Lompat ke konten

Memahami Gaya Hidup Frugal, Gaya Hidup Apa Adanya

Memahami Gaya Hidup Frugal, Gaya Hidup Apa Adanya

Gaya hidup frugal akhir-akhir ini banyak dibahas sejak adanya pandemi. Ada hikmahnya memang akibat pandemi, orang jadi mikir-mikir mau membeli sesuatu. Beberapa artikel menjelaskan bahwa gaya hidup frugal itu artinya berhemat padahal mampu. Agak berbeda ya, dengan sikap hidup yang harus berhemat dan irit karena memang keuangan lagi mepet.

Gaya Hidup Apa Adanya

Ketika pandemi merebak maka masyarakat disarankan di rumah saja dan tidak mendatangi acara kumpul-kumpul serta bertemu orang lain. Akibat tidak ke luar rumah, maka saya mengajar dari rumah saja. Mengajar melalui zoom atau gmeet membuat saya hanya harus tampil rapi sebatas wajah saja. Saya bisa enak saja memakai baju rumah, training dan kaos lalu memakai kerudung cantik. Sepoles tipis lipstik boleh lah dan kacamata baca.

Sedangkan suami lebih kacau lagi, memakai celana bermuda (celana pendek rumah motif bunga-bunga) dan kemeja garis-garis. Outfit yang tidak mungkin dipakai bila harus mengajar ke kampus.

Selama dua tahun menjalani hidup daring terus-menerus, baju pergi alias baju mengajar ke kampus jarang dipakai. Sebetulnya baju pergi saya juga sudah sedikit, karena kampus membagikan seragam harian sesuai hari-hari tertentu.
Sepatu saya beberapa pasang juga tidak pernah dipakai. Mana ada kan, mengajar daring memakai sepatu. Bahkan kadang ya kaki naik ke kursi (oops…mahasiswa kan tidak lihat ya…).

Banyaknya aktivitas di rumah, ternyata malah jarang beli-beli, karena saya pergi ke mall sejak pandemi, bisa dihitung jari sebelah tangan.
Pola pikir dan gaya hidup apa adanya menjadi kebiasaan. Keuntungannya tidak kemana-mana, tidak ada yang melihat apakah tas saya itu-itu saja, atau kemarin coklat, besok biru.

Memilih Hemat Padahal Mampu

Namanya gaya hidup atau lifestyle artinya kita bisa memilih akan bersikap atau tampil seperti apa. Begitu pula dengan gaya hidup frugal. Gaya hidup ini merupakan pilihan kita ketika merencanakan keuangan dengan cermat. Memilih berhemat, walaupun sebetulnya mampu untuk membeli.

Contohnya seseorang akan pikir-pikir dahulu bila akan membeli sesuatu, memang membutuhkan atau tidak. Kalau hanya ingin, karena mampu membelinya tetapi tidak perlu-perlu amat dan hanya menambah barang di rumah, maka skip, tidak jadi membeli.
Membeli sesuatu hanya memenuhi hasrat ‘ingin’, maka jatuhnya menjadi boros, karena memang barang yang dibeli tersebut tidak perlu-perlu amat.

Gaya Hidup Frugal Bukan Pelit

Orang sering rancu antara hemat dan pelit.
Hemat, secara logika tahu apa yang perlu dibeli, cermat mengatur keuangan, tahu mana prioritas.
Sedangkan kalau pelit bin medit itu tidak mau mengeluarkan uang sama sekali walaupun sebetulnya perlu. Istilahnya mah kalau di sini, papaehan lah…
Paeh (bhs Sunda, mati). Mati-matian gitu, mungkin…

Kira-kira gambarannya begini.
Kalau hemat, sudah punya baju warna biru, tidak perlu beli baju warna biru laut, karena baju warna biru ini masih bagus.
Sedangkan kalau pelit, baju warna birunya sudah bladus bin belel, ada yang bolong ditisik saja, walaupun sebetulnya mampu beli baju biru yang baru. Atau pun kalau akhirnya beli baju biru baru, pilih yang harganya murah-meriah, tidak mementingkan kualitas.

Jadi di sini yang membedakan, antara ‘mampu’ dan ‘tidak mampu’-nya ya. Gambaran fisiknya mungkin, seperti Mark Zuckerberg itulah, siapa yang tidak tahu bos Facebook, sekarang Metaverse. Kaya rayanya kan banget-banget, tapi tampil biasa-biasa saja.
Kalau hemat karena alasan tidak mampu, tidak bisa dikategorikan sebagai gaya hidup frugal.

Gaya Hidup Frugal Sadar Prioritas dan Kualitas

Gaya hidup frugal sebetulnya mampu beli tetapi pikir-pikir dahulu sebelum membeli. Mereka akan mengedepankan prioritas terlebih dahulu sebelum membeli sesuatu.
Banyak juga di antara kaum frugal yang memilih membeli barang agak mahal karena alasan kualitas. Kan ada pepatah, harga engga bohong…

Tentu saja kita juga harus mengerti barang berkualitas itu seperti apa, tidak asal mahal, lho.
Barang berkualitas memang daya tahan lebih lama dan awet, sehingga secara jangka panjang akan lebih hemat. Kita tidak perlu bolak-balik membeli barang yang sama, karena cepat rusak.

Sering juga, walaupun ada diskon atau sale besar-besaran, orang yang memilih gaya hidup frugal, tetap akan menomor-satukan prioritas. Perlu dibeli tidak? Walaupun diskon, tapi tidak perlu beli, ya tidak beli.

Gaya Hidup Frugal Tidak Peduli Gengsi

beli mobil bekas
gaya hidup frugal, tak masalah membeli mobil bekas, walaupun mampu beli mobil baru

Saya punya teman yang senang beli barang bermerek, misalnya tas dan sepatu. Harganya jutaan, belinya pakai kartu kredit. Terus masalahnya di mana?
Masalahnya adalah, dia pinjam kartu kredit teman lain, nanti bayar ke temannya tersebut. Di kemudian hari, ketika akhirnya punya kartu kredit sendiri, bayar kartu kreditnya secara mencicil atau minimum pembayaran.
Teman-teman tahu kan, kalau membayar kartu kredit dengan minimum pembayaran, akan kena bunga berbunga di pembayaran berikutnya. Itu sebabnya, teman saya itu jengkel sendiri, kenapa cicilan kartu kreditnya kok tidak lunas-lunas.

Kaum frugal mempunyai sikap cermat terhadap pengaturan finansialnya. Bisa jadi, tidak ada tuh gaya hidup demi gengsi, dibela-belain berhutang beli barang bermerek padahal dananya tidak ada. Bahkan orang yang memilih gaya hidup frugal tidak masalah membeli barang bekas asal layak pakai.

Ada di antara teman-teman kita yang lebih memilih tidak punya mobil, padahal mampu membelinya. Nah, gaya hidup seperti ini juga termasuk gaya hidup frugal. Menganggap membeli mobil bukan prioritas, karena kemana-mana bisa naik angkutan umum, atau pesan taxi online lewat aplikasi.
Tidak soal dengan tolok ukur orang lain, yang kalau punya mobil pribadi tuh keren. Kalau pun ‘terpaksa’ membeli mobil, gaya hidup frugal akan membeli mobil bekas. Mobil bekas kualitas baik, nilai jual kembalinya tidak sejatuh apabila membeli mobil baru.

Penutup

Seperti telah disinggung di atas, gaya hidup adalah pilihan. Kita bisa memilih gaya hidup minimalis atau sebaliknya gaya hidup hedonis selalu berfoya-foya. Tetapi bisa juga kita memilih gaya hidup frugal, gaya hidup apa adanya, walaupun sebetulnya apa-apa ada.

Banyak artikel yang menuliskan bahwa anak-anak sekarang, milenial dan generasi Z, memilih gaya hidup frugal. Mereka berpikir jauh ke depan, kalau punya dana akan dikelola dengan cermat.
Sekarang ini informasi tentang pengelolaan keuangan pribadi dan keluarga mudah diperoleh. Banyak pilihan dan cara untuk berinvestasi, sehingga sejak mulai bekerja sudah memikirkan kapan akan pensiun. Dengan demikian mereka bisa merdeka finansial di usia amat muda dan bertekad mematahkan generasi sandwich seperti yang dulu dialami orang tua mereka.
Ya kalau soal berbakti menyantuni orang tua sih lain cerita. Boleh-boleh saja itu, sih…

Semoga bermanfaat.

19 tanggapan pada “Memahami Gaya Hidup Frugal, Gaya Hidup Apa Adanya”

  1. Hemat dan pelit kadang beda tipis, eeh. Berusaha lebih hemat 2022 ini dan perbanyak nabung, karena kita gak tahu, siapa tahu ada kebutuhan dadakan.

    Pake credit card emang gampang tapi ngeri bayarnya. Mending gak usah deh, masih takut saya. Jadi ngebayangin temen Mbak Hani yang hobi nyicil itu nanti tumpukan hutangnya seberapa besar?

  2. Pandemi mengajarkan banyak hal…juga seabrek hikmah yang bikin gaya hidup berubah. Saya juga meski belum bisa dikatakan drastis, tapi jadi lebih ke gaya hidup frugal. Tiap mau beli apa mikir panjang, butuh enggak ya, terus dah mau rencana apa, pending dulu karena merasa sayang duitnya, …Jadi ke lebih apa adanya.
    Hm, baru sadar itu namanya gaya hidup frugal

  3. Insyalallah aku sudah menjalankan gaya hidup ini sejak lama. Awalnya mungkin karena kondisi keuangan. Tapi lama kelamaan aku sadar gaya hidup seperti inilah yang paling menenangkan dan bikin hati terasa lapang. Merasa cukup itu perlu biar gak FOMO.

  4. Apakah saya termasuk orang yang menerapkan gaya hidup frugal? Saya baru ganti Hp setelah umurnya 4 tahun dan memang butuh upgrade karena tuntutan pekerjaan. Saya juga jarang beli baju, karena berpikir bahwa baju-baju lama saya masih cukup layak untuk gonta-ganti.

    Saya merasa nyaman dengan tidak ketergantungan pada harbolnas dan semacamnya. Benar-benar beli karena butuh. Saya merasa, gaya hidup seperti ini terasa lebih simpel.

  5. Memang benar Bund, anak muda generasi Z sekarang lebih memilih gaya hidup frugal, karena mereka ingin bebas finasial di usia muda. Ini spserti anak saya sekarang. Usia 15th dia sudah belajar jualan online dan ikut seminar2 bisnis. Dia juga sudah bisa memilih membeli barang sesuai prioritas, apalagi terbiasa hidup di pondok yang serba terbatas, jadi bisa belajar mengelola keuangan dengan lebih baik.

  6. Sejak punya anak malah kayaknya saya udah jaraaaang beli baju, beli skincare. Kalau masih bagus/masih ada nggak akan beli baru. Wkwk. Dulu borosnya ke baju2 anak, sejak pandemi emang udah ngurang2in belanja online juga. Pengen banget ya merdeka finansial di usia muda. Semoga tercapai..

  7. Sejak pandemi, keinginan buat belanja-belanja di mall juga berkurang bahkan keluar rumah pun kalau ngak perlu banget nyaris jarang aku lakukan, kalau bisa online ngapain repot. Berubahnya pola hidup ini aku rasakan berpengaruh juga pada cara mengelola keuangan, sejak pandemi kecuali pengeluaran wajib, kalau ngak penting banget, ya bisa ditunda atau bahkan ngak usah di beli. Konsep Gaya Hidup Frugal aku suka sih.

  8. Menarik sekali ya. Sepertinya saya bukan penganut gaya hidup frugal. Soalnya kalau pas ada duit langsung pengen beli ini beli itu. Tapi semoga kedepannya bisa lebih baik menata hidup.

  9. Haa setuju bangett aku kak.
    Alhamdulillah aku pun udah mulai kayak gini sih. Mikir beribu kalii kalau mau beli baju2 atau kebutuhan yang sbnernya ga penting2 banget hehehe

  10. memang tipis banget ya, mbak perbedaan antara hemat dan pelit. kalau saya memang sukanya beli barang yang harganya murah sih biar kalau rusak nggak nyesal-nyesal amat sama uang yang dikeluarkan. hehe. selain itu jga menyesuaikan sama budget bulanan sih kalau belanja apa-apa itu

  11. Frugal, baru tahu ada istilah inu. Bener banget, hemat bukan berarti pelit. Karena sadar diri, cari uang itu gak instan, butuh langsung dapet. Tapi butuh kerja keras dan usaha di balik itu semua.

  12. Orang yang memiliki gaya hidup frugal ini bisa dibilang sangat menghargai uang ya mbak
    Tahu uang carinya susah, ya harus dihabiskan untuk hal yg bermanfaat saja

  13. Sesungguhnya aku mungkin termasuk gaya hidup frugal kalau kaitannya dengan fashion. Karena kan baju mayoritas warna hitam dan gelap, jadi gak keliatan kalau gak ganti, hihi..
    Hanya saja kalau kaitannya dengan makanan, nah..ini masih PR banget. Termasuk pecinta kepraktisan itu..bikin latte factor banget yaa..

    Tapi aku suka insight nya, kak.
    Selama perlu dan barang tersebut menjadi produktif, maka itu bisa menjadi prioritas ya..

  14. aku baru tau istilah frugal, kalau frontal beda lagi ya mbak hehehe
    sejak pandemi awal-awal dulu, uang yang mau aku pake buat liburan, aku simpen dan ternyata berguna juga di masa pandemi kayak gini
    sampai sekarang diusahakan berhemat dan dikit-dikit invest untuk jaga-jaga

  15. Alhamdulillah banget saya sebelum pandemi juga sudah menerapkan gaya hidup frugal. Mgkin kalau di jepang namanya gaya hidup minimalis kali ya mba? Saya skrng mikirnya mubazir kalau ga kepake.

  16. Sering dengar istilah gaya hidup frugal. Ternyata selama ini pemahaman saya salah karena saya kira ya kek pelit gitu. Dengan menjalani gaya hidup frugal bisa mendukung minimalis lifestyle juga ya, Bu?

  17. Pingback: √ Zero Waste Lifestyle, Gaya Hidup Minim Limbah - lihat di sini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

DMCA.com Protection Status