Berburu Cap Museum, Ketika Mengunjungi Museum di Sukabumi

hani

Berburu Cap Museum, Ketika Mengunjungi Museum di Sukabumi

Mengunjungi museum adalah menapaki cerita masa lalu, melalui karya dan artefak

Minggu lalu, tiba-tiba saya keidean untuk main ke Sukabumi dan Bogor. Kota-kota kecil ini sebetulnya tak jauh dari Bandung, tetapi seumur-umur saya koq belum pernah menginap di sana. Sukabumi, hanya mampir ketika jalan tol belum jadi. Perjalanan dari Jakarta ke Bandung lewat Puncak saat libur Lebaran, akan dibelokkan ke Sukabumi, kalau Puncak macet.

Perjalanan yang saya lakukan bersama suami ini, rencananya kami lakukan pada weekdays. Berangkat hari Senin, pulang hari Jumat. Saya pun menyusun itinerary, memesan tiket mobil travel, tiket kereta api, dan booking hotel.

Tentang Museum Passport Stamp Book

Baru-baru ini ramai beredar di media sosial buku kecil dalam edisi empat varian warna yang berbeda, kuning-ungu-jingga-pink. Buku kecil tersebut adalah Museum Passport Stamp Book untuk berburu cap museum atau “stamp hunting” di setiap museum yang kalian kunjungi.

Museum Passport ini diterbitkan pada 16 Juni 2026 yang lalu. Kalian bisa membelinya di beberapa museum yang dikelola oleh MCB (Museum dan Cagar Budaya) di bawah Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Bila sudah memiliki, buku kecil ini akan menemani perjalanan menjelajahi museum-museum di Indonesia. Kalian bisa mengumpulkan cap kunjungan, mengabadikan setiap pengalamanmu, dan menjadikan Museum Passport sebagai catatan perjalananmu menelusuri sejarah, budaya, dan warisan bangsa.

ig museum passport stamp book
museum passport stamp book

Di dalamnya juga terdapat voucher tiket masuk gratis yang dapat digunakan di unit museum yang dikelola MCB.
Saya yang suka banget berkunjung ke berbagai museum, langsung check out dari Gramedia Online, warna kuning, kemudian mengambil fisiknya di toko buku Gramedia di Jalan Merdeka, Bandung.

Waktu itu peminatnya rupanya cukup banyak, sehingga beberapa warna favorit sudah sold out. Pas di toko buku tersisa warna pink, saya beli saja satu lagi. Siapa tahu ada teman yang berminat.

Berburu Cap Museum di Sukabumi

Sejak di Bandung, saya memang sudah niat, pokoknya kalau ke kota Sukabumi, akan mengunjungi museum.
Nanti museum di Sukabumi yang menjadi cap pertama di buku paspor museum saya.

Museum Mini Soekaboemi Tempo Doeloe

Sore itu setelah rehat sejenak di hotel, saya dan suami mau minum yang hangat-hangat di sebuah resto-cafe bernama “Secret Village” di Jalan Bhayangkara no. 219, Sukabumi.

Pas masuk ke halaman ada papan nama Museum Soekaboemi Tempo Doeloe.
Di sebelah bangunan yang arsitekturnya terlihat ex bangunan lama, ada bangunan kecil (paviliun).
Inilah Museum Soekaboemi Tempo Doeloe.

museum tempo doeloe soekaboemi
museum mini di samping Secret Village

Setelah izin dengan bapak security, ternyata kami boleh masuk, padahal museum kecil ini sudah tutup pukul 16.00. Kami datang sekitar 16.30.
Tiket masuknya Rp5.000,- saja.

Museum ini dulunya paviliun dari Wisma Wisnu Wardhani, milik Setukpa Lemdiklat Polri (Sekolah Pembentukan Perwira Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Polri).

museum mini tempo doeloe soekaboemi
museum mini

Secara historis, bangunan bergaya kolonial ini pertama kali dibangun dan dimiliki oleh seorang notaris asal Belanda bernama Hendrik (Harry) Schotel sekitar tahun 1920.
Rumah kuno inilah yang sekarang menjadi resto-cafe “Secret Village”. Di halaman belakang resto-cafe terdapat halaman cukup luas yang bisa untuk outdoor activity.

Museum ini kecil, hanya terdiri dari teras depan, lalu ruang seperti lobby, baru masuk lagi ke ruangan yang agak besar.
Di museum ini tersimpan koleksi arsip foto, dokumen, peta kuno, dan artefak yang merekam perkembangan sosial, budaya, dan arsitektur kota di Sukabumi.

Museum Mini Soekaboemi Tempo Doeloe, buka tiap hari Senin-Jumat, pukul 09.00-16.00. Setiap Sabtu dan Minggu, buka 24 jam.

ruang dalam museum

belum mendapatkan cap tetapi tiket masuk museum
Secret Village kala senja

Museum Pegadaian Sukabumi

Keesokan harinya kami ke Museum Pegadaian Sukabumi yang beralamat di Jl. Pelabuan II, Kec. Citamiang, Kota Sukabumi dan dikelola oleh PT Pesonna Indonesia Jaya.

Museum Pegadaian adalah satu-satunya museum di Indonesia yang menyajikan informasi mengenai sejarah dan sistem kerja Pegadaian di masa lalu.

Bangunan museum ini dibangun pada tahun 1901, dan awalnya difungsikan sebagai rumah dinas bagi Kepala Pegadaian di era pemerintahan Hindia Belanda. Rumah dinas tersebut lalu diresmikan sebagai museum pada tanggal 1 April 2010 oleh Direktur Utama Pegadaian, Chandra Purnama.

Kami naik taksi online menuju Museum Pegadaian Sukabumi, yang buka tiap hari Selasa-Minggu, pukul 08.00-17.00. Setiap hari Senin, tutup.
Bentuk museum masih berupa rumah tinggal model rumah kuno dari bentuk atap dan kusen kayu warna cokelat yang kokoh.

museum pegadaian sukabumi
siap berburu cap museum
siap berburu cap museum

Tidak ada tiket masuk, kami hanya diminta mengisi buku tamu yang disediakan di meja penerima tamu. Saya pun minta cap, yang rupanya petugas sudah tahu dan siap dengan capnya.

Begitu masuk, diterima oleh layar monitor besar yang menyuarakan selamat datang kepada siapa saja yang melalui sensor.
Bangunan pertama terdiri dari tiga ruangan.
Ruangan pertama memperlihatkan memorabilia dan poster informasi sejarah pegadaian di pemerintahan Hindia Belanda.
Di ruangan kedua dan ketiga terdapat berbagai peralatan untuk mengukur benda-benda yang akan digadaikan.

Gadai tuh apa sih?

Nah, di museum ini jadi tahu, benda-benda berharga apa saja yang diterima di rumah gadai.
Mulai dari yang berharga tinggi, kendaraan, logam mulia atau emas perhiasan, kain batik, perabotan rumah tangga, hingga pecah-belah.

Dijelaskan juga, bahwa sekarang pegadaian mengikuti zaman yang serba digital dengan adanya aplikasi TRING.

berbagai poster informasi tentang pegadaian

inventaris kantor pegadaian
perbagai jenis timbangan

pintu antar ruang dan foto instant dikirim ke email

alat hitung zaman dulu

Setelah menyusuri ruang ketiga, ada pintu ke luar, menuju ke bangunan ke-2.

selasar menuju bangunan ke-2

Berupa bangunan panjang, berpintu kayu yang terlihat kokoh.
Di dalam bangunan ini terpajang berbagai foto tentang perjalanan gadai di zaman pemerintah Hindia Belanda.
Lihat foto-fotonya sih agak déjà vu gitu.
Koq, visualisasinya mirip-mirip ya dengan zaman sekarang.
Orang antre untuk menggadaikan barang berharga mereka.
Bedanya, kalau dulu adminnya orang Belanda, sekarang adminnya sama-sama orang Indonesia.

foto suasana ruang pelayanan pemberian kredit pegadaian

ruang dalam bangunan ke-2 dan dinding interaktif

Fasilitas lain yang ada di Museum Pegadaian antara lain:

  • Taman yang cukup asri dan bersih dilengkapi dengan bangku-bangku taman
  • Mural untuk foto-foto
  • Toilet
  • Mushola
  • Tempat ngopi di halaman depan
taman yang asri
mural

Rencananya, kami akan lanjut ke museum berikutnya tak jauh dari sini. Tapi sebelumnya, sarapan dulu, Geco, kuliner asli Sukabumi, akronim dari toge dan tauco.
Kebetulan ada street food yang mangkal di depan museum.
Hidangan ini terdiri dari kupat, mi kuning, toge yang dimasak di wajan datar, dihidangkan di piring, disiram dengan campuran kuah kacang dan tauco.

sepiring Geco

Museum Tionghoa Soekaboemi

Dari Museum Pegadaian Sukabumi, kami jalan kaki ke Museum Tionghoa Soekaboemi yang beralamat di Jalan Pajagalan, Kelurahan Nyomplong, Kecamatan Warudoyong, Kota Sukabumi.

Kami masuk ke kawasan yang sepertinya kompleks ruko-ruko. Mengikuti petunjuk dari Google Map, akhirnya tiba di salah satu ruko dengan papan nama bertuliskan Museum Tionghoa Soekaboemi.

Museum Tionghoa terdiri dari empat lantai dan, menurut informasi, dibangun sejak 2021 dan secara resmi berdiri pada 29 Februari 2022.

museum tionghoa soekaboemi
museum tionghoa soekaboemi

Museum dibangun berkat kerja sama Masyarakat Sadar Wisata dan Yayasan Dapuran Kipahare. Museum tersebut menyimpan beberapa barang bersejarah mulai dari barang keseharian yang biasa digunakan warga Tionghoa hingga barang-barang antik yang usianya sudah berabad-abad.

Begitu masuk, kami mendaftar di meja tamu, tiket masuk Rp10.000,- per orang, dan saya sekalian minta cap di buku paspor museum.

Lantai pertama dari Museum Tionghoa menampilkan asal-usul masuknya Tionghoa ke Sukabumi, termasuk kedatangan Laksamana Cheng Ho. Hal ini ditampilkan dalam bentuk lukisan tembok dan tulisan yang agak terlalu rapat huruf-hurufnya.

informasi tentang pengaruh Tionghoa di Sukabumi
pejuang Kemerdekaan Republik Indonesia

Kami masuk ke ruangan dalam yang kusennya mirip dengan kusen di rumah-rumah dalam film drama China. Kusennya ada palang kayu di bawahnya, sehingga kita harus melangkah dulu.

Di dalam ruangan ini terdapat berbagai koleksi barang sehari-hari di rumah keluarga Tionghoa.
Mulai dari baju, sepatu, alat makan dan dapur, dan peralatan membuat kue khas kuliner Tionghoa.

interior museum tionghoa soekaboemi
interior museum tionghoa

Ada yang menarik perhatian saya, yaitu alat untuk mengeriting rambut bertenaga listrik. Jujurly agak mengerikan penampakannya. Mungkin karena ada karat-karat pada alatnya.
Saya belum bisa membayangkan, rambutnya digimanain sih untuk menghasilkan keriting yang diinginkan?

alat pengeriting rambut

Ada mezzanine di ruangan ini yang memperlihatkan berbagai barang lainnya.

mezanine

Selanjutnya, kami naik ke lantai dua.
Di lantai dua, terdapat berbagai alat transaksi zaman dulu, kemudian juga furnitur dan perlengkapan rumah tangga lainnya. Termasuk buku-buku hingga meja sembahyangan untuk leluhur.

meja sembahyang untuk leluhur

Di lantai tiga dan empat juga terdapat ruang pamer, yang berisi benda-benda peninggalan zaman dulu. Agak seram sih buat saya, karena memamerkan manekin dan hewan-hewan awetan serta berbagai benda lainnya.
Kesannya jadi mirip gudang, karena hanya ditata ala kadarnya.

Dari lantai keempat terlihat suasana kawasan, termasuk bangunan kelenteng Vihara Widhi Sakti (dulu bernama Kelenteng Bie Hian Kong) yang didirikan pada tahun 1912. Merupakan vihara tertua di Sukabumi.

view ke arah kota
view ke arah vihara/kelenteng

Setelah cukup melihat-lihat berbagai benda yang dipamerkan, kami meninggalkan museum untuk menjelajah lagi di sekitar kawasan.
Museum ini buka setiap hari dari hari Senin sampai dengan Minggu, pukul 09.00-16.00.

Penutup

Demikian lah cerita saya berburu cap museum dari satu museum ke museum lainnya. Serunya, respon staf museum sangat positif.
Saya yang memang gemar mengunjungi museum jadi tambah semangat dengan adanya atraksi berburu cap museum.

hasil berburu cap museum di Sukabumi

Ada sih rasa sesal, kenapa koq ide jurnaling museum, saya baru tahu sekarang.
Tau gitu kan setiap museum yang dikunjungi, saya minta capnya.
Mungkin sudah puluhan museum yang saya kunjungi, dan telah ditulis di beberapa artikel di blog ini.

Ternyata, di media sosial malah kegiatan ini menjadi semacam mencari teman untuk jalan bareng mengunjungi museum.
Apalagi ada beberapa museum yang menerapkan harga tiket rombongan, jadi tidak ada salahnya bikin grup random, kan…

Semoga sih, mengunjungi museum bukan cuma karena berburu cap museum, tetapi juga mempelajari kisah sejarah dan perjuangan di balik setiap benda maupun artefak.
Setelah dari Sukabumi, kami akan ke Bogor naik KA Pangrango.
Nah, di Bogor, tentu saja mengunjungi museum (lagi)…

Next ke mana lagi ya? Mungkin suatu hari mau ke Medan deh. Sebelumnya, cek-cek dulu informasi tentang Medan di blognya Travel Blogger Medan. Pastinya di Medan ada museum juga. Yuk…semangat berburu cap museum…

Also Read

Bagikan:

hani

Halo, saya Tri Wahyu Handayani (Hani), tinggal di Bandung. Pemerhati arsitektur dan pelestarian bangunan, main piano, menjahit, dan jalan-jalan. Kontak ke bee.hani@gmail.com

Tags

Tinggalkan komentar

DMCA.com Protection Status