Sepuluh hari yang lalu putra sulung dengan istrinya melakukan perjalanan ibadah umroh ke Tanah Suci dan Jumat sore mereka kembali ke Bandung dengan selamat. Seliweran berita bahwa terjadi ekskalasi suhu politik di Timur Tengah, ketika Amerika Serikat dan Israel resmi melakukan serangan udara terkoordinasi ke sejumlah target strategis di Iran pada Sabtu, tanggal 28 Februari 2026. Iran pun tak tinggal diam dan melakukan serangan balasan. Tak terbayangkan, semulai dunia yang damai, mendadak dikejutkan dengan gabungan serangan Amerika Serikat dan Israel ke Republik Islam Iran.
Serangan tersebut merupakan dampak dari ketegangan terus memanas dalam beberapa minggu terakhir. Mulai dari rangkaian panjang sejarah, kebuntuan diplomasi, serta dinamika politik domestik Iran yang membentuk jalur menuju konfrontasi terbuka.
Kami sekeluarga sangat bersyukur, anak dan menantu sudah selamat kembali ke rumah, walaupun sangat lelah dan agak kurang sehat beberapa hari kemudian. Hal yang umum terjadi pada orang-orang sepulang melakukan perjalanan panjang menunaikan ibadah haji maupun umroh. Apalagi dilakukan di bulan Ramadan yang tentunya perlu tenaga ekstra, ditambah lagi perbedaan iklim di Indonesia dan Arab Saudi.
Tetapi membaca berita media hari ini yang menuliskan 58.000 jemaah umroh Republik Indonesia tertahan di Jeddah, hati rasanya turut cemas membayangkan betapa chaosnya suasana bandara. Tak tega membayangkan kecemasan para keluarga yang sanak saudaranya terdampar di negeri orang. Bagaimana dengan persediaan bekal dan finansial jemaah tersebut. Beruntung bila masih punya tabungan dan masih bisa membeli sesuatu di sana.
Dapat dibayangkan semua orang mempunyai persoalan yang sama dan mengalami kebingunan yang sama.
Masih bagus bila ada barang atau makanan yang bisa dibeli. Runyam bila kondisinya berebut karena logistik menipis. Belum lagi bila di antara suasana yang serba tak menentu tersebut juga terdapat anak-anak.
Memanasnya situasi Timur Tengah, membuat negara-negara di sekitar wilayah yang berseteru, menutup pula wilayah udara dan bandara di negara mereka. Antara lain di Iran, Israel, Irak, Yordania, Qatar, Bahrain, Kuwait, dan Uni Emirat Arab. Tak terbayang, puluhan, mungkin bahkan ratusan ribu warga terjebak di bandara, tak bisa melanjutkan perjalanan. Banyak skedul perjalanan yang dibatalkan, puluhan ribu jamaah umroh batal berangkat, atau masih transit di suatu negara, karena maskapai membatalkan perjalanan.
Puasa telah mengajarkan kita untuk menahan nafsu—termasuk nafsu untuk berkuasa dan menindas. Jika para pemimpin dunia mampu menyerap esensi Ramadan, mereka akan menyadari bahwa kemenangan sejati bukanlah saat berhasil menjajah atau mengalahkan bangsa lain, melainkan saat berhasil mengalahkan ego dan ambisi destruktif dalam diri mereka sendiri.
Dunia mendambakan era ketika kebijakan luar negeri sebuah negara besar tidak lagi didasarkan pada intervensi militer atau tekanan politik terhadap negara lain. Harapan agar Amerika Serikat membatasi keterlibatannya dalam urusan internal negara-negara berdaulat adalah kunci menuju stabilitas global.
Harapan di akhir Ramadan, saat lisan basah dengan takbir, mari kita titipkan doa agar tatanan dunia baru yang lebih adil segera tercipta.
Dunia yang damai sejatinya hanya bisa tercapai jika prinsip kesetaraan antarnegara dihormati dan diplomasi dikedepankan di atas pamer kekuatan senjata.
Semoga Idulfitri membawa kemenangan bagi kemanusiaan, dan kedamaian yang kita cita-citakan bukan sekadar mimpi di atas kertas, melainkan kenyataan yang bisa dirasakan oleh seluruh penghuni bumi.
Artikel ini ditulis untuk Challenge Menulis IIDN
Sumber image: Photo by Nothing Ahead: https://www.pexels.com/photo/dice-with-letters-on-a-map-11816424/



