Ketika zaman anak-anak masih SD, tiap tanggal 21 April selalu ada acara anak-anak perempuan memakai kebaya atau pakaian tradisional. Seingat saya, anak saya ikut juga. Pakai kebaya lorotan (preloved) dari kakak sepupunya. Kalau anak teman saya, beda lagi, anaknya mending bolos.
Di tengah masyarakat memang bisa berbeda cara menyikapi Hari Kartini sebagai peringatan akan hari lahirnya R.A.Kartini, sebagai salah satu pahlawan perempuan Indonesia. Apakah dalam bentuk seremonial, memakai kebaya pada tanggal 21 April, atau melanjutkan semangatnya untuk menajamkan literasi terutama buat kaum perempuan?
Kartini Modern, Melek Finansial
Awal bulan April, saya berkesempatan jalan-jalan bersama grup Eat-Chat-Walk yang temanya “Pelesir Lasem“.
Salah satu itinerary-nya adalah berkunjung ke Museum Kartini di kota Rembang dan Makam Kartini di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.
Kompleks pemakaman ini berada di area pemakaman keluarga Bupati Rembang, Raden Adipati Joyo Adiningrat, yang juga merupakan suami Kartini. Situs ini menjadi destinasi wisata ziarah nasional yang ramai dikunjungi, terutama setiap 21 April.
Bulan April kali ini betul-betul bulan Kartini.

Bertepatan dengan tanggal 21 April 2026, sebuah webinar diselenggarakan oleh Female Digest, dengan tema “Literasi Tinggi, Rendah Risiko” – Kartini Modern, Melek Finansial.
Webinar sekaligus sarana diskusi ini bertujuan untuk mengupgrade pengetahuan kita tentang pemahaman finansial.
Walaupun berupa webinar, sponsornya sangat mendukung acara ini, antara lain Tropicana Slim, Nutrifood, Wardah Beauty, dan Paragon Corp.
Nara sumbernya adalah:
- Dedek Gunawan, SE., M.A., CFP (Financial Planner & Founder Perempuan Bantu Perempuan)
- Diana Anggraini, ST., M.Si (Dosen LSPR)
- Ruth Ninajanty, B.A (Community Development Manager Female Digest), sebagai moderator
Saya bisa mendaftar webinar ini berkat ikut komunitas ISB (Indonesian Social Blogpreneur). Founder-nya adalah Ani Berta.
Mbak Dedek, sebagai founder komunitas Perempuan Bantu Perempuan (PBB) berfokus pada pemberdayaan perempuan untuk tumbuh secara personal dan finansial, serta mendukung kemandirian ekonomi. Sehari-hari beliau aktif memberikan edukasi finansial, terutama bagi perempuan.
Seperti kita ketahui, dalam keseharian perempuan yang juga ibu rumah tangga, tidak lepas dari urusan finansial.
Itu sebabnya dalam paparan, Mbak Dedek memulainya dengan pertanyaan:”Kenapa Harus Melek Keuangan?“
Biaya hidup perempuan lebih tinggi dari lelaki
Pada kenyataannya, sehari-hari dilihat dari pakaian saja, perempuan lebih banyak daripada laki-laki kan. Walaupun perempuan sudah berusaha sederhana, tetapi memang kebutuhannya lebih banyak. Di sisi lain, biaya hidup makin meningkat, sementara kenaikan gaji kalah dengan inflasi.
Karir on and off
Siapa nih di antara teman-teman yang setelah berkeluarga dan mempunyai anak, memutuskan resign dari tempat kerja? Ikut suami yang beda kota atau ingin lebih dekat ke anak, merupakan alasan yang paling banyak diputuskan oleh ibu bekerja tersebut. Ternyata keputusan ini akan berdampak pada penghasilan yang menurun.
Sedangkan ingin kembali bekerja bila anak-anak sudah besar, juga tidak mudah. Lapangan kerja menyempit ditambah harus bersaing dengan yang lebih muda. Itu sebabnya, perempuan dituntut untuk selalu upskill tidak memandang usia.
Mayoritas perempuan yang mengelola keuangan keluarga
Rata-rata rumah tangga memang menempatkan istri/ibu menjadi manajer keuangan. Walaupun ada saja rumah tangga yang kendali finansial penuh ada di tangan suami. Lepas siapa yang paling punya kendali, tingkat harapan hidup perempuan lebih tinggi daripada lelaki. Tentunya akan menjadi perjuangan berat bagi single mom, bila tidak dibarengi dengan kemampuan literasi finansial yang mumpuni.

Pada sesi paparan berikutnya disampaikan oleh Diana Anggraini, atau akrab dipanggil Mbak Dee, seorang dosen di LSPR (London School of Public Relations) Communication and Business Institute, sebuah perguruan tinggi swasta terkemuka di Indonesia.
Mbak Dee tampil enerjik dan ceria, menampilkan paparan yang unik dan menyentil. Beliau seolah menohok kita tentang perilaku perempuan ketika berbelanja.
Melalui ponsel dengan mudahnya kita bisa berbelanja kapan saja dari mana saja. Sebuah langkah praktis sekaligus menjebak.
Ini tips beliau ketika scroll-scroll marketplace, agar keuangan kita tidak boncos:
- Tahan 24 jam sebelum check-out
- Jangan FOMO dan tergoda promo
- Stop memakai paylater
- Silakan scroll tanpa check-out
- dll.
Mbak Dee juga menyampaikan pentingnya kita menerapkan tiga tombol kendali literasi digital, yaitu:
- Tahan 24 jam sebelum membeli
- Sistem pisah rekening
- Kunci tautan mencurigakan
Setelah sesi presentasi yang disampaikan para expert ini, acara masih dilanjutkan dengan tanya jawab.
Tak terasa, webinar yang dimulai sejak pukul 16.00, berlanjut hingga magrib, sehingga harus diakhiri, pukul 18 lebih. Padahal di flyer, acaranya sampai 17.30 WIB.
Memang ya, kalau sudah masalah finansial, perempuan selalu ingin tahu lebih banyak.

Penutup
Beruntungnya saya di bulan April ini berkesempatan menyambangi jejak sejarah RA Kartini, mulai dari Museum RA Kartini hingga ziarah ke makam beliau.
Melalui Kartini kita jadi belajar bahwa langkah beliau menulis adalah sebuah perjuangan melalui tinta. Menulis merupakan bagian dari berjuang tanpa suara, berjuang dalam hening namun berdampak.
Kartini melalui kumpulan surat-suratnya yang diterbitkan menjadi buku “Door Duisternis tot Licht” yang arti harfiahnya “Habis Gelap Terbitlah Terang“. Buku kumpulan surat Kartini yang merupakan isi hati dan impian-impiannya akan perempuan Indonesia ini, diterbitkan pada 1911.
Melalui literasi, kita bisa menulis buku, menulis artikel, dan juga menjadi blogger, maka kita belajar tentang apa arti merdeka. Merdeka menyampaikan pendapat.

Di sore hari ini terungkap evolusi peran perempuan, bahwa sebagai Kartini modern, kita harus melek finansial, yaitu: paham cara mengatur uang, berani berinvestasi, dan bijak dalam mengambil keputusan ekonomi.
Seperti yang disampaikan narasumber:
Perempuan yang melek litarasi digital…
Adalah perempuan yang berdiri sebagai perisai, melindungi keluarganya dari risiko yang tidak terlihat.



