Tentang Buku “Kuliah Jurusan Apa?” dan Kisah Nandang

hani

Tentang Buku "Kuliah Jurusan Apa?" dan Kisah Nandang

Akhir-akhir ini seliweran di media sosial, tangkapan layar dari aku orang tua yang anak-anaknya berhasil lulus ujian saringan masuk perguruan tinggi negeri dari berbagai penjuru Nusantara. Seiring waktu, ujian saringan masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Indonesia berubah-ubah terus singkatannya. Zaman saya dulu, yang merupakan ujian saringan masuk serentak pertama, yaitu SKALU, singkatan dari Sekretariat Kerja Sama Antar Lima Universitas, yaitu UI, IPB, ITB, UGM, dan ITS.

Sekarang semua perguruan tinggi negeri dari Sabang sampai Merauke menyelenggarakan tes masuk serentak dan terbagi menjadi tiga jalur utama: SNBP (Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi), SNBT (Seleksi Nasional Berdasarkan Tes), dan Seleksi Mandiri (ujian khusus yang diselenggarakan oleh masing-masing kampus).

Lepas dari ujian saringan masuk yang beragam, mulai dari nama, singkatan, sistem pendaftaran, hingga metode ujiannya, saya jadi ingat pernah menulis buku untuk mendukung calon mahasiswa mengenali dunia perguruan tinggi.

Tawaran Menulis “Kuliah Jurusan Apa?”

Saya mengenal dunia penulisan buku pada tahun 2013 melalui Indscript Creative, sebuah agensi penulisan naskah, di bawah bimbingan Indari Mastuti. Setelah buku solo pertama saya terbit berjudul “Ketika Anakku Siap Menikah” yang diterbitkan oleh Elex Media Komputindo, Indscript pun menawarkan judul-judul lain untuk ditulis.

Waktu itu, tema yang ditawarkan adalah “Kuliah Jurusan Apa?“. Tema ini disambut oleh beberapa penulis yang bergabung dengan Indscript Creative. Langkahnya, kami harus mengumpulkan outline buku yang akan ditulis untuk dicek oleh tim penerbit, setelah mendapat persetujuan, akan menandatangani surat perjanjian kerja, dan menyelesaikan naskah dalam waktu yang ditentukan.

Entah kenapa waktu itu, walaupun saya alumni Teknik Arsitektur, yang terlintas di benak saya, justru akan menulis jurusan tempat suami dan anak kedua saya menimba ilmu. Saya mengajukan kerangka untuk menulis naskah Fakultas Seni Rupa dan Desain.

Ada sebab yang melatarbelakangi penulisan naskah ini.
Seni Rupa dan Desain bagi sebagian besar masyarakat dianggap bukan jurusan yang keren. Industri kreatif belum booming, tidak sekeren kedokteran atau teknik.

“Apa itu? Cuma gambar-gambar doang”
“Mau makan apa dengan berkesenian?”
“Engga jadi kaya, cari duit dengan mendesain!”

Banyak orang tua yang tidak ikhlas, bahkan menentang keras, anak-anaknya yang mau melanjutkan kuliah di Fakultas Seni Rupa dan Desain.
Tidak sedikit orang tua yang ragu bermenantukan alumni Seni Rupa.
Eh…itu saya deng…

Kerangka penulisan buku yang saya ajukan diterima dan harus diselesaikan dalam waktu tiga minggu, dengan ketentuan 60-80 halaman A4, TNR 12, spasi 1.5.
Mungkin karena berbekal semangat memberikan pemahaman sebaik-baiknya tentang kreativitas, kepada masyarakat, naskah buku dapat saya selesaikan tepat waktu. Narasumbernya dari suami, anak, menantu, teman suami, dan teman-teman anak saya.

cover depan dan belakang, buku “Kuliah Jurusan Apa? Fakultas Seni Rupa dan Desain”

Daftar Isi “Kuliah Jurusan Apa? Fakultas Seni Rupa dan Desain”

  • Bab 1 – Pendahuluan
  • Bab 2 – Fakultas Seni Rupa dan Desain
  • Bab 3 – Program Studi dan Bidang Pekerjaan
  • Bab 4 – Persyaratan
  • Bab 5 – Strategi Belajar di FSRD
  • Bab 6 – Testimoni dan Karya

Berhubung sudah 10 tahun yang lalu, buku ini sudah tidak ada di toko buku, tetapi masih bisa diakses di iPusnas. Atau membeli e-book-nya di Gramedia Digital.

Kisah Nandang

Buku “Kuliah Jurusan Apa? Fakultas Seni Rupa dan Desain” terbit awal Januari 2016. Setelahnya, saya pun mengajukan outline kedua, yaitu Fakultas Teknik Program Studi Arsitektur dan Perencanaan Wilayah & Kota.
Jurusan tempat saya menempuh pendidikan.
Outline buku kedua juga diterima oleh penerbit. Tidak ada kendala dalam penulisan naskahnya, apalagi saya memang menjadi pengajar di jurusan berkaitan.

Kira-kira bulan Maret 2016, ada email masuk dari seorang anak yang lulus SMA tahun sebelumnya. Dia tahu email saya dari profil penulis di halaman belakang buku “Kuliah Jurusan Apa? Fakultas Seni Rupa dan Desain”.

Rupanya anak ini, gap year, tidak masuk kuliah di mana pun, tetapi ingin kuliah di FSRD ITB. Melalui tata bahasa ala kadarnya tapi cukup sopan, anak ini ternyata minta dibimbing dan menanyakan ini-itu.

Awalnya ragu, saya kan bukan alumni FSRD? Tapi tak tega menolak, maka pertanyaan anak ini saya sampaikan kepada keluarga.

Pendek cerita, Nandang, nama anak ini, konsultasi melalui LINE.
Dia menunjukkan gambar-gambar yang dibuat, lalu saya perlihatkan kepada suami dan anak saya.
Mereka berdua memberi masukan. Sekaligus juga memberi tip-tip untuk diterima di FSRD ITB.
Begitu bolak-balik beberapa gambar. Sayangnya saya tidak save gambarnya, LINE pun sudah saya uninstall.

Kira-kira bulan Juni, Nandang memberi kabar, bahwa dia diterima di FSRD ITB.
Sebuah berita yang membuat kami sekeluarga cukup kaget sekaligus happy.
Apalagi saya, sebagai penulis buku.
Koq bisa? Dia engga ikut bimbel loh, tapi tembus ke sekolah desain bergengsi.

facebook
kenangan menyimpan email di facebook

Kisah 10 tahun lalu ini saya tuliskan di media sosial Threads, sebuah media sosial narasi, besutan dari Instagram.

Ternyata curhatan saya di medsos ini tidak berhenti begitu saja.
Anak saya yang membaca Threads, chat dengan teman-temannya. Gayung bersambut. Getok tular, kalau kata orang Jawa.
Saya mendapat info, bahwa Nandang sekarang menjadi dosen di ISI Yogyakarta.

Di hari ke sekian, setelah utas saya tayang, Nandang, menyapa saya di Threads.
Dia rupanya khusus membuat akun Threads, hanya untuk menyapa saya. Terharu banget deh…
Kami pun bertegur sapa, japri, saling menanyakan kabar.

cerita 10 tahun yang lalu
cerita di threads
nandang menyapa
Nandang is here

Salah seorang pembaca utas tersebut pun menambahkan di kolom komen, bahwa semasa kuliah, Nandang merupakan mahasiswa berprestasi, lulus paling cepat, menempuh fast track untuk studi lanjut. Selain itu juga pernah berpameran di negeri Belanda atas nama institusi.

Beberapa perguruan tinggi memang memberikan kesempatan fast track, yaitu bisa langsung studi lanjut ke S2 di semester ke-7. Jadi ada mata kuliah pascasarjana yang bisa ditempuh di S2, walaupun belum lulus S1.

Penutup

buku ke-2
naskah kedua

Penulisan buku “Kuliah Jurusan Apa?” sepuluh tahun yang lalu memang memberikan pengalaman luar biasa bagi saya sebagai penulis buku nonfiksi. Apalagi sampai hari ini, kebingungan memilih jurusan kuliah, nanti kerja apa, masih menjadi tren pembicaraan orang tua ketika anak-anak memasuki SMA. Masih related lah bukunya.

Dari judul-judul program studi yang diajukan oleh para penulis lainnya, membuat saya juga berkenalan dengan sesama penulis. Beberapa di antaranya masih menulis buku dan menerbitkan buku lainnya. Ada pula yang juga seorang blogger, Widianti Yuliandari, yang pernah menjadi ketua IIDN, menuliskan judul “Kuliah Jurusan Apa? Jurusan Teknik Lingkungan”

Sebuah perjalanan menulis buku “Kuliah Jurusan Apa?” yang mengenalkan calon mahasiswa pada berbagai pilihan jurusan di perguruan tinggi. Dari segi materi, mungkin tidak seberapa menghasilkan dibandingkan dengan penulis novel terkenal. Prosentase royalti dari penerbit pun harus berbagi dengan agensi, dan jumlah penghasilan sangat tergantung pada jumlah buku yang terjual di toko buku.

Tetapi kisah Nandang, kemudian bisa bersilaturahmi sepuluh tahun kemudian, menurut saya sebuah harga yang tidak bisa dinilai dengan uang. Kesan kehangatan dari pembaca yang sampai ke penulis, tuh, bikin semangat menulis hingga hari ini.

Also Read

Bagikan:

hani

Halo, saya Tri Wahyu Handayani (Hani), tinggal di Bandung. Pemerhati arsitektur dan pelestarian bangunan, main piano, menjahit, dan jalan-jalan. Kontak ke bee.hani@gmail.com

Tags

12 pemikiran pada “Tentang Buku “Kuliah Jurusan Apa?” dan Kisah Nandang”

  1. Sukses Mbak Hani, ikut terharu melihat karya sendiri akhirnya terbit dan bisa menjadi panduan yang bermanfaat untuk banyak orang. 🥰

    Artikel ini juga menarik karena membahas dunia perkuliahan dengan cara yang ringan dan mudah dipahami.

    Buat adik-adik yang masih bingung mau pilih jurusan, buku ini pasti bisa jadi bekal awal untuk mengenal gambaran kuliah di berbagai bidang. Keren banget bisa menuangkan pengalaman dan pengetahuan ke dalam sebuah buku yang informatif sekaligus membantu banyak calon mahasiswa.

    Semoga bukunya makin laris dan menginspirasi semakin banyak Nandang Nandang yang lain ya, Mbak!

    Balas
  2. MashaAllah keren banget Mbak Hani. Inspiratif banget loh. Buku-buku seperti ini tuh yang seyogyanya dibaca oleh anak-anak mulai dari SMP. Karena dari titik itu mereka bisa membangun ancang-ancang akan langkah-langkah tepat supaya apa yang mereka bayangkan tentang beberapa jurusan kuliah, bisa terwujudkan. Beneran membantu banget ini sih Mbak. Mengajak anak berpikir, memiliki rencana, dan mendewasakan diri supaya bisa mengambil keputusan yang tepat sesuai dengan kemampuan dan kelebihan yang mereka miliki.

    BTW, ada gak Mbak buku untuk masuk jurusan komunikasi dan sastra Inggris?

    Balas
    • Terima kasih Mbak..
      Iya, sejak SMP, harusnya anak tuh udah tahu nanti dewasa mau ngapain. Engga masalah zaman sekarang kalau engga mau kuliah, tapi langsung kerja. Tapi harus punya skill. Nah, pemahaman skill yg seperti apa tuh, anak-anak masih buta.
      Tentang buku pengantar masuk jurusan komunikasi dan sastra Inggris, kurang tahu Mbak. Mungkin bisa dicek di Gramedia Digital, ada e-book apa saja.

      Balas
  3. Inspiratif sekali pengalamannya, Bu 🤩
    Begitulah kalau penulis buku yang humble dan meluangkan waktu untuk berbalas pesan dengan pembaca. Alhamdulillah Nandang keterima di kampus yang ia inginkan bahkan menjadi orang sukses di kemudian 😇🤩 meski sudah lama, ia pun tetap berusaha ingin bersilaturahmi, barakallah.

    Betul sih buku yang membahas terkait jurusan kuliah ini akan tetapi dicari dan dibaca. Apalagi buku jurusan kuliah Fakultas Seni Rupa dan Desain. Di era sekarang memang makin banyak jurusan tetapi kurang lebih intisari nya adalah yang masih relevan. Semangat terus dalam berkarya.

    Balas
    • Ya ampun bukunya andai sudah ada saat aku SMA menemukan buku kayak gini mungkin aku bisa mendapatkan gambaran mau kuliah jurusan apa, jadi kuliah gak salah jurusan. Soalnya emang itu yg aku rasakan wkt lulus SMA, kayak ngikut aja alur, daftar tanpa tau minat dan bakat aku ke mana di jurusan apa, dan alhasil ya udah. Alhamdulillah bukunya sangat bermanfaat sekali mbak Hani.

      Balas
  4. Masya Allah 🙂 Ternyata Nandang udah jadi dosen ya. Keren ya ilmu itu, bisa sejauh itu influence orang lain (ikut terharu)

    Balas
  5. Kalo saya receh banget
    Dulu saya pingin jadi penulis atau jurnalis tapi gak paham kerjanya gimana dan sesudah lulus, apakah bisa langsung kerja?
    Karena itu saya ngikut aja waktu sahabat saya mengajak masuk jurusan ekonomi, alasannya jurusan ini bisa kerja di mana pun di perusahaan

    hahaha…. walau akhirnya saya memang lulusan ekonomi dan kerja sebagai chief accounting, sekarang saya bisa jadi blogger, sesuai cita-cita 😀

    Balas
  6. Masya Allah, keren banget ih mbak karyanya tembus ke Gramedia gini. Saya membayangkan andai pas lulus SMA atau sebelumnya di masa saya dulu, sudah ada buku-buku seperti ini…wah, mungkin akan sangat membantu memberi gambaran baiknya lanjut kuliah ke mana.

    Balas
  7. Pasti mengharu-biru sekali ketika bisa bersua kembali dengan Nandang setelah 10 tahun berlalu. Apalagi dengan segudang prestasi yang menemani Nandang. Keren, Kak Hani.

    Balas
  8. Inspiratif sekali kisahnya Bu…
    Alhamdulillah ya, begitulah kebaikan tidak akan berakhir jika kita terus menjalankan nya
    Semoga kebaikan ibu dan keluarga menjawab semua sesi konsultasi Nandang menjadikan Nandang berhasil seperti itu jadi pahala yang terus mengalir…
    Jadi semangat juga nih untuk anak muda lainnya

    Balas
  9. Ini adalah kebahagiaan yg tak ternilai. Buku yang menginspirasi seorang Nandang lalu sukses seterusnya. Masya Allah. Semoga makin banyak yg termotivasi melalui tulisan-tulisan Mbak Hani yah. Saya pun berharap begitu sekalipun tulisan sederhana saja.
    Semoga harapan saya tidak ketinggian yah…

    Balas
  10. Salah satu kebanggaan dari seorang penulis (baik buku maupun blog) adalah, tulisan kita berdampak terhadap pembacanya. Rasanya seperti seluruh perjuangan terbayar sudah. Itulah fungsinya review, ulasan hingga rating. Kita bisa melihat sejauh mana buku yang kita tulis memiliki dampak. Kalau blog biasanya lewat komen atau sosmed, pun memiliki euphoria yang sama ketika pembaca “curhat” atau terinspirasi karena tulisan kita dan soal masalah yang dihadapinya berkaitan dengan topik buku/tulisan yang kita tulis.

    Bagaimana karya kita berdampak positif terhadap audience, adalah prestasi dan pencapaian terbesar. Apalagi kalau sampai bisa bertemu lagi dengan “Nandang” bahkan belasan tahun kemudian.

    Selamat Buu, kalau kata Endah & Resa, “Kami turut bangga” dan tulisan Bu Hani kali ini justru menginspirasi para penulis untuk membuat tulisan blog yang audience first, bukan hanya Google first.

    Sehat dan sukses selalu ya Bu 🙂

    Balas

Tinggalkan komentar

DMCA.com Protection Status