Menulis tiap hari berkat IIDN yang membuat tetap produktif walaupun saat Ramadan. Perkenalan saya dengan IIDN bila tak salah ingat terjadi tahun 2013 dari Facebook Ibu-Ibu Doyan Nulis. Dari seorang teman di komunitas tersebut saya mendapat informasi bahwa akan ada workshop penulisan buku. Workshop penulisan buku ini bernama “Sekolah Perempuan” dan diadakan di rumah Indari Mastuti, founder komunitas IIDN (Ibu-ibu Doyan Nulis) dan IIDB (Ibu-ibu Doyan Bisnis), jalan PLN Dalam-Bandung. Saya tinggal di Bandung, sehingga workshop yang diadakan secara offline ini menjadi kesempatan emas untuk belajar menulis buku solo.
Pengalaman Ikut Workshop Penulisan di Sekolah Perempuan
Saya merupakan peserta Sekolah Perempuan angkatan I, bersama dengan belasan peserta lainnya. Ada yang khusus datang dari luar kota, untuk ikut workshop yang diadakan setiap hari Sabtu, mulai pukul delapan pagi hingga menjelang lohor.
Pelatihan penulisan buku ini diadakan selama tiga bulan dengan target menerbitkan sebuah buku solo.
Sabtu pertama sesi penulisan adalah perkenalan diri, dimulai dengan nama lengkap, nama panggilan, menikah atau single parent, berputra beberapa atau belum. Bekerja atau tidak bekerja.
Lalu tiba pada pertanyaan kunci yang selalu ditanyakan: “Ingin menulis buku tentang apa?”
Teman-teman baru saya, lagi-lagi sebagian besar sudah mempunyai sesuatu yang akan diangkat sebagai tema. Ada tentang Kreasi membuat Boneka, Kreasi Rajutan, Dongeng Anak, Fiksi, Resep Masakan dan lain-lain.
Tibalah giliran saya memperkenalkan diri. Selain alasan saya ikut Kelas Sekolah Perempuan dan tentu saja, saya sampaikan juga bahwa saya tidak punya ide atau tema sama sekali untuk bahan tulisan menjadi buku.
Tak terduga, ternyata ibu Indari Mastuti, mentor saya, punya ide yang sesuai untuk saya, yang termasuk kriteria ibu-ibu yang berusia 50 tahunan. Kira-kira arahannya adalah saya menulis tentang mengarahkan anak-anak membina rumahtangga.
Nampaknya saya diarahkan untuk menulis tema tentang parenting.
Manajemen Waktu Penulisan ala Indari Mastuti
Ternyata semangat menulis, menulis dan menulis tidak semudah yang dikatakan.
Banyak kendala dalam mengatur waktu antara ibu rumah tangga, ibu bekerja di luar rumah dan sebagai pribadi yang kadang-kadang jenuh dengan segala kerutinan.
Saya diajarkan oleh ibu Indari Mastuti, tentang manajemen waktu dan membuat target penulisan per hari.
Pertama saya harus menuliskan komitmen saya, berapa jam per hari yang bisa saya sisihkan untuk menulis.
Ya, berapa jam?
Saya memutar otak, mulai menghitung-hitung dan menyusun dalam tabel, jadwal harian saya, sejak Senin hingga Minggu. Dengan jadwal yang berbeda tiap hari, ternyata saya bisa menyisihkan waktu rata-rata dua jam per hari. Ada beberapa hari dalam seminggu saya bisa duduk di depan laptop di kala siang. Ada pula pada malam hari sesudah waktu makan malam.
Mulailah saya menuliskan komitmen saya pada secarik kertas post-it dan menempelkannya di dinding meja kerja saya.
Apakah langkah saya sudah benar, dengan menempelkan kata mujarab “2 jam per hari” di dinding depan meja kerja?
Waktu itu target kami adalah menulis buku solo, minimal 120 halaman A4, dan diselesaikan dalam waktu 3 bulan.
Maka caranya membuat matrix, untuk memantau progres penulisan. Jadi kalau 120 halaman dibagi 90 hari (3 bulan), sehari bisa dong 1-2 halaman.
Buku solo pertama saya berjudul “Ketika Anakku Siap Menikah” selesai tepat waktu dan melalui Indscript Creative berhasil diterbitkan oleh Elexmedia Komputindo di tahun 2014. Sejak itu saya masih semangat menulis, di blog ataupun menyusun buku, yang beberapa diantaranya melalui Indscript Creative.

Konsisten Menulis

Sejak buku solo pertama diterbitkan, kemudian lanjut membuat blog TLD sama dengan nama pena di haniwidiatmoko.com, menulis sudah menjadi habit atau kebiasaan saya.
Hampir tiada hari tanpa menulis, dan itu saya lakukan dengan konsisten. Mungkin berbeda-beda tiap penulis, ada yang terbiasa setelah shalat shubuh. Ada yang menulis poin-poin dulu di buku catatan sambil menunggu anak sekolah, baru sesudahnya dilanjutkan menulis secara digital.
Ada pula yang langsung menulis di Google Doc walaupun dari HP. Tidak masalah, semua orang punya target dan kebiasan masing-masing. Tidak ada alasan walaupun dengan keterbatasan peralatan yang ada.
Agar tetap konsisten menulis, teman-teman bisa juga menulis secara kolaborasi, ikut antologi, atau menulis buku bunga rampai. Teman-teman yang blogger, bisa banget mengikuti Challenge menulis, atau ikut blogwalking, agar tetap menjaga semangat menulis.
Penutup
Menulis tiap hari di bulan Ramadan ini menjadi momen bagi saya untuk menyelesaikan target-target penulisan selama ini tertunda atau terdistraksi. Jujur, bosan menulis atau writer’s block ya pasti ada. Bisa cari solusi supaya tidak bosan, dengan jeda sebentar, menekuni hobi, ke luar rumah, atau sekadar menyimak link-link Youtube.
Memang sih, di zaman medsos merajalela, kita mudah sekali terdikstraksi. Tanpa sadar kita doomscrolling (scroll medsos tanpa tujuan) sampai berjam-jam.
Asalkan menyadari manajamen waktu, maka kita akan kembali ke kegiatan positif menulis tiap hari untuk menghasilkan tulisan di blog, artikel, maupun sekadar beberapa paragraf untuk buku.
Artikel ini ditulis untuk Challenge Menulis IIDN
Sumber foto: Foto oleh Kampus Production: https://www.pexels.com/id-id/foto/wanita-yang-bekerja-di-laptop-dengan-dokumen-5940721/



Saya juga menulis melalui hp aja Bu
Sejak kenal IIDN dari Facebook waktu saya masih kerja di Taiwan sampai sekarang saya menulis mengandalkan ponsel.
Lebih senang semakin ke sini banyak aplikasi yg bisa dijalankan melalui smartphone jadi ga harus buka laptop atau komputer
kalau sudah terbiasa, tidak menulis justru merasa ada yg kurang ya
Suatu saat saya mau coba cari buku solonya Ibu di Ipusnas ah…