Lompat ke konten

Pantai Ora, di Pulau Seram, Pantai Indah yang Bikin Betah

Pantai Ora, di Pulau Seram, Pantai Indah yang Bikin Betah

Boleh dibilang wisata ke Pantai Ora, di Pulau Seram, Kabupaten Maluku Tengah bersama teman-teman kuliah ini merupakan sebuah perjuangan tak terlupakan. Rencana untuk berwisata ke sini sudah kami siapkan matang, bahkan tinggal berangkat, harus batal karena pandemi. Waktu itu bulan Maret 2020, seminggu lagi kami berangkat, semua kota, negara di dunia, memberlakukan lock-down karena Covid-19.

Biaya berwisata, akomodasi, dan lain-lain sudah 50% kami bayarkan ke operator di Ambon, yang tidak bisa dikembalikan. Keputusannya hanya reschedule, kapan-kapan. Alhamdulillah-nya, tiket pesawat bisa reimburse, walaupun agak lama masuk ke rekening. Ya, memang waktu itu semua lini kolaps.

Ternyata reschedulenya itu kok ya boleh mundur bertahun-tahun, sampai kami akhirnya berangkat bulan Februari 2023 yang lalu. Total jumlah peserta 13 orang, karena keterbatasan akomodasi di Pantai Ora, Kabupaten Maluku Tengah, tersebut.

Tahap Perjalanan ke Pantai Ora di Pulau Seram

tahap perjalanan ke pantai ora di pulau seram
tahap perjalanan Bandung-Ambon

Awalnya saya keliru, saya kira Ora, itu pulau Ora, ternyata “P”-nya itu sebuah Pantai, yang terletak di utara Pulau Seram. Nah, bagaimana saya bisa mencapai ke sana, yang kata orang seperti Maldives-nya Indonesia, karena lautnya yang sebening air minum, plus cottage-cottage di atas lautnya.

Waktu itu kami ber-13 tersebut, lima orang berangkat dari Bandung. Sedangkan sisanya dari Jakarta. Mau tidak mau, memang kami harus menuju Jakarta, alias ke Bandara Internasional Soerkarno-Hatta, Cengkareng, Tangerang dulu kan.

Itu pun, tiga orang berangkat naik bus Bandara, dari pool Batu Nunggal, Buah Batu, sedangkan dua orang lagi naik mobil travel Cititrans, dari pool Dipati Ukur, Bandung.

Pemberangkatan bus bandara terakhir adalah pukul 17:00, mungkin kebijakan baru usai pandemi, jadi jadwalnya terbatas. Padahal jadwal pesawat Citilink adalah pukul 01:30.
Kami sampai di Bandara menjelang pukul 21:00. Perjalanan cukup lama, karena kami harus menembus kemacetan Jakarta pas jam pulang kantor.

Mudah-mudahan sih Bandara Kertajati, Majalengka jadi dioperasionalkan. Walaupun jarak Bandung-Cengkareng dan Bandung-Kertajati hampir sama, minimal tidak harus menembus kemacetan kayak gini.

Satu demi satu peserta kumpul, check in bagasi, boarding, dan pesawat berangkat ontime pukul 01:30 WIB. Tiba di Bandara Internasional Pattimura, Ambon, tepat pukul 07:00 WIT.

Walaupun hari masih pagi, tapi sudah terang benderang di wilayah Indonesia Bagian Timur ini. Awalnya bandara ini dibangun tahun 1939 oleh Belanda, bernama Lapangan Terbang Laha Ambon, kemudian dikembangkan dan diresmikan sebagai Bandara Internasional Pattimura tahun 2004.
Setelah mengambil bagasi, kami pun melanjutkan perjalanan menuju Pelabuhan Tulehu, di pulau Ambon.

Pelabuhan Kapal Cepat Ambon-Seram

tahap perjalanan ambon ke pantai ora
tahap perjalanan pelabuhan Tulehu-Amahai ke Desa Saleman

Bandara Pattimura, terletak 45 km di barat daya kota Ambon, dan menuju Pelabuhan Tulehu, kira-kira satu jam perjalanan. Sebelumnya mampir dulu untuk mengambil sarapan, yang rencananya kami makan di kapal cepat menuju Pulau Seram.

Indonesia sebagai negara kepulauan, maka sangat bijak bila pemerintah mengembangkan berbagai pelabuhan darat maupun pelabuhan udara sebagai jalur transportasi. Tol laut merupakan konsep pengangkutan logistik kelautan yang dicetuskan oleh Presiden Joko Widodo.

Sejak tahun 2022 ini terdapat 33 trayek tol laut nasional dan 11 trayek tol laut Pelni dari Aceh hingga Papua, yang menghubungkan pelabuhan-pelabuhan besar di Indonesia.

Waktu kami sampai di Pelabuhan Tulehu, hampir menjelang pukul 09.00 dan harus segera naik ke kapal cepat, karena jadwal keberangkatan pukul 09:00, menuju Pelabuhan Amahai, di pulau Seram.

Jadwal sangat ketat, hanya ada dua keberangkatan waktu itu, pagi dan siang pukul 14:00 untuk menjelajahi Selat Seram. Kami harus mengejar jadwal pagi, supaya bisa sampai ke tujuan tidak kemalaman.

Kami sudah diberitahu sejak awal agar pengangkutan koper dan bagasi ke kapal, dikoordinir oleh satu atau dua orang warga setempat yang menjadi kontak person kami. Kuli angkut dan biaya angkut dibandrol saja untuk semua barang dan nanti silakan dibagirata di antara mereka.

Awal 2023 adalah awal orang semua mulai berani berwisata, oleh sebab itu setiap ada orang datang ke tempat wisata, maka kuli di pelabuhan akan seolah “mengeroyok” wisatawan tersebut.

Desain kapal cepat terdiri dari dua lapis dek, yaitu atas dan bawah. Dek atas letaknya di belakang ruang navigasi, mungkin hanya 30-40 an kursi. Sedangkan dek dasar memuat lebih banyak penumpang. Koper-koper diletakkan di ruang di bagian depan.

Nanti pun setelah tiba di pelabuhan tujuan, kami harus menunggu, sampai kuli pelabuhan yang dikoordinir naik ke dek untuk membawa turun koper-koper kami.

para pengangkut koper
siap angkut koper setelah sepakat tarif

Oh ya lupa, koper/ bagasi dibatasi 20 kg oleh Citilink, tetapi karena pertimbangan kami bolak-balik pindah moda transportasi, maka kami memutuskan membawa koper sedang ukuran 20” saja.

Perjalanan dari Tulehu ke Amahai memakan waktu sekitar dua jam, setelah kami sampai di pelabuhan Amahai, berloncatan para pengangkut koper masuk ke dalam kapal melalui ruang kemudi, berjajar rapi menunggu instruksi.

Perjalanan Menuju Desa Saleman

Waktu sudah menunjukkan menjelang pukul 11:30 WIT ketika kami masuk ke dalam dua mobil untuk membawa ke Desa Saleman, Kabupaten Maluku Tengah.
Jadi begini, Pantai Ora tersebut, sering disebut-sebut sebagai surga tersembunyi, yang untuk mencapainya perlu perjuangan.

Pantai Ora terletak di sebuah teluk, yaitu Teluk Sawai, di utara Pulau Seram. Untuk mencapai Pantai Ora tersebut harus menyeberang dengan perahu-perahu mesin tempel dari Desa Saleman.

Nah, untuk mencapai Desa Saleman harus melalui jalan darat berkelok menembus Hutan Lindung Manusela, selama kurang lebih 3 jam. Itu sebabnya kami harus segera cus berangkat, agar sampai ke Pantai Ora minimal sebelum magrib.

Bagi orang pulau Jawa yang jarang lihat laut gini, kan agak gimana gitu nyebrang naik perahu cepat di tengah laut gelap-gelap.

Perjalanan menuju Desa Saleman di beberapa tempat agak tersendat karena longsor dan jalan yang rusak. Di salah satu tikungan kami berhenti sejenak untuk berfoto di batas Negeri Saleman dan di kejauhan tampak teluk Sawai yang akan kami tuju nanti.

negeri saleman, latar belakang hutan manusela
berfoto sejenak di batas Negeri Saleman, latar belakang Hutan Lindung Manusela

Di latar belakang tampak tebing batu pulau Seram, yang kalau dipelajari, struktur geomorfologi pulau Seram merupakan gunung kapur, jadi kalau dilihat dari jauh ya seperti gunung timbul di tengah laut.

Adanya pantai berpasir putih merupakan keunikan tersendiri, apalagi lautnya jernih, di dasarnya tampak terumbu karang dengan ikan-ikan bergerombol berenang-renang.

suasana dermaga di desa saleman sebelum menuju pantai ora

Ora Beach Resort, Pantai Ora

Setelah koper-koper diangkut ke kapal mesin tempel, perjalanan pun dilanjutkan menuju Pantai Ora di Pulau Seram ini. Waktu menunjukkan pukul 14:19 WIT ketika kami berangkat, dan tiba di halaman Ora Beach Resort, sepuluh menit kemudian.

Seluruh anggota rombongan tanpa pikir panjang turun dari perahu, menuju restoran untuk makan siang. Lapar booo. Setelah itu pembagian kamar resort.

Ada cerita tersendiri tentang Ora Beach Resort, Pantai Ora, ini.

pantai ora teman hidup traveloka
foto sebelum cottage laut diterjang badai

cottage darat (tepi pantai)

Di tahun 2020 dulu itu, penampakan Ora Beach Resort adalah seperti yang ada di Instagram. Itu sebabnya kami ngotot nabung, dan reservasi untuk berwisata ke sini. Kamar yang disediakan ada tujuh cottage laut (cottage di atas laut) dan enam cottage darat (cottage di tepi pantai).
Harganya tentu saja berbeda.

Qadarullah, Februari 2022, ombak badai menghancurkan seluruh cottage laut, tersapu ombak dan hilang ditelan laut. Untungnya…untung teroos, tidak ada wisatawan waktu itu. Ada tamu yang menjelang tiba di Pantai Ora, akhirnya membatalkan wisatanya.

Itu sebabnya rombongan kami hanya berjumlah 13 orang, karena hanya tersedia enam (6) cottage, nantinya salah satu cottage diisi oleh tiga orang, tambah 1 ekstra bed.
Sekarang ini sedang tahap pembangunan lagi cottage laut dengan struktur beton dan dilengkapi dengan solar energi untuk kebutuhan listrik di sana.

Penutup

pantai ora, pulau seram, kabupaten maluku tengah
indahnya pantai ora

Itulah perjuangan perjalanan kami terutama geng Bandung, untuk sampai ke Pantai Ora di Pulau Seram. Total perjalanan kami tempuh sekitar 20 jam, sampai akhirnya kami ketemu tempat tidur. LOL… Kebayang sih capeknya, tapi terbayar melihat beningnya air laut yang warna birunya beda-beda gini. Takjub lah!

Maunya langsung jelajah wisata sekitarnya gitu kan…
Tapi demi kesehatan dan stamina sebaiknya memang istirahat dulu sih.
Lanjut artikel berikutnya deh, cerita ngapain saja kami wisata di Pantai Ora, di Pulau Seram ini.

Semoga bermanfaat.

20 tanggapan pada “Pantai Ora, di Pulau Seram, Pantai Indah yang Bikin Betah”

  1. Ah ga sabar pengen tahu kelanjutan ceritanya.
    Semoga setelah pandemi tiada, banyak wisatawan datang lagi Pantai Ora ya. Pembangunan cottage dan pantai serta panel solar semoga bisa menjadi modal tambahan daya tarik pantai yang emang alami dan cantik ini

  2. MasyaAllah.. Perjalanan lama banget tapi pasti perjalanan seru dan pantai eksostis banget nih. Ah.. Jadi penasaran pengen deh langsung datang juga kesana

  3. Woww, perjalanan jauh Bandun – Ambon terbayar dengan suguhan pemandangan yang MasyaAllaah yaa…
    Memang untuk sesuatu yang hiddem gem itu butuh perjuangan untuk mencapainya.
    Saya malah baru tau nama Pantai Ora dari artikel ini.
    Cantiknya, ya…
    Bersih, jernih dan sekelilingnya masih hijau.
    Smoga tetap lestari dan alami seperti ini selamanyaa

  4. Semoga gak diterjang badai lagi ya, cantik pantainya.
    Indah untuk dijadikan destinasi wisata impian. Semoga suatu saat daku bisa ke sana

  5. Penuh lika-liku dan keberuntungan untuk sampai ke Pantai Ora, ya Mba Hani…sudahlah tertunda karena pandemi, akhirnya bisa ke sana juga. Dimudahkan, dilancarakan sampai ke urusan penginapan yang sempat hancur karena ombak badai tapi masih bisa diinapi sisanya oleh rombongan Mba Hani.
    Noted dengan itinerarry-nya, semoga satu hari nanti bisa menjelajahi Pulau Seram juga

  6. I need vitamin-SEA bangettt ngliat keindahan Pantai Ora di Pulau Seram.
    Rasanya perjalanan yang melelahkan jadi terbayar liat warna lautnya yaa..
    Aga serem pas ada badai gituu.. Huhuhu..

  7. Hwaaa, salah satu wishlist saya dulu pengen ke Maluku kak, karena banyak pantai yang indah. Lihat Pantai Ora di Pulau Seram, Kabupaten Maluku Tengah ini jadi membangkitkan keinginan itu kembali. Tjakep banget pantai sama cottagenya

  8. Luar biasa cantiknya Mbak… MasyaAllah, luar biasa sekali. Saya sampai takjub. Perjalanan panjang dan berganti gitu langsung lunas begitu sampai di resort.

  9. MasyaAllah reschedule bisa mundur sampai hitungan tahun.

    Sayang banget kalau cottage laut cakep yang sering muncul di Instagram itu ternyata sudah hilang nggak bersisa karena tersapu ombak. Semoga setelah dibangun dengan struktur beton nanti, jadi jauh lebih menggoda wisatawan untuk datang bertandang. Perjalanan yang panjaaanggg juga ya Mba untuk berhasil menyambangi Pantai Ora ini. Kebayang sih lelahnya. Tapi kuperhatikan lautnya yang masih nampak biru bening, duh betah.

    1. Waaah pernah lihat pantai Ora ini di Tipi, keren banget bisa ke sana. Ternyata perjalanannya lumayan juga yaa.. Tapi terbayarkan begitu sampai pantainya…

  10. Ini Saya belum nyampe sini travelingnya kata teman Saya emang bagus banget view Pantai Ora cuma ya jauhnya itu hehehe,,seneng deh lihat pantai Ora ini masih alami banget

  11. Perjalanan yang melelahkan, namun semua terbayarkan ketika sudah tiba dilokasi. Pantai dan pemandangannya juga indah.

    Kebetulan sebulan yang lalu baru dari ambon. Cukup melelahkan diperjalanan menuju bandara pattimura

  12. Cantik banget pantainya, biota laut pasti masih bahagia berada disana soalnya bersih, semoga daku pun bisa explore pantai Ora juga aamiinn

  13. Pingback: √ Masjid Tua Wapauwe, Jejak Syiar Islam di Tanah Ambon - mulai dari garis

  14. Pingback: √Wisata Sekitar Pantai Ora, Dari Pantai ke Pantai Nan Eksotis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

DMCA.com Protection Status