Lompat ke konten

Merawat Kesehatan Mental Setelah PHK. Ini Tips Menjalaninya

Merawat Kesehatan Mental Setelah PHK. Ini Tips Menjalaninya

Merawat Kesehatan Mental – Beberapa tahun yang lalu, ketika masa pandemi, banyak pekerja yang mengalami pemutusan hubungan kerja atau PHK. Hal itu disebabkan banyak perusahaan yang bangkrut atau harus melakukan efisiensi pada perusahaannya.

Tetapi setelah masa pandemi ini berlalu, ternyata di sana-sini masih masalah PHK masih tetap ada. Alasan utama kali ini adalah resesi ekonomi dunia.

Pemutusan hubungan kerja (PHK) ini akan membuat rasa tidak nyaman, insecure, overthinking, dan lainnya. Bagi karyawan yang terdampak bisa menyebabkan gangguan kesehatan mental yang lambat laun juga berpengaruh pada kesehatan fisik. Kalau sudah begitu, kan bisa mengganggu produktivitas, bukan?

Kesehatan mental adalah kondisi kesejahteraan secara psikologis, emosional, dan sosial seseorang. Aspek ini mencakup bagaimana seseorang merasa, berpikir, dan berperilaku sehari-hari.

Kesehatan mental yang baik memungkinkan seseorang untuk mengatasi tekanan, menjaga hubungan yang sehat, mengelola emosi dengan baik, dan berkontribusi secara positif pada kehidupan sehari-hari.

Kesehatan mental yang baik tidak hanya berarti tidak adanya gangguan mental, tetapi juga melibatkan kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan tantangan kehidupan, memiliki hubungan yang bermakna, dan merasa baik dengan diri sendiri.

Faktor-faktor seperti stres, ketidakseimbangan dalam kehidupan, trauma masa lalu, masalah genetik, dan lingkungan dapat memengaruhi kesehatan mental seseorang.

Merawat kesehatan mental sama pentingnya dengan merawat kesehatan fisik karena keduanya saling terkait dan memengaruhi kualitas hidup seseorang.

pemutusan hubungan kerja
ketika pemutusan hubungan kerja, sumber: cbn.com

Membahas gangguan kesehatan mental bisa amat panjang, karena faktor penyebabnya sangat kompleks. Bisa mulai dari faktor genetik, lingkungan, kesehatan fisik, penyalahgunaan zat psikotropika, hingga perubahan kehidupan.

Salah satu faktor perubahan kehidupan adalah ketika seseorang mengalami pemutusan hubungan kerja. Apalagi yang terkena PHK adalah kepala keluarga, bisa dibayangkan roda kehidupan bisa jungkir balik.

Di satu sisi pendapatan keluarga terhenti, sedangkan di sisi lain, kebutuhan keluarga harus tetap berjalan. Anak-anak tidak bisa berhenti diberi makan, sebisa mungkin tidak berhenti sekolah, mendapatkan perlindungan kesehatan, dan banyak lagi.

Hal ini juga pernah dialami keluarga saya, saat suami mengalami PHK beberapa tahun yang lalu.
Waktu itu bulan Juli ketika perusahaan tiba-tiba dikunci gerbangnya, karyawan tidak boleh ke kantor.

Kami hanya melihat semuanya dari televisi, tidak ada pemberitahuan sebelumnya. Bahkan barang-barang di kantor pun tidak sempat dibawa ke rumah oleh suami.

Ketika itu anak pertama sudah kuliah, sedangkan adiknya pas banget kan bulan Juli juga tahun ajaran baru, mau masuk ke SMA.

Nah, menurut beberapa artikel, pemutusan hubungan kerja juga menjadi pemicu berbagai gangguan kesehatan mental. Hal ini bisa menimbulkan stres, kecemasan, dan perasaan tidak pasti tentang masa depan.

Beberapa gangguan mental yang mungkin timbul akibat pemutusan hubungan kerja termasuk:

Depresi

Kehilangan pekerjaan bisa memicu perasaan sedih yang berkepanjangan, kehilangan minat pada aktivitas sehari-hari, dan perasaan rendah diri yang dapat berkembang menjadi depresi.

Depresi ini bukan hanya berdampak pada kepala keluarga yang mengalami PHK, tetapi juga bisa berdampak pada pasangan dan anak-anak.

Kecemasan

Rasa khawatir yang berlebihan tentang masa depan, keuangan, atau kemampuan untuk mendapatkan pekerjaan baru bisa menyebabkan kecemasan yang signifikan.

Rasa khawatir ini bisa bertambah mengingat seseorang yang terkena PHK di usia tidak muda lagi. Kekhawatiran lain yaitu kemungkinan kalah bersaing dengan pencari kerja yang lebih muda dan mempunyai skill lebih mumpuni.

Stres

Stres yaitu keadaan ketika seseorang mengalami tekanan yang sangat berat, baik secara emosi maupun mental.

Pemutusan hubungan kerja bisa menyebabkan stres yang berdampak pada kesejahteraan secara keseluruhan, baik secara fisik maupun mental.

Efek paling sering terlihat bila terkena stres adalah cepet marah, tidak bisa tidur, nafsu makan berkurang atau sebaliknya.

Ketidakpastian dan Rasa Tidak Aman

Tidak memiliki pekerjaan dapat menciptakan ketidakpastian finansial dan merasa tidak aman dalam hal stabilitas kehidupan. Bukan tidak mungkin hubungan pernikahan pun terganggu akibat PHK.

Gangguan Kesehatan Mental Bertambah Parah

Jika seseorang sudah memiliki gangguan kesehatan mental sebelumnya, pemutusan hubungan kerja bisa memperburuk kondisi tersebut.

Kehilangan Rasa Percaya Diri dan Harga Diri

Identitas seseorang seringkali terkait dengan pekerjaan. Kehilangan pekerjaan bisa menyebabkan perasaan kehilangan diri dan harga diri.

Kehilangan rasa percaya diri bukan hanya terjadi pada seseorang yang kena PHK, bahkan bisa juga terjadi pada seseorang yang sudah waktunya pensiun.

Bila kepala keluarga terkena PHK, maka yang juga terkena dampaknya bukan pada pribadi seseorang tetapi juga pada orang-orang terdekatnya.

Tidak mudah memang menjadi pribadi yang kuat dan siap memberi dukungan pada pasangan.
Dalam hal ini perlu memahami penyebab dari gangguan kesehatan mental dan membantu dalam pencegahan, penanganan, dan pengelolaan kondisi tersebut.

Terapi, dukungan sosial, dan perubahan gaya hidup seringkali menjadi bagian dari pengelolaan yang efektif. Menjaga kesehatan mental penting untuk kesejahteraan secara keseluruhan.

Beberapa tips untuk merawat kesehatan mental bila salah satu anggota keluarga mengalami PHK:

Ubah Gaya Hidup

Pemutusan hubungan kerja, means tidak mendapatkan penghasilan untuk beberapa bulan ke depan bahkan bisa lebih lama lagi.

Beruntung bila perusahaan memberi pesangon pada karyawan yang mengalami PHK, tetapi seringkali juga perusahaan yang dinyatakan pailit tidak dapat memberi pesangon yang wajar.

Bila belum ada tanda-tanda bisa mendapatkan pekerjaan pengganti, berarti hidup akan “mantab” atau makan tabungan.

Walaupun tabungan darurat sudah dipersiapkan sebelumnya, tetap saja, ada pengeluaran yang harus sangat ditekan. Untuk itu perlu harus mengubah gaya hidup bagi seluruh anggota keluarga.

Tetap Aktif dan Produktif

Tetaplah terlibat dalam kegiatan yang memberi makna. Merasa berguna dan produktif bisa meningkatkan perasaan bahagia.

Ketika suami dulu mengalami PHK, setahun sebelumnya sempat mendaftar melanjutkan pendidikan ke pasca sarjana. Sehingga ketika prahara melanda, masih bisa switch menjadi tenaga pengajar honorer di beberapa perguruan tinggi.

Teman-temannya ada yang swith membuka usaha kue kering, membuka kedai makan yang menggunakan ruang depan rumahnya, bahkan jualan sembako.

Pokoknya dapur harus tetap ngebul…

Jangan Ragu Mencari Bantuan

Merawat kesehatan mental memang bukan masalah sepele. Jika merasa kesulitan atau tertekan, jangan ragu untuk mencari bantuan dari profesional seperti psikolog atau terapis.

Bantuan pun bisa dilakukan mandiri dengan banyak-banyak berdoa, memohon pertolongan dan pasrah kepada Yang Maha Kuasa.

Tetap Terhubung dengan Dunia Luar

PHK juga bisa membuat orang minder. Tadinya bisa makan di restoran tiap minggu, kali ini harus sangat ngirit. Makan dengan menu sederhana.

Hindari isolasi diri. Terhubung dengan lingkungan sekitar bisa membantu merasa didukung dan terhubung. Masih menjalin pertemanan akan sangat bermanfaat untuk mencari peluang pekerjaan atau profesi baru.

Tentunya dukungan keluarga tetap yang paling utama, karena bersama merekalah seseorang bisa lebih cepat bangkit dari keterpurukan.

PHK yang dialami suami pada waktu itu adalah PHK massal, sehingga menyadarkan juga bahwa kita tidak sendirian. Bisa jadi kita lebih beruntung dibanding teman-teman seperusahaan yang lain.

Untuk mengatasi dampak pemutusan hubungan kerja pada kesehatan mental, penting untuk mencari dukungan sosial, berbicara dengan profesional kesehatan mental, menjaga pola hidup sehat, dan mungkin mencari bantuan profesional dalam mencari pekerjaan baru atau mengatasi stres dan kecemasan yang timbul.

Semua ini bisa membantu seseorang mengatasi perasaan negatif dan membangun kembali kesehatan mental yang lebih baik.

Seringkali pula waktu yang dibutuhkan untuk bangkit kembali tidak sebentar. Lagi-lagi dukungan keluarga terutama pasangan sangat penting apabila kepala keluarga tiba-tiba kena pemutusan hubungan kerja.

Merawat kesehatan mental adalah perjalanan yang unik bagi setiap individu. Kombinasi dari tips-tips di atas bisa membantu menjaga keseimbangan emosional dan psikologis yang lebih baik.

Semoga bermanfaat.

18 tanggapan pada “Merawat Kesehatan Mental Setelah PHK. Ini Tips Menjalaninya”

  1. Kesehatan mental sebagian orang belakangan ini seperti sedang banyak diuji ya Mba, semenjak pandemi, permasalahan menyelimuti banyak orang kian terlihat, PHK besar-besaran dimana-mana, sehingga pastinya juga mengganggu siklus kehidupan rumah tangga yang awalnya ada pendapatan menjadi berkurang bahkan tidak ada sama sekali, sehingga kesehatan mental pastinya bakal sedikit terganggu, tips mba di atas bermanfaat banget buat bantu pulihin orang-orang yang mengalami kesehatan mental

  2. Setahun setengah lalu saya juga kena PHK. Gak terus meratapi, tetapi bangkit dan mencoba melakukan peruntungan lainnya. Ya jelas harus mulai mengubah gaya hidup juga secara sekarang sudah tidak memiliki penghasilan lagi

  3. Sehat waras atau kesehatan mental memang penting banget, saya hampir pernah ada di posisi PHK. Hampir sebagian dari pekerja dirumahkan dan ada yang dipotong gaji. Saya termasuk yang mengalami keduanya, 25% gaji dipotong.
    Pikiran kacau, tetapi ya fokus dengan solusi aja, mengubah gaya hidup itu yang kami lakukan.
    Tips-tips dia atas juga sebagian saya terapkan lo

  4. Tips di atas sangat membantu, Mba. Kesehatan mental mungkin terlihat sederhana dalam ucapan tapi ketidakseimbangan kesehatannya akan mengakibatkan banyak hal di luar dugaan.

  5. Bener banget Bu Hani, PHK bisa mempengaruhi kesehatan mental. Jadi ingat dulu waktu ngantor, ada isu kantor mau pailit sementara aku masih statusnya kontrak. Memang beda sih sama PHK ya tapi itu aja udah cukup bikin uring-uringan.

    Pernah juga saya nonton film tentang profesi orang yang tugasnya mecatin karyawan, nah itu life changing banget filmnya buat saya yang dulu masih ngantor. Jadi mikir deh untuk tetap semangat dengan mimpi sendiri

  6. Kesehatan mental akibat PHK adalah salah satu yang paling buruk ya..
    Orang merasa ada di titik paling bawah dan pasti untuk bangkit membutuhkan waktu dan dukungan positif dari circle terdekatnya.

    Semoga apapun masalah yang dihadapi, kita berada di circle yang siap menerima dan membantu kita untuk bangkit dan melompat makin tinggi.

  7. Banyak temen-temen saya yang mengalami hal itu sejak pandemi. Bener banget. Butuh support system. Butuh penyesuaian diri. Ubah gaya hidup.

    Saya salut dengan orang-orang survivor ini.

  8. Memang pasti berat jika berada dalam posisi di atas. Terlebih lagi bagi kepala keluarga. Aneka pikiran negatif biasanya ikut menyerang diri di saat-saat seperti itu. Tidak menutup diri terhadap masukan orang lain dan dunia luar sebenarnya bisa jadi salah satu kunci atau jalan keluar. Namun memang melakukannya juga penuh tantangan. Semangat selalu pada pejuang nafkah keluarga.

  9. PHK memang berpotensi menghancurkan mental seseorang, mungkin memang butuh waktu untuk merenung sejenak tapi harus cepat bangkit karena hidup akan terus berlanjut. Ada banyak tuntutan hidup yang harus dipenuhi, apalagi untuk seorang kepala keluarga, tidak bisa berdiam diri terlalu lama.

  10. Dulu waktu suami pernah dirumahkan beberapa bulan karena pandemi juga saya hampir depresi, kalau suami masih tegar. Alhamdulillah ngga sampe harus konsul ke psikolog sih, cukup siraman rohani aja biar waras hehe

  11. Emang wajib nguatin mental kalau tiba-tiba di PHK dan belum ada rencana lain untuk mencari nafkahnya. Karena efek mental ini bisa merembet ke lainnya juga.

  12. Di saat saat seperti ini sangat membutuhkan support dari orang-orang terdekat. Dan yang penting juga jangan gengsi untuk hidup lebih sederhana dan apa adanya..

  13. Aku sepakat banget di poin jangan ragu cari bantuan. Sebab hal ini jarang sekali orang aware kalopun mereka sadar kadang bingung mau minta bantuan kemana.

    Sedih kali.

    Termasuk orang disekitarnya harus peka ya..

  14. siapapun punya peluang mengalami gangguan mental, apalagi orang yang terkena PHK. Jadi sebagai orang terdekat tentu harus memberikan dukungan dan bagi yang merasa sedang tidak baik- baik saja segera untuk mencari bantuan

  15. Bagus banget Mba tipsnya. Menjadi produktif, itu memang ampuh banget sih untuk menjaga kesehatan mental. Apalagi dengan dukungan orang-orang sekitar, akan membuat kita semakin dijauhkan dari sakit mental.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

DMCA.com Protection Status