Lompat ke konten

Belajar Membaca Tanpa Ribet Melalui Buku Komik

Belajar Membaca Tanpa Ribet Melalui Buku Komik

Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog kali ini cukup unik, yaitu Buku Yang Berpengaruh. Saya lalu berpikir keras buku yang mana yang membawa pengaruh pada hidup saya ya…Tadinya hampir skip aja sih, engga ikut tantangan ah…
Dulu ketika SD saya suka sekali membaca buku-bukunya Karl May, buku punya almarhum kakak saya. Belakangan ternyata saya baru tahu, bahwa Karl May tidak pernah berkelana seperti di buku-buku karyanya. Semua adalah rekaannya saja. Lah, kok hebat. Ternyata yang saya anggap hebat tersebut, oleh pemerintah setempat, Karl May malah dijebloskan ke penjara, karena dianggap menipu.

Beranjak remaja saya lebih suka buku-buku novel petualangan dan misteri dibandingkan novel percintaan. Saya tak ingat satu persatu judul buku yang pernah saya baca, saking sekarang jarang baca buku novel maupun buku motivasi. Di grup telegram Mamah Gajah Ngeblog, teman-teman ramai membahas buku ini, buku itu, saya malah telmi aja, buku apa sih itu. Bahkan list buku-buku keren yang ada di laman tantangan Mamah Gajah Ngeblog, hanya kitab suci saja yang saya baca. Duh…

menata rak & hibah buku
hibah buku & menata kembali rak di rumah

Akhir-akhir ini saya malah beres-beres besar-besaran buku-buku di rumah. Buku anak-anak, saya hibahkan atau saya serahkan ke anak-anak mau ditindaklanjuti gimana.
Buku-buku umum, nonfiksi, inspiratif, buku agama, buku arsitektur, buku partitur piano, buku teori musik, kamus-kamus, buku masak, sudah mendarat ke berbagai penjuru.

Kumpulan komik Conan no 1 sd 30 sekian, komik Sailor Moon, bacaan remaja RL. Stine, Lupus yang pengarangnya baru wafat, kumpulan Agatha Cristie, ditampung teman dosen.
Suami malah menghibahkan dua koli besar buku sejarah warisan bapak mertua dalam bahasa Belanda ke sebuah universitas di Malang.
Lucunya, keluarga suami tuh dulu dari Malang pindah ke Bandung. Lah kok ya, buku-bukunya kembali ke Malang. Kalau bukunya bisa cerita…

Saya tuh loh ingin rumah kosong, rapi, rak-rak saya bongkar, karena bukunya sudah engga ada. Itu pun masih ada kok dua dinding berderet buku-buku di rak, isinya buku-buku suami dan saya untuk modal mengajar.
Kemudian ada satu ambal yang isinya buku-buku yang saya tulis atau buku barter dengan teman penulis lain.

buku karya sendiri
sebagian rak buku & buku karya pribadi, sumber: pribadi

Mungkin buku yang berpengaruh dalam keseharian saya adalah buku tentang ngeblog karya Carolina Ratri berjudul Blogging, Have Fun and Get The Money.
Ada nih buku yang saya lirik juga, yaitu buku tentang Decluttering, karena saya ingin beberes rumah yang engga beres-beres.

Pengaruh Buku Komik Memudahkan Belajar Membaca

Nah, ada nih satu rak isinya buku-buku komik.
Komik adalah suatu bentuk seni yang menggunakan gambar-gambar tidak bergerak yang disusun sedemikian rupa sehingga membentuk jalinan cerita. Biasanya, komik dicetak di atas kertas dan dilengkapi dengan teks.

Kalau diingat-ingat lagi, buku-buku komik ini berjasa membuat anak-anak saya belajar membaca tanpa ribet. Kedua anak saya sudah bisa membaca di usia empat tahun.

Dulu saya tak punya metode mengajar membaca untuk anak-anak saya sih. Wong dulu engga ada informasi seperti sekarang berbagai cara mengajar anak membaca. Malah ada yang diajarkan pengenalan dan menghafalkan abjad terlebih dahulu. Abstrak banget ini kan…

Seingat saya, dulu saya mengenalkan membaca langsung melalui suku kata untuk benda-benda yang ada di rumah. Misalnya kata BUKU, saya tulis bu-ku di kertas kecil, lalu tempel di benda/bukunya. PINTU, tulis pin-tu, lalu tempel di pintu. LEMARI, tulis le-ma-ri, lalu tempel di lemari…dst…
Hampir semua benda di rumah saya tempeli kertas-kertas bertuliskan nama benda tersebut.
Baru tahun lalu saya tahu dari adik saya yang psikolog, mengajari membaca anak mulailah dari huruf kecil terlebih dahulu, karena lebih banyak dijumpai daripada huruf kapital.

Anak-anak saya ternyata anak visual. Mereka langsung paham, benda xxxx tulisannya xxxx.

Kebetulan saya dan suami penggemar komik. Kakak saya itu yang punya koleksi buku karangan Karl May, juga punya koleksi komik wayang. Dulu terkenal komikus R.A.Kosasih yang membuat komik wayang mulai dari Mahabarata, Ramayana, dan banyak lagi.
Ternyata toko bukunya ada, toko buku Maranatha di jalan Ciateul, Bandung.
Tapi belakangan cara menggambar R.A.Kosasih berbeda, tekniknya bukan teknik arsir tetapi teknik blok. Mungkin kalau arsir lebih sulit dan lama.
Koleksi buku wayang kakak saya tersebut saya boyong ke Bandung.

koleksi komik
sebagian koleksi komik, sumber: pribadi

Selain itu setiap ke toko buku saya juga membeli aneka komik, misalnya: Tin-tin, Smurf, Lucky Luke, Agen 212, Steven Sterk, Tangui & Laverdure, Asterix, komik kisah Nabi, dan banyak lagi.
Boleh dibilang agak fanatik saya mah, karena beli satu demi satu, lama-lama jadi banyak. Setiap ada kesempatan kumpulan komik-komik tersebut saya bundel rapi di tempat penjilidan.

Karena kegemaran saya dan suami membaca dan koleksi komik, ternyata menular ke anak-anak. Mereka jadinya sejak usia dini pengantar tidurnya adalah dibacakan komik.

Tumul…”

Begitu kata Widi, sulung saya ketika usia dua tahun, minta dibacakan komik Smurf, sambil menyeret komik berwarna merah tersebut.

Ketika mereka mulai belajar membaca, buku komik menjadi pengantar mereka mudah membaca sejak dini.
Kadang-kadang saya temui, Widi, terbahak-bahak sendiri membaca umpatan Kapten Haddock, di komik Tin-tin. Atau terkekeh-kekeh menyimak kepolosan dan keluguan polisi di komik Agen 212.

“Seribujuta topan badai!”…

dari komik Tin-tin

Tadinya mereka membaca balon-balon kata yang ada di komik sambil dieja, kemudian tak lama membaca dengan diam. Kecuali ya terbahak-bahak sendiri kalau ada yang lucu.

umpatan Kapten Haddock
belajar membaca melalui komik, sumber: pribadi

Ketika kami suatu saat ke Kuala Lumpur, kami pun memborong komik karya komikus Malaysia, bernama Lath. Ceritanya unik tentang keseharian keluarga Melayu di sana. Ilustrasinya sederhana dalam bahasa pengantar Melayu.

Penutup

Nah, itulah sebagian buku yang berpengaruh dalam hidup saya dan anak-anak.
Menilik buku apa saja yang berpengaruh pada keluarga, ternyata anak-anak mempunyai genre favorit tersendiri ketika dewasa. Itu sebabnya saya memutuskan menghibahkan banyak sekali buku, karena ketika mereka anak-anak, beranjak remaja, kemudian dewasa, ketertarikannya berbeda. Contohnya komik Sailor Moon itu, dulu anak saya nge-fans banget, sampai punya action figure dan segala pernak pernik sang tokoh “dengan kekuatan bulan menghukummu”. Ternyata dalam perjalanan waktu sang pemilik merasa sudah bukan masanya lagi menyimpan dan menuh-menuhin rumah.

Apalagi zaman berubah, buku cetak sekarang beralih ke e-book.

Ya kan daripada menampung debu di rumah, dihibahkan saja deh, kecuali buku-buku bundel komik yang masih tersimpan rapi di rak, yang engga dihibahkan. Apalagi buku komik sekarang harganya mahal sekali, engga kebeli juga sih. Kenangan kehangatan keluarga tersimpan rapi di deretan komik lama tersebut. Kami dulu bisa tertawa bareng menirukan umpatan Kapten Haddock, gerutuan Smurf Gerutu, atau teriakan “hupa-hupa” dalam komik Marsupilami. Sering juga mempelajari sejarah dan peta Eropa, gara-gara baca komik Asterix.

Semoga bermanfaat.

banner

11 tanggapan pada “Belajar Membaca Tanpa Ribet Melalui Buku Komik”

  1. Wah…samaan kita Bu Hani mengenai cara mengajarkan baca buat anak-anak. Saya pun dulu ngajarinnya dengan menempelkan tulisan di barang-barang. Bahkan sempat ngejualin ke teman-teman tulisan model begitu. Anak-anak jadi bisa baca tanpa merasa belajar.

  2. Wah komik-komiknya bikin inget zaman masih sekolah dulu. Kami berenam kebetulan satu kostan. Semua hobinya baca. Tiap minggu kami berenam pergi ke rental buku. Nah sesampai di kosan nanti kami saling bertukar buku bacaan. Genre kesukaan kami berbeda, jadi pengalaman baca kami bertambah.

    Dulu waktu masih baru bisa membaca, paling suka baca Nirmala di majalah Bobo, dan Bona Gajah kecil. Komik memang membuat belajar membaca tidak menjemukan.

  3. Dulu abah saya waktu belum masuk TK suka sekali membelikan komik. Sambil dibacakan abah sambil mempelajarkan saya agar bisa baca.

  4. Dulu saya juga hobi baca komik tapi gendre dongeng dan hikayat dan anak-anak saya pun suka komik tapi beda genre. Detektif Conan dan Syailormoon adalah pilihannya.
    Musibah kebakaran yg menimpa keluarga saya pada tahun 2015 ada juga hikmahnya karena semua buku-buku lama ikut terbakar, jadi tidak dipusingi lagi dengan barang-barang lama, hihihi.

    1. Aduuh Kak…baru sekarang saya tahu, ada yg ambil hikmah dr musibah kebakaran, yaitu, engga ngurusin buku lama…wkwkwk

  5. tantangan terberat saya setiap decluttering rak buku ada rasa sentimental terhadap bukunya. padahal dibaca berulang juga jarang, hehe. Tapi kalo ngomongin buku yang mempengarhui daily life versi saya apa ya, kalau sekarang buku tentang ikigai mungkin. btw komik versi Teteh dan saya beda ya, saya mah komik nya manga semua, hehe

  6. Kegemaran keluarga dalam membaca buku cukup positif, menularkan aura kebiasaan membaca semenjak dini. Ulasan pengalaman mencintai buku baik komik, atau pun lainnya membawa inspirasi tersendiri menambah khasanah pengetahuan.

  7. Ya ampun teh Hani …
    Ini komik Smurf, Tintin, Conan, juga kesukaan anak-anakku. Teteh pada masanya sudah ada KKPK jadi baca juga itu komiknya.

    Kita samaan nih ya ketika beberes rumah gak beres-beres yang paling melow ketika harus sortir buku hiiikssss …

    salam semangat

  8. Wah teh Hani keren, komiknya versi klasik. Aku mah generasi 80-90an deh. Mungkin kali2 aku coba baca juga komik Tin Tin ya. Lucu juga buat anakku doyan baca

  9. Wow… iya yah. Komik bisa pegang peranan untuk belajar baca, suka baca dan bisa juga menjadi suka menggambar.
    Ada satu anakku yang masih suka komik sampai dia dewasa. Dan itu mengilhami dia untuk jadi komikus.
    Jadinya malah masuk DKV, skripsinya tentang animasi.

  10. Wow Teh Hani, koleksi bukunya beragam dan banyak banget. Sudah bisa buka perpustakaan nih Teh ehehe.
    Alhamdulillah pasti bermanfaat nih hibahan buku-buku tersebut.

    Ehehehe, lucu ya Teh, buku-buku keluarga Teteh yang dari Malang, pindah lagi ke Malang.

    Btw anak saya juga begitu Teh, minat bacanya tumbuh sejak perkenalan pertamanya dengan komik Donal Bebek.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

DMCA.com Protection Status