tergantung bulan Ramadan atau bukan. Langganan kami di jalan Macan atau jalan Kalipah Apo.
Kolaknya macam-macam pilihan, ada 9-10 wadah stainless steel, variasi dari candil ubi kuning, candil ubi ungu, jali-jali/hanjeli, ketan hitam, pisang, bubur sumsum berwarna hijau, pacar cina, bubur sagu, dan lain-lain. Biasanya pembeli boleh membeli campuran 3-5 jenis bubur, nanti diberi santan, dan pilihan mau ditambah es batu atau tidak.

Nah, di penjual makanan tajil Ramadan atau di toko makanan, belum pernah lihat penjual kolak waluh labu kuning ini. Jadi opsinya memang bikin sendiri.
Resep Kolak Waluh Labu Kuning Non Santan
Sudah beberapa tahun ini kami sekeluarga sangat mengurangi konsumsi santan. Hidangan menu kolak-kolakan gini, santannya diganti dengan fibre creme, yaitu sejenis krimer bubuk yang terbuat dari serat alami, sehingga memberikan rasa creamy tanpa kandungan kolesterol.
Produk ini sering digunakan sebagai alternatif pengganti santan, susu, atau krimer biasa dalam berbagai masakan dan minuman.
Bagi yang peka akan rasa, memang sih, rasa gurih santan tidak tergantikan. Walaupun fibre creme kurang nendang rasanya dibanding santan, demi kesehatan tak apalah, keuntungan lainnya tidak cepat basi.
Berikut bahan-bahan dan cara membuat kolak waluh labu kuning, atau yang sering disebut pumpkin. Menurut penelitian, labu kuning adalah superfood, kaya akan beta-karoten, vitamin A-C-E, dan serat.
Bahan-bahan:
- Buah waluh / ubi kuning tua, beli sesuai kebutuhan saja. Saya biasanya minta sekalian dipotong kotak-kotak di pasar, karena buah ini kalau mentah keras. Isian tengahnya mirip serabut, yang biasanya dibuang, saya minta, termasuk biji waluhnya. Itu udah haknya bapaknya anak-anak, dia paling suka bagian ini. Nanti biji waluh dimakan seperti kwaci. Uniklah…
- Air di panci secukupnya asal waluh terendam. Kalau matang, waluh akan menciut, sehingga airnya sering terlalu banyak kalau sepanci penuh.
- Kolang kaling sesuai selera
- Gula merah secukupnya, boleh ditambah gula pasir bila kurang manis
- Garam sejumput
- Daun pandan selembar
- Fibre Creme 3 sendok makan atau sesuai selera
Cara Membuat:
- Rebus waluh bersama gula merah, gula pasir, daun pandan, dan sejumput garam
- Bila sudah agak matang tambahkan kolang-kaling dan fibre creme. Rebus lagi sebentar.
- Cek keempukan labu dengan garpu. Bila mudah ditusuk berarti sudah cukup matang.
- Jangan terlalu lama direbusnya, karena waluh cepat lembek dan hancur.
- Kolak waluh siap dihidangkan, bisa hangat atau tambah es sesuai selera.
Penutup
Sebelum Ramadan, putra sulung dan istrinya mengundang acara keluarga di sebuah restoran Sunda bernama Kampung Kawangi, tempatnya dekat jalan tol Cisumdawu (Sumedang).
Sebagai hidangan penutup disajikan Kolak Labu Kuning yang penyajiannya unik. Labu ukuran besar dibelah dua horisontal, lalu ditengahnya diberi kuah santan gula merah.
Cara makannya dengan mengeruk labu yang empuk, sajikan dalam gelas seng, kemudian diberi kuah santan.


Kolak Waluh ala Kampung Kawangi dan Labu (Kabocha) oven
Ternyata kami sekeluarga suka banget. Pengen tiru, tapi sepertinya perlu dandang yang besar untuk mengukus labu sampai empuk. Surprised-nya lagi, putra sulung mencoba membuat kolak waluh ala Kampung Kawangi, di rumah dengan cara dioven. Pakai kabocha dan buttercup yang lonjong, hasilnya mendapatkan waluh yang empuk, tinggal disiram kuah santan gula merah.
Engga ngira, ternyata kenangan Kolak Waluh Labu Kuning, menu buka puasa favorit ayahnya, melekat di bawah sadar anak-anak hingga mereka dewasa.
Ramadan kali ini, walaupun sekarang tinggal kami berdua, Kolak Waluh Labu Kuning siap tersaji untuk buka puasa.
Artikel ini ditulis untuk Challenge Menulis IIDN




Masya Allah… kenangan hangat tentang kolak labu kesukaan ayah (& keluarga) memang SE so sweet itu yaah… duh Hani bikin mataku membasah
Ingat almarhum Bapak yang suka banget kolak (santannya harus encer no sugar at all) ngandelin manisnya dari pisang kepok matang dan harus disajikan panas, sama teh panas tawar kesukaan beliau… (doa terindah untuk beliau )
thanks Hani artikel kali ini so memorable
Menu favorit saya juga ini olahan labu kuning ini dan juga tanpa santan, hanya berkuah campuran air, gulmer, dan rempah2. Sayangnya, anak saya nggak begitu suka kolak, jadinya kalau bulan puasa untuk menu buka, malah nggak pernah bikin kolak, hiks.
Keren putranya mba Hani bisa mengolah kolak labu kuning dengan tampilan mirip restoran dengan cita rasa yang menggugah selera dengan kenangan yang menyertainya.
Kalau mau ngomongin soal kolak favorit, jujurly, aku sendiri nggak ada yang paling kusuka. Rasanya so so aja.
Kayak, kalau ada ya dimakan. Itupun nggak banyak. Tapi, aku selalu nggak pernah nolak kalau dikasih kolah ketela rambat.
Wah kalau di rumah saya, labu kuning ini dijadikan bubur Mbak. Dibuat seperti mashed potatoes. Tidak encer. Biasanya dinikmati dengan telur rebus dan salad. Duh saya bisa habis dua mangkok kalo begitu hahaha. Apalagi pas nemu labunya manis (tapi tentu saja tidak berlebihan). Beuuhh langsung rakus. Kalau dijadikan kolak, gak ada yang minat.
kalo gak salah kata “kolak” digunakan masyarakat Jateng, sedangkan di Jabar “kolek”
untuk masakan yang sama
Saya juga baru lihat kolak waluh sesudah di Bandung, jauh dari ibunda yang bikin kolak gak jauh dari pisang dan kolang kaling.
jika mau sensasi beda lainnya, coba deh kolak kampiunnya RM Sari Bundo jalan Merak, ada juga di Jalan Taman Pramuka dan Jalan Antapani
Lha kok jadi promosi 😀
Kolak waluh labu ini kalau di Kaltim banyak ditemukan kak, bahkan untuk campuran donat, bingka, sayur santan sampai sayur bening bayampun pakai campuran labu kuning itu. Seenak itu memang ya
Inget waluh jadi inget Yati. Eh tahu nggak sih Yati yang viral di X? hahaha
Udah hari ke berapa ini saya masih belum makan kolak mbak, emang jarang bikin, biasanya beli.
Tapi menarik juga nih kalau bisa recook resep mbak yang satu ini 😀
Fibre creame itu buat pengganti santannya ya mbak? Sehingga rasanya nggak terlalu pekat banget gitu ya, tapi berasa creamy-nya.
BTW lucu banget konsep menu kolak mengeruk labu, mengingatkanku pada penyajian es kelapa muda dengan batok kelapanya langsung 😀
Iya kyknya mbak, butuh dandang besar supaya labunya bener2 bisa empuk ya 😀
Saat saya kecil di Kediri Ibu saya sering bikin kolak waluh ini…memang special apalagi kalau makan bijinya juga, kayak makan kwaci. Di sini ada labu, kapan kalau belanja beli ah, biar nostalgia makan kolak waluh ala ibu saya
Itu penyajian kolak waluhnya unik banget ya, out of the box nih, keren kampung Kawangi
Jangan-jangan memang kolak waluh khas Jatim ya. Soalnya Ibu Mertua kan dari Malang…
Daku belum pernah nih mencoba bikin kolak dengan fiber creme. Pernahnya pakai susu dan santan. Sepertinya ide mantuls juga buat diikuti, mengingat adakalanya harga kelapa naik ya Kak hihi
Lihat menu berbuka puasa kolak labu kuning ini bikin kangen sama mama, beliau suka banget masak kolak ituuu… sekali masak, langsung banyak pula. Katanya, biar sekalian capeknya, dan bisa bagi-bagi ke keluarga maupun tetangga. Hiks… Al-fatihah buat mama…
Nah itu, sekali masak banyak, karena labu kan gede banget yak. Mungkin 1 labu utuh yang dimasak. Indahnya kenangan Mama. Al Fatihah buah Mamanya…
Aku juga baru kepikiran soal penggunaan fibre creme sebagai pengganti santan, Mbak Hanni. Memang benar, rasa santan itu khas sekali, tapi pilihan ini bisa buat yang mau ngurangi santan tanpa kehilangan sensasi creamy di kolak. Apalagi kolak waluh ini kayaknya eemang udah manis alami dari labunya dan gula merahnya.