Rumah Atsiri Indonesia, Harum Mewangi Khas Indonesia

hani

Rumah Atsiri Indonesia, Harum Mewangi Khas Indonesia

Akhir-akhir ini kalau saya puyeng dan terkena writer’s block, ternyata menghirup wewangian lembut dan ringan, tuh bisa membuat rileks. Mood booster banget. Jadi, selain di meja rias, di dekat PC, bahkan di dalam tas, selalu sedia minyak wangi favorit ukuran kecil.
Nah, pada suatu hari berkesempatan ke Solo, saya googling tempat mana lagi yang belum disambangi sekitar Solo. Saya sering ke Solo, ikut suami kalau dinas menjadi penguji di sebuah kampus. Rasanya museum-museum di Solo sudah pernah dikunjungi dan ditulis di blog. Kali ini saya menemukan, spot wisata yang cukup unik, yaitu Rumah Atsiri Indonesia, yang terletak di Jalan Raya Solo Tawangmangu KM 38,5, Desa Plumbon Watusambang, Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah.

Apa itu Rumah Atsiri Indonesia

Cek ke peta, Rumah Atstiri Indonesia jaraknya sekitar 30 km dari kota Solo.
Cek IG Rumah Atsiri Indonesia, ada shuttle jemput-antar di titik jemput yang sudah ditentukan dan ada biayanya.
Saya pun kontak ke seorang teman di Solo, Mbak Rini, tanya, sudah pernah ke Rumah Atsiri Indonesia belum? Ke sana naik apa?
Eh…alhamdulillah, teman saya malah bersedia mengantarkan kami ke sana sekalian wisata tipis-tipis ke daerah Tawangmangu.

Sebelumnya, cari informasi terlebih dahulu dari internet tentang destinasi wisata ini.

Ternyata Rumah Atsiri Indonesia, tahun 1960-an adalah kompleks bangunan pabrik penyulingan, kerja sama ekonomi antara Indonesia dan Bulgaria, yang semula dicanangkan menjadi pabrik penyulingan terbesar di Asia.

ex pabrik citronella
Pabrik Minyak Atsiri “Citronella” sebelum renovasi

Ide pendirian pabrik dari Presiden Soekarno, dibangun tahun 1961, dan selesai tahun 1963, bernama Pabrik Minyak Atsiri “Citronella”, kolaborasi antara Techno Export Bulgaria dan PNPR (BUMN) Kimia Yasa Indonesia.

Desa Plumbon dipilih sebagai lokasi pabrik, karena potensi alamnya yang sesuai untuk penanaman bahan-bahan minyak atsiri. Sumber air yang sangat penting untuk proses penyulingan juga tersedia dalam jumlah besar dari sungai di dekatnya. Dengan lebih dari 30.000 tanaman khas penghasil minyak atsiri, Indonesia menjadi magnet bagi produksi dan pengembangan minyak atsiri di Asia, bahkan di dunia.

Tetapi apa mau dikata, 1965 terjadi pergolakan politik, Bulgaria dianggap sebagai negara komunis. Pabrik belum sepenuhnya beroperasi, ahli dari Bulgaria sudah kembali ke negaranya, dan terjadi perpindahan kepemilikan berkali-kali. Pabrik ini tutup tahun 1986 dan terbengkalai cukup lama.

Tahun 2015, PT. Rumah Atsiri Indonesia memutuskan untuk mengambil alih perusahaan, merenovasi, dan menghidupkannya kembali menjadi edu-wisata dengan berbagai fasilitas.

Fasilitas Rumah Atsiri Indonesia

facade Rumah Atsiri Indonesia

peta kawasan dan teras masuk

Walaupun di website maupun IG @rumahatsiri ada keterangan bahwa berkunjung harus melakukan reservasi terlebih dahulu, ketika saya kontak via WA, silakan membeli tiket on the spot saat kedatangan saja. Kami hanya berempat sih, Mbak Rini, saya, suami, dan driver, jadi dianggap perorangan. Harus melakukan reservasi bila yang datang rombongan atau dari sekolah.

Tiket masuk Rumah Atsiri Indonesia berupa voucher prabayar sebesar Rp50.000 per orang. Voucher ini bisa digunakan untuk berbagai aktivitas seperti tur taman aromatik, tur museum, workshop, belanja produk, atau bersantap di restoran di kompleks.
Jam buku setiap hari, pukul 10.00-17.00 WIB.

Berikut fasilitas dan kegiatan yang ada di Rumah Atsiri Indonesia:

  • Aromatic Garden, Green House, Marigold Plaza
  • The Museum
  • Rumah Atsiri Classes & Workshop
  • Restaurant
  • The Shops
  • Well-Club
  • Atsiri Glamping

foto depan cermin di Marigold Plaza

Jelajah Museum Atsiri

Dari halaman parkir, kami diarahkan masuk ke dalam bangunan, menyusuri semacam teras berlantai kayu. Tampak depan bangunan memang bergaya tahun 1960-an, tetapi interiornya ada sentuhan kekinian.
Melalui website rumahatsiri.com diketahui bahwa Studio Arsitektur Timtiga mengerjakan proyek revitalisasi kompleks ini, sehingga berhasil memadukan sejarah dan arsitektur modern.

Alur di dalam bangunan bebas, jadi saya dan suami memilih turun ke area workshop, ke luar ke teras lebar, sampailah kami ke halaman di dalam yang penuh dengan bunga marigold.

Di sebelah kanan ada museum, lalu di sebelah kiri ada restoran.
Teman saya sudah pernah ke sini, mengantar teman kuliahnya, jadi kali ini dia tidak keliling, tapi langsung ke toko (The Shops).
Saya memilih menuju museum yang ternyata harga tiket masuknya Rp35.000, dipotong dari voucher yang sudah kami beli di pintu gerbang.
Nah, sisanya Rp15.000, silakan nanti mau dibelanjakan, karena tidak ada kembalian tunai.

entrance museum dan kartu voucher

Begitu masuk museum, sudah ada pengunjung lain dan ada pemandu yang siap menjelaskan kepada rombongan kecil kami.

Ruang pertama adalah Kokedama, yaitu seni menanam tanaman hias asal Jepang tanpa menggunakan pot, melainkan dengan membungkus akar tanaman dalam bola tanah yang dibalut lumut atau sabut kelapa. Nah, di sini kami diperkenalkan dengan jenis-jenis tanaman aromatik yang bisa ditanam dengan teknik kokedama ini. Misalnya mint, lavender, atau basil.

ruang kokedama
ruang Kokedama

Ruangan berikutnya adalah Bola Aroma. Di dalam ruangan tergantung bola-bola kaca yang isinya gel beraroma. Pengunjung dipersilakan mengendus aroma beragam minyak atsiri di bola tersebut. Di bawahnya ada keterangan jenis aromanya.

ruang Bola Aroma

Perjalanan lanjut masuk ke ruang penyulingan. Masih tersisa bata-bata yang dulunya merupakan oven tungku pembakaran untuk proses destilasi.

di belakang ruang penyulingan
Rumah Atsiri Indonesia, Harum Mewangi Khas Indonesia
ruang penyulingan

Oh ya, sereh wangi/citronella (Cymbopogon nardus), berbeda ya dengan sereh dapur/lemongrass (Cymbopogon citratus). Bentuk vegetasinya agak berbeda sedikit.

Pada proses penyulingan, bahan baku (bagian tanaman berupa daun, batang, atau bunga) dimasukkan ke dalam ketel suling kemudian dipanaskan. Uap panas bertekanan tinggi dari ketel kemudian dialirkan ke tabung pendingan, sehingga uap akan menjadi cairan yang mengandung minyak esensial.

Setelah mendapatkan penjelasan proses destilasi, kami tiba di ruangan Sejarah Minyak Atsiri, yang memamerkan infografis berbagai minyak atsiri dari peradaban kuno. Ada dari Mesir, Tiongkok, Eropa, Yunani, Jasirah Arab, dan Asia termasuk Indonesia.

Sudah berabad yang lalu, tiap wilayah geografi memahami manfaat minyak esensial untuk perawatan kesehatan dan kecantikan, tentunya dengan aroma khas wilayah masing-masing.

ilustrasi ramuan minyak atsiri dari berbagai belahan dunia

Pemandu juga menekankan penggunaan minyak esensial ini bukan untuk pengobatan dan tidak boleh dikonsumsi langsung. Harus ada pelarutnya dan sebaiknya hanya untuk bagian luar tubuh.

Lanjut…
Kami kemudian kami menyusuri ruangan yang memamerkan berbagai botol untuk menyimpan minyak atsiri, bersambung ke ruangan di dindingnya tersusun rapi panel-panel aneka daun yang bisa sebagai bahan baku minyak.

Setelahnya masih ada beberapa ruangan lain yang kami susuri bersama sambil dijelaskan oleh pemandu:

ruang interaktif

foto bangunan lama, dokumen gambar, dan tungku destilasi kuno

  • Ruang Oshibana: Cerita Palmarosa, yaitu ruangan yang memamerkan instalasi seni lukis dari tumbuhan kering (Oshibana)
  • Ruang Interaktif: Ruang penuh cermin dengan tata cahaya
  • Ruang Arsip & Proses Renovasi: terdapat foto-foto lama, arsip gambar desain bangunan, dan proses renovasi
  • Ruang Sejarah Minyak Atsiri Indonesia: ruangan khusus sejarah minyak atsiri di Indonesia yang sudah ada sejak zaman dahulu, yang buktinya terpahat di Candi Borobudur
  • Ruang Kapal: saya lupa nama ruangannya, tetapi di ruangan ini terdapat replika kapal phinisi, kemudian di dinding, penjelasan jenis-jenis rempah dan bahan baku atsiri dari seluruh Indonesia. Perdagangan atsiri dibawa dengan kapal phinisi hingga ke mancanegara.
  • Ruang Minyak Atsiri & Emosi: Sebuah ruangan yang memaparkan kaitan minyak atsiri dan emosi. Ilustrasi tubuh manusia dan jenis-jenis minyak apa saja yang digunakan sebagai minyak pijat untuk bagian tubuh kita.
rempah, buah, akar, daun, bahan baku minyak atsiri Indonesia

The Shops

jalan menuju The Shops

Selepas dari museum, kami melalui selasar menuju sebuah gedung cukup besar dan lega, yang merupakan toko produk-produk Rumah Atsiri Indonesia. Ada home care, personal care,
sabun, hand body, shampoo, aneka minyak esensial bisa untuk pijat hingga untuk bayi, dan kegemaran saya, parfum, dong…

home care display

display parfum dan souvenir

Tata letak toko sangat menarik, sehingga kalau tidak ingat waktu, bisa berlama-lama di sini memilih berbagai produk wewangian dengan aroma khas Indonesia.

Saya memilih ATSIRI Eau de Parfum Discovery Set, seharga Rp120.000,- yang berisi 4 macam Eau de Parfum mini, ukuran 2 ml. Setiap nama parfum dilengkapi dengan penjelasan top notes, middle notes, dan base notes.
Ada ukuran lain yaitu 10 ml dan 100 ml yang dijual terpisah.

Jalan menuju pintu ke luar, saya menambah membeli minyak esensial yang bisa diteteskan di diffuser.

Total belanja saya dikurangi dengan sisa voucher tiket masuk.

Penutup

Durasi jelajah museum kurang lebih satu jam ini terasa kurang. Belum semua informasi dan pengalaman wisata sensori ini terekam dalam ingatan, harus cepat bergerak ke ruangan lain.

Saya suka sekali wisata ke museum, jadi sebisa mungkin setiap infografis yang terpampang dibaca satu per satu. Waktu itu, jadinya saya belum sempat membaca semuanya. Beberapa sempat difoto, tetapi karena ruangan gelap, belum sempat setting bukaan cahaya kamera ponsel dengan benar, sudah geser lagi.

Di The Shops, saya sudah diburu-buru suami, karena Mbak Rini sudah menunggu. Waktu itu, akhir Agustus 2025, bertepatan dengan demonstrasi besar-besaran di Jakarta. Merembet ke beberapa kota lain di Indonesia, termasuk Solo. Menurut info Mbak Rini, mau ada demo lagi pukul 14.00, sehingga kami harus tiba di Solo sebelumnya.

Pengen banget. Kapan-kapan ke sini lagi. Lahan seluas 2,3 hektar dengan DPL 750 meter, tidak cukup hanya dijelajahi satu jam saja. Belum mencoba hidangan yang ada di restoran dan kafe. Belum coba kelas dan workshop. Dan belum coba massage dan spa, yang pastinya pakai minyak pijat produk Minyak Atsiri Indonesia deh…

Nah, gimana? Teman-teman tertarik untuk berkunjung ke sini? Mungkin sekalian menginap di Atsiri Glamping. Silakan cek websitenya di https://rumahatsiri.com.

oleh-oleh Rumah Atsiri Indonesia

Also Read

Bagikan:

hani

Halo, saya Tri Wahyu Handayani (Hani), tinggal di Bandung. Pemerhati arsitektur dan pelestarian bangunan, main piano, menjahit, dan jalan-jalan. Kontak ke bee.hani@gmail.com

Tags

Tinggalkan komentar

DMCA.com Protection Status