Lompat ke konten

Passion Ngeblog dan Bagaimana Menemukannya

  • oleh
Passion Ngeblog dan Bagaimana Menemukannya

Bagi saya passion adalah sesuatu yang saya cintai, lakukan terus-menerus, dan saya terus berusaha menambah pengetahuan dan kemampuan dalam sesuatu itu. Saya menikmati melakukannya, sukanya dan dukanya. Tidak merasa sayang untuk menginvestasikan apa yang saya miliki untuk sesuatu tersebut seperti waktu, tenaga, pikiran, dan uang.

Salah satu passion yang juga menjadi pekerjaan saya adalah passion ngeblog. Saya menyukai blogging dan merasa sedih kalau tidak bisa ngeblog.

Hampir tiap hari saya mengurusi blog-blog saya. Dan dengan senang hati saya menambah pengetahuan tentang blogging dari kursus online, buku, sesama blogger, artikel, dan lainnya.

Hal yang kita cintai tidak selalu mendatangkan gembira dan bahagia saja, ada juga sedihnya. Saya mengalami konten saya dicuri, blog-blog saya terkena malware, pernah juga tidak ada uang untuk memperpanjang hosting sehingga trafik beberapa lama jadi nol.

Sering juga merasa lelah karena menulis, membangun backlink, menerapkan SEO, berurusan dengan brand. Komentar negatif dari lingkungan sekitar saya juga ada. Tapi saya tidak keberatan dengan itu semua.

Bagaimana Menemukan Passion Kita?

Passion bisa dimiliki oleh siapa saja, tidak harus berupa hal yang luar biasa. Passion bukan hanya milik seniman besar yang mempunyai karya luar biasa. Orang biasa dan berpendidikan formal rendah seperti saya pun bisa memilikinya.

Setiap orang memiliki kesukaan, kebiasaan, pengalaman, pengetahuan, dan kemampuan yang unik. Semua itu adalah bahan untuk ‘menciptakan’ passion. Maka saya percaya dalam diri setiap orang ada hal-hal berharga yang jika dikenali akan bisa menjadi passion.

Bagaimana orang menemukan passion-nya saya tidak tahu dengan pasti. Berdasarkan pengalaman saya sendiri passion bisa ditemukan jika kita mau bereksplorasi. Membuka diri akan membuat kita menyadari bahwa ternyata ada banyak hal yang menarik di luar sana yang tersedia untuk kita.

Dari situ nanti kita bisa jatuh cinta dengan sesuatu, lalu setia menekuninya dan mengasah diri kita akan sesuatu itu.

Kadang yang bisa mengenali passion kita justru orang terdekat. Mereka tahu apa yang membuat kita begitu gembira seolah dari diri kita berbinar cahaya.

Menurut saya passion juga bisa dicari dalam hati kita. Renungkan apa yang kita cintai dan kita ingin membagikannya pada dunia ramai? Passion juga bisa diamati dari tema apa yang jika kita bicarakan kita begitu antusias.

Passion setiap orang adalah unik, bahkan jika tampaknya sama sekalipun misalnya sama-sama suka blogging. Tidak ada passion yang terlalu kecil atau terlalu remeh. Ada yang suka arsitektur, matematika, fisika, melukis, puisi, menyulam, memasak dan banyak lagi dan semua sama berharganya.

Menangani Ketakutan

Ketika kita menemukan passion, dibutuhkan keberanian untuk menyambutnya. Karena ketakutan akan banyak hal bisa jadi penghalang.

  • Takut tidak punya kemampuan.
  • Takut gagal dan nanti jadi malu.
  • Takut dikritik, dicela, dinyinyiri, diejek.
  • Takut tidak bisa konsisten, tidak punya waktu luang.
  • Takut jangan-jangan hanya menyia-nyiakan waktu, tenaga, pikiran, uang.
  • Takut karena merasa terlalu tua atau terlalu muda untuk memulai.
  • Takut belajar hal baru.
  • Takut karena selama ini selalu gagal.

Rasa takut itu kalau dituruti tidak ada habisnya dan bisa semakin membesar. Menuruti rasa takut itu seolah bilang, “Aku memang punya keterbatasan dan tidak akan pernah bisa berubah.”

Saya pikir kita harus berani. Bukan berarti tidak punya rasa takut, tapi mau melakukan hal-hal yang membuat kita takut.

Saya juga orang yang penakut. Bahkan di waktu kecil saya pernah diajak berlibur ke tempat wisata Pantai Alam Indah di Tegal. Melihat air yang begitu banyak, ombak yang terus-menerus datang, saya takut dan panik.

Saya heran dan khawatir kenapa orang-orang begitu santainya. Adik saya dengan gembira bermain di tepi air. Padahal ada banjir!

“Yun, ke sini! Ke sini cepat! Banjir! Banjir!” teriak saya memanggil adik saya.

Saya takut pada banyak hal. Sampai-sampai sahabat saya pun terkejut ketika tahu saya merantau ke Jakarta, tidak menyangka saya bisa seberani itu.

Tapi menuruti rasa takut dengan berlebihan akan sangat membatasi hidup saya. Sering kok saya maju saja melakukan sesuatu meskipun takut, berkeringat dingin dan deg-degan.

Misalnya presentasi pekerjaan di salah satu kantor pemerintahan. Saya grogi, suara saya jadi kecil dan aneh sehingga saya ditertawakan orang. Tapi saya tidak lari sembunyi, saya terus saja presentasi sampai akhirnya menjadi sedikit lebih nyaman dan bicara saya menjadi lebih baik.

Setelahnya merasa malu dong? Iya, tapi saya tidak memelihara rasa malu itu terus-menerus karena apa yang saya lakukan bukan hal yang memalukan.

Saya cari uang dengan cara yang halal untuk nafkah keluarga. Saya tidak menyerah dengan keterbatasan saya. Kalau dalam prosesnya tidak sempurna itu bukan hal yang memalukan.

Perjalanan saya menemukan passion sebagai blogger juga diwarnai oleh ketakutan. Diawali oleh keterbukaan saya pada hal-hal baru.

Awalnya saya mengakrabi komputer untuk sekedar mengetik cerpen dan puisi saya. Kemudian saya mengeksplorasinya lebih lanjut hingga mengenal internet. Lalu saya mengenal blogging yang cocok dengan passion menulis saya.

Tapi dulu saya mengalami:

  • Takut apa yang mau ditulis?
  • Takut tidak ada yang baca blog saya dan tidak ada yang suka tulisan saya.
  • Takut karena saya tidak semahir blogger lain dalam blogging.
  • Takut tidak tahu ilmu blogging.
  • Takut berkomitmen, takut capek.
  • Takut gagal.
  • Dll.

Maka saya ngeblog on dan off. Membuat blog, diisi sebentar, lalu ditelantarkan, begitu seterusnya. Saya tidak berani membuat blog dan merawatnya dengan serius.

Baru di akhir tahun 2019 saya membuat blog bertema kucing dengan domain Fanicat.com. Ada beberapa yang membuat saya akhirnya berani serius ngeblog.

Salah satunya adalah saya siap menjalani suka duka blogging. Jika saya tidak melakukannya sudah pasti saya gagal, jika melakukannya masih ada kemungkinan berhasil. Dan jika saya menundanya maka jarak saya dengan keberhasilan akan semakin jauh.

Kalaupun ternyata gagal juga tidak masalah toh saya bisa memulai lagi. Dan saya tidak memulai dari nol tapi memulai dengan berbekal pengalaman dan pengetahuan.

Saya juga berhenti membandingkan diri saya dengan blogger lain yang sudah mapan dan sukses. Karena setiap orang mempunyai perjalanannya masing-masing.

Passion Memudahkan Kita Untuk Menghasilkan Karya

Betapa tidak, setelah menekuni sesuatu dalam waktu yang lama tentu sedikit banyak tertimbun pengetahuan dalam diri kita. Suatu saat pengetahuan itu bisa kita tuangkan dalam bentuk karya entah buku atau lainnya.

Dalam mengerjakan karya tersebut pun kita dipenuhi gairah dan senang hati. Saya pernah membuat panduan dasar ngeblog untuk trafik dan uang berisi sekitar 35 artikel/pembahasan. Selesai dalam waktu 1-2 bulan karena sebagian besar ilmunya sudah ada di diri saya tinggal dituangkan dan juga karena saya suka membahas hal yang saya sukai.

Bahkan ketika kita menjalani passion di keseharian pun kita seringkali sudah berkarya. Entah dalam bentuk benda atau berbentuk abstrak. Karena passion menuntut adanya sesuatu yang dilakukan.

Namun passion tidak harus membuat kita mengasingkan diri dari kehidupan sehari-hari. Membuat pondok di tepi pantai terpencil dan menulis novel dari fajar hingga malam. Resign dari pekerjaan lalu mengurung diri di rumah menekuni seni ukir.

Sangat bisa kok kita menjalani passion sambil tetap hidup normal seperti biasanya. Banyak yang menekuni passion mereka tapi juga masih tetap nongkrong bareng teman, liburan bersama keluarga, ikut kerja bakti di kampung, dan seterusnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

DMCA.com Protection Status