Kalau harus cerita Ramadan semasa kecil, saya tidak ingat kesan-kesan masa kecil tersebut. Mungkin karena sudah terlalu lama, sehingga tidak ada yang melekat dalam ingatan.
Ngobrol dengan anak saya, dia ada cerita-cerita Ramadan masa kecil yang justru sangat melekat dalam kenangannya.
Rumah di Kompleks
Semasa kecil saya pindah-pindah kota bahkan negara, ikut ayah yang berdinas sebagai anggota militer. Seperti yang saya tuliskan di awal artikel, tidak banyak yang bisa diingat, selain memang keluarga kami biasa saja menjalankan ibadah. Tidak fanatik, juga tidak yang Islam KTP.
Ketika saya menikah, tinggal di kompleks perumahan yang hubungan antar tetangga cukup terjaga privacy-nya. Masing-masing dengan kesibukannya, saya pun selain ibu rumah tangga juga berperan sebagai perempuan bekerja di luar rumah. Selain itu di kompleks, kami juga bertetangga dengan beberapa warga non-Muslim.
Berbeda ketika saya kecil yang tidak terlalu ketat ritual beribadahnya, maka ketika membangun keluarga sendiri, berusaha lebih baik dibanding diri sendiri. Dalam beberap hal, memang saya lebih banyak belajar sendiri sih. Waktu itu informasi hanya dari televisi, majalah, atau koran.
Dalam mengenalkan berpuasa ke anak-anak, saat sahur dini hari, walaupun mereka masih balita dan belum wajib puasa, ternyata ikut bangun.
Mungkin mendengar kami pakepuk sibuk atau kebrisikan bunyi weker. LOL…
Ditambah lagi, waktu itu Satpam (security) kompleks sekitar pukul 03 sudah keliling kompleks pukul-pukul tiang listrik, sambil berseru:”Sahuuur…sahuuur…”
Mendengar teriakan sahur-sahur berulang seperti itu, waktu itu putri kami yang masih balita heran. Dikira pagi buta seperti itu ada yang jualan. Dikira “sahur” adalah suatu produk jualan.
Apalagi kaan ayah-ibunya beberapa kali bilang, makan sahur. Jadi dikira sahur adalah makanan.
“Mau sahur. Mau beli sahur…”, begitu kata putri saya.
Sampai sekarang, putri saya sudah menikah dan punya anak, masih tertawa kalau ingat keinginannya makan sahur tersebut.
Sekolah Dekat Rumah
Di kompleks kami, RW04, seingat saya ada 10 RT. Wilayah rumah kami di RT05, jalan kaki 800 me ke masjid terdekat. Masjid kompleks satu area dengan Kantor RW dan Sekolah Dasar Negeri. Belakangan masjid juga dilengkapi dengan PAUD.
Anak-anak kami sekolah di Sekolah Dasar Negeri di kompleks juga. Jadi ke sekolah jalan kaki sekitar dua blok saja.
Mungkin berbeda kebijakan keluarga kami dengan keluarga muda masa kini, yang memilih sekolah harus akreditasi A, kalau bisa Sekolah Islam Terpadu, supaya anak-anak sekalian belajar keagamaan di sekolah.
Waktu itu saya lebih ke hal praktis saja, karena suami bekerja sebagai budak korporat kalau istilah zaman sekarang. Saya juga bekerja di luar rumah, walaupun sebagai pengajar, jadi waktunya lebih fleksibel.
Kami memilih sekolah dekat rumah, supaya tidak perlu repot antar-jemput, bahkan ada teman yang harus izin di kantor segala untuk jemput anak pulang sekolah.
Dari segi belajar-mengajar di bulan Ramadan, ketentuannya berbeda dari tahun ke tahun. Ada kalanya libur di awal Ramadan, tetapi diganti dengan pesantren kilat. Pernah juga di suatu masa Presiden ke sekian (saya lupa siapa), selama bulan Ramadan malah diliburkan sebulan penuh.
Bagi anak-anak yang baru belajar berpuasa, kegiatan pesantren kilat, tidak terlalu bermasalah, karena mereka tinggal jalan kaki ke sekolah.
Begitu pula, ketika ada kewajiban tarawih, mencatat ceramah, dan meminta tanda-tangan ke khatib setelah tarawih, tidak ada masalah berarti. Ya itu tadi, masjid dekat rumah, jadi ibadah hari-hari biasa maupun Ramadan dijalani dengan ringan.
Penutup
Itulan cerita saya tentang Ramadan di masa anak-anak kecil. Bagi saya lebih teringat kenangan ketika anak-anak kecil, daripada masa kecil saya sendiri.
Apapun itu, masa kecil saya maupun masa kecil anak-anak saya di masa Ramadan, menimbulkan kesan tersendiri. Masa-masa tersebut sudah lama berlalu. Anak-anak pun telah membangun keluarganya sendiri, punya kesibukan sendiri.
Bagi saya mungkin lebih pas, bagaimana menjalani Ramadan di hari-hari mendatang.
Semoga masih bisa bertemu Ramadan di sisa usia saya. Amin Ya Rabbal Alaamin.
Artikel ini ditulis untuk Challenge Menulis IIDN


