Lompat ke konten

Menulis Buku Ilmiah Populer Hasil Pengamatan Objek

  • oleh

Kali ini saya akan menulis artikel tentang pengalaman menulis buku ilmiah populer yang merupakan hasil pengamatan objeknya langsung. Pengamatan visual terhadap objek tersebut hanya dilakukan dalam beberapa hari kemudian dituliskan secara penulisan bebas (free writing).
Kegiatan ini saya lakukan ketika menulis buku bunga rampai tentang Masjid Demak.
Awalnya kami mengikuti dulu sebuah workshop tentang penulisan buku, yang pendekatannya merupakan gaya penulisan ilmiah populer.

Bila akan menulis buku seringkali kita kesulitan merangkai kata-kata dan bingung mulai dari mana. Paragraf pertama merupakan kalimat pembuka yang menentukan apakah pembaca akan meneruskan membaca atau bosan lalu tidak melanjutkan membaca.

Bedanya Buku Ilmiah dan Buku Ilmiah Populer

Mendengar kata ‘buku ilmiah’ yang kita bayangkan adalah buku yang serius, penuh tulisan, minim gambar, dan sarat teori. Buku ilmiah ibaratnya buku referensi yang paragrafnya bisa disitasi atau menjadi rujukan artikel-artikel ilmiah.
Bahkan mahasiswa dan dosen menjadikan buku ilmiah sebagai rujukan.
Di dunia pendidikan orang yang bisa menulis buku ilmiah akan mendapatkan penilaian istimewa, karena merupakan hasil riset bertahun-tahun.

Di zaman penyampaian informasi tidak hanya melalui buku dan media cetak, tetapi ada media lain, yaitu berupa visual dan gerak. Maka buku mendapat saingan dan kurang diminati bila bahasanya terlalu berat dan serius.
Itu sebabnya mulai ditulis buku nonfiksi berupa buku ilmiah populer dengan bahasa yang ringan dan mudah dimengerti. Dimensi buku tidak terlalu besar, jumlah halaman pun tidak terlalu tebal, dan disertai gambar agar lebih menarik. Seperti kita ketahui, zaman sekarang orang lebih tertarik dengan visual daripada hanya tulisan saja.

Penggalan Kisah Penulisan Buku ‘Arsitektur Masjid Agung Demak’

Buku ‘Arsitektur Masjid Agung Demak – Menjaga Otentisitas dan Menawarkan Modernitas’ merupakan buku bunga rampai yang ditulis oleh 11 orang kontributor.
Sebagian besar merupakan pengajar di beberapa perguruan tinggi di Indonesia. Bidang keilmuan sebagian besar merupakan ilmu arsitektur dan desain walaupun dengan pendekatan kelompok keilmuan masing-masing.

Di dalam ilmu arsitektur ada beberapa kelompok keilmuan yang bisa menjadi kekuatan penelitian tiap dosen. Ada kelompok keilmuan perancangan, struktur, utilitas, lingkungan, atau sejarah dan teori arsitektur.
Manakala seseorang mengamati suatu objek arsitektur dan mengkajinya dari sudut kelompok keilmuannya, maka akan berbeda hasil tulisan pengamatannya.

Begitu pula yang terjadi, walaupun kami ber-11 mengamati satu objek yang sama, yaitu Masjid Agung Demak.

Daftar Isi Buku ‘Arsitektur Masjid Agung Demak’

halaman belakang buku Masjid Demak

1 – Penjelajahan Kearsitekturan, Sebuah Prolog, Totok Roesmanto
2 – Lawang yang Hilang, Dian Nafi
3 – Rasa Ruang pada Masjid Demak, A.A. Ayu Oka Saraswati
4 – Kenyamanan Termal Arsitektur Masjid, Rosalia Rachma Rihadiani
5 – Masjid Agung Demak dalam Tinjauan Jender dan Teritori, Salmina W Ginting
6 – Adaptasi Elemen Lansekap di Kawasan Masjid Agung Demak Terhadap Konsep Sustainability, Rusfina Widayati
7 – Skala dan Proporsi Masjid Agung Demak, Tri Wahyu Handayani
8 – Lambang Bulus di Masjid Demak, Didit W Suwardikoen
9 – Belajar dari Saka Tatal, Handayani Asriningpuri & Mohhamad Kusyanto
10 – Digitalisasi Arsitektur Demakan, Mohammad Kusyanto
11 – Hibriditas Masjid Agung Demak, Sebuah Epilog, Priyo Pratikno

ISBN: 978-602-451-793-9
Cetakan: Mei 2020
Jumlah halaman: 156
Dimensi: 21×29,7 cm

Penerbit: K-Media, Yogyakarta
Harga: Rp 90.000,-

Penutup

Masjid Agung Demak adalah artefak budaya dan karya arsitektur yang bercerita banyak hal, tentang Islam, tentang senjakal kerajaan Hindu terakhir dan tentang keahlian moyang kita dalam mengonstruksi bangunan.

Ke-11 penulis di atas mencoba menuliskan keistimewaan Masjid Agung Demak tersebut dalam sudut pandang keilmuan masing-masing penulis. Hasilnya adalah sebuah buku ilmiah populer berupa bunga rampai yang berisi teori-teori tentang rasa ruang, bentuk, termal, lansekap, sosio-spasial, simbol, dan media berarsitektur. Masing-masing tulisan menjadi menarik karena setiap penulis mempunyai pemahaman cara memaknai masjid yang unik.

Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

DMCA.com Protection Status